Gen Z di Lingkungan Toxic: Bertahan Bukan Berarti Menyerah

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Manajemen Pendidikan Islam, guru tk
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Anis Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pukul sebelas malam, Rani masih menatap layar laptopnya. Bukan karena lembur yang dibayar, melainkan karena pesan dari atasannya baru saja masuk di grup WhatsApp: “Besok pagi laporan ini harus sudah di meja saya.” Padahal, Rani baru saja pulang dua jam yang lalu. Ia ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ini sudah di luar jam kerja. Namun kata-kata itu tertelan lagi entah karena takut dianggap tidak loyal, atau karena ia masih butuh pekerjaan ini untuk membayar kontrakan bulan depan. Rani bukan satu-satunya. Ribuan anak muda lain di Indonesia sedang menjalani hal yang sama: bertahan di lingkungan kerja yang perlahan menggerus kesehatan mental mereka.
Fenomena ini bukan sekadar cerita personal. Data dan penelitian menunjukkan bahwa Gen Z di Indonesia menghadapi tekanan yang serius di dunia kerja, dan mereka meresponsnya dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Wajah Lingkungan Toxic yang Sering Tak Terlihat
Lingkungan kerja toxic tidak selalu berupa teriakan atau kekerasan. Sering kali, ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus: beban kerja tidak manusiawi, target tidak realistis, lembur tanpa bayaran, atasan yang gemar merendahkan, hingga budaya kerja yang membuat orang takut untuk bersuara.
Konselor dari komunitas Aku Temanmu, Nurul Amanah, menjelaskan bahwa tekanan dalam lingkungan yang tidak sehat sering muncul secara halus. “Awalnya cuma diajak seru-seruan, tapi makin ke sini makin berisiko. Banyak anak muda akhirnya kebingungan setelah terlanjur masuk ke circle yang tidak sehat,” ujarnya.
Yang lebih berbahaya, lingkungan toxic sering kali dinormalisasi. Lembur dianggap bentuk dedikasi. Ketersediaan 24 jam dianggap loyalitas. Padahal, narasi loyalitas sering kali disalahgunakan untuk membenarkan eksploitasi pekerja muda. Seorang pejabat publik pernah menegaskan dengan keras: “Loyalitas itu penting, tetapi loyalitas bukan berarti pekerja muda harus siap dieksploitasi. Loyalitas tidak boleh menjadi dalih untuk menormalisasi lembur tak berbayar, chat kerja tengah malam tanpa batas, atau beban kerja tiga orang dibebankan kepada satu orang”.
Data yang Berbicara: Gen Z Paling Rentan
Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja toxic lebih banyak dialami oleh Gen Z dibandingkan generasi lain. Sebuah studi menemukan bahwa toxic work environment lebih prevalen di kalangan karyawan Generasi Z, terutama mereka yang bekerja di sektor swasta dan baru bekerja lima tahun atau kurang.
Angka-angka lain juga memprihatinkan. Survei pada 2024 mengungkap bahwa 70 persen karyawan di Indonesia pernah mengalami toxic leadership. Sementara itu, penelitian tentang quiet quitting fenomena karyawan yang tetap bekerja tetapi hanya sebatas tugas utama menemukan bahwa prevalensinya di Indonesia mencapai 67,84 persen, jauh di atas rata-rata global yang sebesar 59 persen.
Di sisi kesehatan mental, data menunjukkan bahwa 40 persen pekerja Gen Z dan 24 persen Milenial berencana meninggalkan pekerjaan mereka dalam dua tahun akibat kelelahan berlebih atau burnout. Survei lain oleh Jakpat pada 2024 bahkan menemukan bahwa 69 persen individu Generasi Z berniat resign dari pekerjaan mereka saat ini.
Tingginya angka-angka ini bukan tanda bahwa Gen Z lemah atau manja. Ia justru menunjukkan bahwa ada sesuatu yang fundamentally wrong dengan cara dunia kerja memperlakukan pekerja mudanya.
Mengapa Gen Z Memilih Bertahan?
Meskipun banyak yang memilih resign, tidak semua Gen Z bisa atau mau meninggalkan pekerjaan mereka. Ada beberapa alasan mengapa mereka tetap bertahan di lingkungan yang tidak sehat.
Pertama, faktor ekonomi. Dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti, memiliki pekerjaan tetap adalah kemewahan tersendiri. Biaya hidup yang terus meningkat, kebutuhan untuk membantu keluarga, atau keinginan untuk menabung membuat banyak Gen Z memilih bertahan meskipun harus mengorbankan kesehatan mental. Seorang pekerja muda berusia 24 tahun mengungkapkan bahwa ia menyadari setiap pekerjaan pasti memiliki sisi baik dan buruk. Baginya, yang penting adalah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sedikit menabung.
Kedua, masih ada yang bisa dipelajari. Sebagian Gen Z memandang bertahan sebagai strategi jangka pendek. Mereka bertahan selama masih ada hal yang bisa dipelajari atau selama pengalaman di tempat itu masih berguna untuk karier ke depan.
Ketiga, rasa takut. Takut dianggap tidak loyal, takut sulit mendapat pekerjaan baru, atau takut kehilangan stabilitas adalah alasan yang sangat manusiawi. Terlebih lagi, stigma terhadap job-hopping masih kuat di banyak perusahaan, meskipun penelitian menunjukkan bahwa berpindah kerja bagi Gen Z sering kali merupakan respons strategis terhadap toxic leadership dan stagnasi karier, bukan tanda ketidakdewasaan.
Cara Gen Z Bertahan: Dari Quiet Quitting hingga Batasan Diri
Bertahan di lingkungan toxic bukan berarti pasrah. Gen Z mengembangkan berbagai strategi untuk melindungi diri mereka, baik secara mental maupun profesional.
Salah satu strategi yang paling menonjol adalah quiet quitting. Fenomena ini sering disalahpahami sebagai sikap malas. Padahal, quiet quitting adalah cara karyawan menjaga batas agar tidak terjebak dalam kelelahan kerja atau burnout. Mereka tetap bekerja sesuai tugas utama, tetapi tidak lagi memberikan usaha ekstra di luar tanggung jawabnya. Ini adalah bentuk perlindungan diri yang sah, terutama ketika lingkungan kerja tidak memberikan timbal balik yang sepadan.
Strategi lain adalah menetapkan batasan diri. Nurul Amanah menekankan pentingnya memiliki batasan tegas untuk melindungi diri dari tekanan yang merugikan. Menolak tidak harus berarti memutus hubungan ia mencontohkan kalimat sederhana yang bisa digunakan: “Aku bukan orang yang seperti itu, tapi aku tetap temenan sama kamu”.
Dalam konteks kerja, batasan bisa berupa tidak membalas pesan kerja di luar jam kerja (kecuali darurat), tidak mengambil pekerjaan yang bukan tanggung jawab, atau berani mengajukan cuti ketika tubuh dan pikiran sudah kelelahan.
Memisahkan identitas diri dari pekerjaan juga menjadi strategi penting. Sebuah studi tentang bagaimana berbagai generasi menghadapi lingkungan kerja toxic menemukan bahwa Gen Z memiliki kecenderungan lebih besar untuk menarik diri atau menghindari situasi toxic dibandingkan Generasi X dan Milenial. Ini bukan kelemahan, melainkan bentuk kearifan: mereka menolak membiarkan pekerjaan mendefinisikan harga diri mereka.
Mencari dukungan sosial adalah kunci lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dari rekan kerja maupun atasan mampu menekan tingkat stres secara signifikan. Bagi Gen Z yang berada di lingkungan toxic, memiliki satu atau dua rekan kerja yang bisa dipercaya bisa menjadi penyelamat. Nurul mengingatkan, “Kamu jangan sendirian ngehadapinnya. Dukungan emosi dari lingkungan terdekat dapat membantu seseorang bertahan pada pilihan yang benar”.
Terakhir, Gen Z juga semakin vokal menyuarakan hak mereka. Media sosial membuka ruang diskusi tentang burnout, toxic workplace, dan eksploitasi kerja. Kesadaran ini membuat mereka lebih berani menuntut perbaikan, baik melalui jalur formal seperti kanal aduan, maupun melalui percakapan terbuka dengan atasan.
Ketika Bertahan Bukan Lagi Pilihan
Meskipun bertahan adalah strategi yang sah, ada kalanya meninggalkan lingkungan toxic adalah keputusan yang lebih bijak. Penelitian menunjukkan bahwa bagi Gen Z, meninggalkan pekerjaan atau berpindah ke departemen lain merupakan strategi yang paling efektif untuk keluar dari situasi mobbing atau perundungan di tempat kerja.
Yang perlu dipahami, resign bukanlah tanda kegagalan. Ia bisa menjadi tindakan penyelamatan diri yang diperlukan. Dalam jangka panjang, bertahan di lingkungan toxic dapat memperburuk kesehatan mental, menurunkan produktivitas, dan bahkan memicu depresi. Kesehatan mental pekerja tidak boleh dianggap urusan pribadi semata. Ketika beban kerja tidak manusiawi, target tidak realistis, lembur tidak dibayar, dan atasan toxic, itu sudah menjadi persoalan tata kelola perusahaan.
Peran Perusahaan dan Masyarakat
Gen Z tidak bisa menanggung beban ini sendirian. Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan manusiawi.
Sebuah supervisor di perusahaan properti di Jakarta mengakui bahwa kondisi mental karyawan memengaruhi performa tim, terlebih mayoritas anak buahnya adalah Gen Z. Menurutnya, persoalan tidak hanya terletak pada target perusahaan, tetapi juga cara perusahaan dan tim menjalankannya. “Target perusahaan tetap penting, tapi kesehatan mental tim juga gak bisa diabaikan. Jadi harus ada balance,” ujarnya.
Perusahaan perlu membangun budaya kerja yang menghargai batasan, memberikan ruang dialog dua arah, dan mengevaluasi beban kerja secara rutin. Pencegahan quiet quitting bisa dimulai dari hal sederhana seperti memperjelas ekspektasi kerja dan memberikan ruang istirahat yang cukup.
Masyarakat juga perlu mengubah cara memandang Gen Z. Generasi ini bukan generasi yang malas atau tidak loyal. Mereka adalah generasi yang menolak mewarisi budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai prestasi dan eksploitasi sebagai loyalitas. Sebagaimana ditegaskan oleh seorang pejabat: “Jangan jadikan anak muda mesin produksi tanpa tombol istirahat. Mereka bukan lembek, mereka hanya menolak diwarisi budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai prestasi dan eksploitasi sebagai loyalitas”.
Kesimpulan
Gen Z yang bertahan di lingkungan toxic adalah gambaran generasi yang tangguh, tetapi juga generasi yang sedang diuji. Mereka bertahan bukan karena lemah, melainkan karena mereka masih berharap ada perubahan. Mereka memilih quiet quitting bukan karena malas, tetapi karena mereka sadar bahwa kesehatan mental lebih berharga daripada loyalitas yang dieksploitasi.
Bertahan bukan berarti menyerah. Ia bisa berarti mengumpulkan kekuatan, mempelajari hal-hal yang berguna, dan menunggu momen yang tepat untuk melangkah. Namun pada akhirnya, tidak ada yang boleh bertahan di lingkungan yang perlahan menghancurkan dirinya. Lingkungan kerja yang sehat bukanlah kemewahan ia adalah hak setiap pekerja, termasuk Gen Z.
Gen Z tidak menolak bekerja keras. Mereka hanya menolak diperlakukan seolah-olah hidup mereka hanya soal pekerjaan. Dan itu bukan kelemahan itu adalah kesadaran yang seharusnya sudah lama dimiliki semua generasi.
