Konten dari Pengguna

Mahasiswa Semester Akhir: Antara Skripsi, Pekerjaan, dan Kelelahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anis Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ai
zoom-in-whitePerbesar
ai

Pukul sepuluh malam, Rian mahasiswa semester delapan jurusan Ilmu Komunikasi baru saja pulang dari tempat kerjanya di sebuah kafe. Tubuhnya lelah, tetapi laptop harus segera dibuka. Bab empat skripsinya belum selesai, dan besok pagi ia harus menghadap dosen pembimbing. Di sela-sela rasa kantuk, ia mengetik pelan, sesekali menatap layar dengan mata setengah tertutup. Besok, ia harus kembali bekerja shift pagi. Skripsi dan pekerjaan, dua dunia yang harus ia jalani bersamaan, tanpa ruang untuk mengeluh.

Rian bukan satu-satunya. Ribuan mahasiswa semester akhir di Indonesia menghadapi realitas serupa: menyelesaikan skripsi sambil bekerja. Mereka bukan hanya berjuang melawan deadline dan revisi, tetapi juga melawan kelelahan, tekanan ekonomi, dan ekspektasi yang datang dari berbagai arah.

Dua Beban yang Harus Dipikul Bersamaan

Menjalani semester akhir seharusnya menjadi momen fokus menyelesaikan studi. Namun bagi banyak mahasiswa, kenyataan berbicara lain. Biaya kuliah yang terus meningkat, kebutuhan hidup yang tak bisa ditunda, dan keinginan untuk mandiri secara finansial membuat mereka harus bekerja. Di sisi lain, skripsi menuntut konsentrasi, waktu, dan energi yang tidak sedikit.

Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Indonesia pernah bekerja sambil kuliah. Sebuah survei pada 2023 menemukan bahwa sekitar 60–70 persen mahasiswa di kota-kota besar memiliki pekerjaan paruh waktu, baik sebagai pekerja lepas, karyawan paruh waktu, maupun wirausaha. Pada semester akhir, tekanan semakin besar karena skripsi menjadi syarat kelulusan yang tidak bisa ditawar.

Bekerja sambil menyelesaikan skripsi bukanlah pilihan yang mudah. Mahasiswa harus pandai membagi waktu antara shift kerja, bimbingan dengan dosen, riset lapangan, dan menulis. Tidak jarang, mereka harus mengambil cuti kerja untuk menghadapi sidang, atau sebaliknya, menunda bimbingan karena tuntutan pekerjaan.

Mengapa Mereka Harus Bekerja?

Alasan mahasiswa semester akhir bekerja sangat beragam. Pertama, faktor ekonomi. Banyak mahasiswa berasal dari keluarga yang tidak mampu membiayai kuliah sepenuhnya. Mereka harus mencari penghasilan tambahan untuk membayar uang semester, membeli buku, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian bahkan menjadi tulang punggung keluarga.

Kedua, pengalaman kerja. Dunia kerja semakin kompetitif. Mahasiswa menyadari bahwa IPK tinggi saja tidak cukup. Pengalaman kerja, jaringan, dan keterampilan praktis menjadi nilai tambah saat mencari pekerjaan setelah lulus. Bekerja sambil kuliah dianggap sebagai cara untuk membangun portofolio sejak dini.

Ketiga, kemandirian. Ada mahasiswa yang ingin mandiri secara finansial, tidak ingin terus bergantung pada orang tua. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa membiayai hidup sendiri, meskipun harus mengorbankan waktu istirahat dan bersosialisasi.

Keempat, tuntutan pekerjaan yang sudah ada. Sebagian mahasiswa sudah bekerja tetap sebelum masuk semester akhir. Mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja karena kontrak atau kebutuhan ekonomi yang mendesak.

Dampak yang Sering Diabaikan

Menjalani dua peran sekaligus membawa konsekuensi serius. Kelelahan fisik dan mental menjadi keluhan utama. Mahasiswa yang bekerja sambil skripsi sering kali tidur kurang dari lima jam sehari. Mereka bangun pagi untuk bekerja, siang hingga sore kuliah atau bimbingan, dan malam digunakan untuk menulis skripsi. Akibatnya, daya tahan tubuh menurun, mudah sakit, dan konsentrasi terganggu.

Stres dan kecemasan juga meningkat. Skripsi sendiri sudah menjadi sumber stres bagi banyak mahasiswa. Ketika harus dibarengi dengan pekerjaan, tekanan menjadi berlipat. Rasa takut tidak lulus tepat waktu, takut kehilangan pekerjaan, dan takut mengecewakan orang tua menjadi beban psikologis yang berat.

Penelitian tentang kesehatan mental mahasiswa menunjukkan bahwa mereka yang bekerja sambil kuliah memiliki risiko lebih tinggi mengalami burnout, depresi, dan gangguan tidur. Sebuah studi pada 2022 menemukan bahwa 40 persen mahasiswa semester akhir melaporkan gejala kecemasan yang signifikan, dan angka itu lebih tinggi pada mereka yang juga bekerja.

Penurunan kualitas skripsi juga menjadi risiko. Karena waktu dan energi terbatas, mahasiswa cenderung mengerjakan skripsi secara terburu-buru, minim eksplorasi, dan kurang mendalam. Padahal, skripsi adalah karya akademik yang seharusnya menjadi puncak pembelajaran mereka.

Hubungan sosial pun ikut terdampak. Waktu untuk berkumpul dengan teman, keluarga, atau pasangan menjadi sangat terbatas. Banyak mahasiswa merasa terisolasi dan kesepian, meskipun mereka dikelilingi orang setiap hari.

Kisah dari Mereka yang Bertahan

Rian, mahasiswa Ilmu Komunikasi, mengaku sudah bekerja di kafe sejak semester enam. Awalnya hanya untuk membantu biaya kuliah, tetapi kini ia harus bekerja lebih banyak karena orang tuanya sakit. “Saya sering nangis di kamar mandi kafe karena capek. Tapi mau gimana lagi? Skripsi harus selesai, kerjaan juga nggak bisa ditinggal,” ujarnya.

Sari, mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, memilih menjadi guru les privat agar jadwalnya lebih fleksibel. Ia mengajar tiga hingga empat jam sehari, lalu malamnya menulis skripsi. “Yang paling berat itu ketika dosen minta revisi cepat, tapi saya masih harus ngajar. Kadang saya merasa bersalah ke murid, kadang juga merasa bersalah ke dosen. Rasanya nggak pernah cukup,” ceritanya.

Bima, mahasiswa Teknik Informatika, sudah bekerja penuh waktu di sebuah startup sejak semester tujuh. Ia mengambil kelas malam dan menulis skripsi di sela-sela pekerjaan. “Saya tidur empat jam sehari. Kopi sudah seperti air minum. Tapi saya sadar, kalau nggak begini, saya nggak bisa lulus dan nggak punya pengalaman kerja,” katanya.

Tantangan Struktural yang Perlu Dibenahi

Persoalan mahasiswa semester akhir yang bekerja bukan semata masalah manajemen waktu pribadi. Ada faktor struktural yang membuat situasi ini semakin sulit.

Pertama, biaya pendidikan yang tinggi. Meskipun ada beasiswa, tidak semua mahasiswa mendapatkannya. Banyak yang harus membayar uang kuliah tunggal (UKT) yang tidak murah, ditambah biaya hidup yang terus naik. Pekerjaan menjadi jalan keluar yang tak terhindarkan.

Kedua, kurangnya fleksibilitas di kampus. Jadwal bimbingan yang kaku, ruang baca yang terbatas, dan minimnya layanan konseling membuat mahasiswa yang bekerja semakin sulit menyesuaikan diri. Kampus seharusnya menjadi rumah kedua yang mendukung, bukan menambah beban.

Ketiga, budaya kerja yang eksploitatif. Banyak tempat kerja tidak memahami kondisi mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Mereka tetap dituntut bekerja seperti karyawan penuh waktu, tanpa toleransi untuk ujian atau sidang. Jam kerja yang panjang dan lembur tanpa bayaran memperparah kondisi.

Keempat, stigma dan ekspektasi sosial. Mahasiswa yang tidak lulus tepat waktu sering dianggap malas atau gagal. Padahal, banyak dari mereka bekerja keras di dua front sekaligus. Stigma ini membuat mereka enggan bercerita, meminta bantuan, atau mencari dukungan.

Strategi Bertahan yang Bisa Dilakukan

Meskipun berat, banyak mahasiswa yang berhasil melewati fase ini. Mereka mengembangkan strategi untuk menjaga keseimbangan.

Manajemen waktu yang ketat. Membuat jadwal harian dan mingguan, menetapkan prioritas, dan memanfaatkan waktu luang secara maksimal. Teknik pomodoro, time blocking, dan to-do list sederhana bisa membantu.

Komunikasi yang terbuka. Berbicara dengan dosen pembimbing tentang kondisi kerja, meminta kelonggaran waktu jika memungkinkan. Berbicara dengan atasan tentang jadwal ujian atau sidang, meminta izin atau penyesuaian shift.

Menjaga kesehatan fisik dan mental. Tidur cukup (meskipun sulit), makan bergizi, olahraga ringan, dan meluangkan waktu untuk istirahat. Jangan ragu mencari bantuan psikolog atau konselor kampus jika merasa kewalahan.

Membangun dukungan sosial. Bergabung dengan komunitas mahasiswa akhir, berbagi cerita dengan teman senasib, atau meminta dukungan keluarga. Tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.

Mengambil jeda jika perlu. Jika memungkinkan, mengambil cuti akademik satu semester untuk menyelesaikan skripsi atau mengumpulkan dana bisa menjadi pilihan bijak. Tidak ada salahnya memperpanjang waktu demi hasil yang lebih baik.

Peran Kampus dan Perusahaan

Kampus dan perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi mahasiswa yang bekerja.

Kampus dapat menyediakan:

· Jadwal bimbingan yang lebih fleksibel, termasuk konsultasi daring.

· Layanan konseling dan kesehatan mental yang mudah diakses.

· Program mentoring untuk mahasiswa akhir.

· Beasiswa atau bantuan finansial bagi yang membutuhkan.

· Ruang belajar yang nyaman dan akses internet yang memadai.

Perusahaan dapat:

· Memberikan toleransi waktu untuk ujian atau sidang skripsi.

· Menyediakan jadwal kerja yang fleksibel bagi mahasiswa.

· Memahami bahwa mahasiswa bukan karyawan penuh waktu.

· Menciptakan budaya kerja yang tidak eksploitatif.

Kesimpulan

Mahasiswa semester akhir yang bekerja sambil menyelesaikan skripsi adalah potret generasi yang tangguh, tetapi juga generasi yang sedang diuji. Mereka bukan hanya berjuang untuk gelar, tetapi juga untuk masa depan yang lebih baik. Mereka bukan malas, melainkan sedang berusaha bertahan di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah.

Namun, ketangguhan bukan berarti harus menanggung semuanya sendirian. Kampus, perusahaan, keluarga, dan masyarakat perlu hadir untuk memberikan dukungan. Karena pada akhirnya, kesuksesan seorang mahasiswa bukan hanya tanggung jawab pribadinya, tetapi juga tanggung jawab kolektif kita semua.

Di balik setiap toga yang dikenakan, ada keringat, air mata, dan malam-malam panjang yang tak terlihat. Mari hargai perjuangan mereka, bukan hanya hasil akhirnya.