Konten dari Pengguna

Menjadi Rakyat Indonesia Harus Ikhlas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anis Septiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ai
zoom-in-whitePerbesar
ai

Pagi-pagi sekali, Pak Slamet sudah mendorong gerobak dagangannya ke pasar. Harga cabai naik lagi, kata pedagang di sebelahnya. Harga beras ikut naik. Tapi harga dagangannya tidak bisa dinaikkan terlalu banyak nanti pembeli kabur. "Ya sudah, ikhlasin aja," katanya sambil tersenyum tipis. Kalimat itu bukan pertama kali ia ucapkan. Sudah bertahun-tahun ia belajar mengikhlaskan banyak hal: harga yang naik, pungli yang tak pernah hilang, janji politik yang datang setiap lima tahun lalu pergi tanpa jejak.

Kalimat "ikhlasin aja" seakan menjadi mantra sehari-hari rakyat Indonesia. Bukan karena mereka pasrah, tetapi karena sering kali tidak ada pilihan lain. Dari urusan sembako hingga urusan birokrasi, dari jalan berlubang hingga layanan publik yang berbelit, rakyat diajarkan untuk tabah, sabar, dan menerima. Pertanyaannya: sampai kapan?

Ikhlas yang Terpaksa, Bukan Ikhlas yang Sadar

Dalam ajaran agama, ikhlas adalah sikap mulia menerima segala ketentuan dengan hati lapang, tanpa dendam dan tanpa protes. Tetapi ada perbedaan besar antara ikhlas karena kesadaran spiritual dan ikhlas karena tidak ada pilihan lain.

Yang pertama lahir dari kedewasaan jiwa. Yang kedua lahir dari kelelahan struktural. Ketika rakyat mengeluh tentang harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, lalu dijawab dengan "yang penting syukur" atau "banyak yang lebih susah," itu bukan lagi nasihat spiritual itu adalah cara halus untuk membungkam keluhan yang sah.

Padahal, mengeluh bukan berarti tidak bersyukur. Menuntut perbaikan bukan berarti tidak ikhlas. Rakyat yang kritis adalah rakyat yang peduli. Dan negara yang sehat adalah negara yang mendengarkan keluhan warganya, bukan yang mengajarkan mereka untuk diam.

Daftar Panjang Hal yang Harus Diikhlasikan

Coba kita daftar apa saja yang setiap hari harus diikhlasikan oleh rakyat Indonesia:

Pertama, harga yang naik tanpa penjelasan. Harga cabai, bawang, telur, dan minyak goreng naik turun seperti roller coaster. Ketika ditanya, jawabannya selalu klasik: "karena inflasi," "karena cuaca," "karena distribusi". Rakyat hanya bisa menghela napas dan menyesuaikan porsi makan.

Kedua, layanan publik yang tidak ramah. Mengurus KTP, akta kelahiran, atau izin usaha masih sering kali membutuhkan waktu, tenaga, dan kadang biaya tambahan yang tidak resmi. Rakyat yang tidak punya kenalan atau uang lebih harus rela bolak-balik, menunggu berjam-jam, dan pulang dengan tangan kosong.

Ketiga, janji politik yang datang dan pergi. Setiap lima tahun, spanduk dan baliho bertebaran menjanjikan perubahan. Tapi setelah pemilu usai, banyak janji menguap begitu saja. Rakyat kembali menunggu, berharap, lalu kecewa. Dan siklus itu berulang.

Keempat, infrastruktur yang tidak merata. Jalan rusak di daerah, jembatan yang ambruk, sekolah yang kekurangan guru, puskesmas yang kehabisan obat semua ini harus diikhlasikan oleh mereka yang tinggal jauh dari pusat kekuasaan.

Kelima, ketidakadilan yang terus terjadi. Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Itu bukan sekadar ungkapan, tetapi realitas yang dirasakan banyak orang. Ketika kasus besar mandek sementara kasus kecil diproses cepat, rakyat hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata, "ya sudah, itu bukan urusan kita."

Mengapa Rakyat Tetap Bertahan?

Pertanyaan yang sering muncul: mengapa rakyat Indonesia tetap bertahan meskipun menghadapi begitu banyak ketidaknyamanan? Jawabannya bukan karena mereka bodoh atau tidak peduli. Ada beberapa alasan yang sangat manusiawi.

Pertama, ikatan keluarga dan komunitas. Bagi banyak orang Indonesia, hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Ada anak yang harus disekolahkan, ada orang tua yang harus dirawat, ada tetangga yang menjadi sandaran. Bertahan adalah bentuk tanggung jawab, bukan kelemahan.

Kedua, budaya gotong royong dan kekeluargaan. Nilai-nilai ini membuat rakyat Indonesia memiliki jaringan sosial yang kuat. Ketika satu keluarga kesulitan, ada keluarga lain yang membantu. Ketika satu kampung kena musibah, yang lain berbondong-bondong datang. Solidaritas ini menjadi penyangga yang tidak dimiliki banyak negara lain.

Ketiga, harapan yang tidak pernah benar-benar mati. Meskipun sering kecewa, rakyat Indonesia selalu percaya bahwa suatu hari keadaan akan membaik. Harapan ini mungkin naif, tapi ia adalah bahan bakar yang membuat orang tetap bangun pagi dan bekerja.

Keempat, ketabahan yang sudah menjadi karakter. Rakyat Indonesia adalah salah satu bangsa yang paling tabah di dunia. Mereka telah melewati kolonialisme, krisis ekonomi, bencana alam, dan pandemi. Setiap kali, mereka bangkit. Ketabahan ini bukan berarti mereka tidak boleh mengeluh justru karena tabah, mereka berhak didengar.

Ikhlas Bukan Berarti Diam

Ada perbedaan penting antara menerima kenyataan dan membiarkan ketidakadilan. Ikhlas bukan berarti menyerah pada keadaan. Ikhlas bukan berarti berhenti berjuang.

Justru, orang yang benar-benar ikhlas adalah orang yang sudah melakukan segala upaya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Ia tidak diam saja sambil berharap keajaiban. Ia berusaha, ia bersuara, ia menuntut haknya, tetapi ia tidak membiarkan kebencian menggerogoti hatinya.

Rakyat Indonesia perlu belajar bahwa menuntut perbaikan bukanlah dosa. Menyuarakan ketidakadilan bukanlah bentuk kedurhakaan. Mengkritik pemerintah bukanlah tindakan makar. Semua itu adalah bagian dari demokrasi yang sehat.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Jika kita ingin keluar dari budaya "ikhlasin aja" yang pasif, ada beberapa hal yang bisa dilakukan bersama:

Pertama, literasi politik yang lebih baik. Rakyat perlu memahami hak-haknya sebagai warga negara, bukan hanya kewajibannya. Pendidikan politik bukan hanya soal memilih, tetapi juga soal mengawasi dan menuntut pertanggungjawaban.

Kedua, penguatan suara kolektif. Individu mungkin tidak didengar, tetapi komunitas bisa. Serikat pekerja, organisasi masyarakat, dan kelompok warga bisa menjadi saluran aspirasi yang efektif.

Ketiga, pemanfaatan teknologi secara positif. Media sosial bisa menjadi alat untuk mengawasi kebijakan publik, melaporkan pelanggaran, dan mengorganisir gerakan sosial. Tapi tentu saja, harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.

Keempat, dukungan terhadap transparansi dan akuntabilitas. Setiap rupiah uang negara harus dipertanggungjawabkan. Rakyat berhak tahu ke mana pajak mereka pergi dan bagaimana anggaran digunakan.

Kelima, menjaga harapan tanpa kehilangan kewaspadaan. Percaya bahwa perubahan mungkin terjadi, tetapi tetap kritis terhadap setiap kebijakan. Tidak sinis, tetapi juga tidak naif.

Kesimpulan

Menjadi rakyat Indonesia memang membutuhkan ketabahan yang luar biasa. Setiap hari, ada saja hal yang harus diikhlasikan: harga yang naik, layanan yang berbelit, janji yang tak ditepati. Tapi ikhlas bukan berarti pasrah tanpa batas. Ikhlas bukan berarti diam ketika hak-hak dilanggar.

Rakyat Indonesia bukan hanya dikenal karena kesabarannya, tetapi juga karena kemampuannya bangkit dari keterpurukan. Kita telah melalui banyak hal bersama sebagai bangsa. Dan kita akan terus melaluinya. Tetapi sudah saatnya bangsa ini belajar untuk lebih baik dalam mendengarkan rakyatnya, bukan hanya mengajarkan mereka untuk bersabar.

Ikhlas itu indah. Tetapi keadilan jauh lebih indah. Dan rakyat Indonesia berhak mendapatkan keduanya bukan hanya salah satu.