Museum di Indonesia: Mati Pelan-Pelan di Tengah Riuhnya Konten Digital

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari anis fahdina sa'ida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya nggak tahu pasti kapan terakhir kali orang-orang mau ke museum tanpa disuruh guru atau disuruh dosen. Saya sendiri terakhir ke museum bukan karena ingin, tapi karena kewajiban kuliah. Bukan karena tempatnya buruk, tapi karena jujur saja… membosankan.
Dan saya tidak suka harus mengakuinya, Karena saya suka sejarah. Tapi rasa suka saya itu mati pelan-pelan tiap kali masuk museum yang penuh debu, pencahayaan minim, informasi yang ditulis panjang kayak kutipan skripsi, dan maaf petugas yang seolah hadir hanya untuk jaga meja, bukan menyambut cerita.
Museum kita ketinggalan zaman. Bukan soal teknologinya saja, tapi soal cara bercerita. Sejarah dipajang seperti benda mati, bukan narasi yang hidup dan dekat dengan hari ini. Padahal, sejarah bisa digali dari hal sesederhana kursi kayu, dari sendok tentara, dari surat cinta di zaman penjajahan. Tapi semuanya dibekukan jadi etalase yang diam dan dingin.
Di sisi lain, TikTok bisa bikin sejarah jadi trending. Konten video 1 menit soal tragedi 65 atau cerita masa Orde Baru bisa ditonton jutaan orang. Lalu saya bertanya: kenapa konten sejarah bisa hidup di TikTok tapi mati di museum?
Jawabannya bukan cuma soal teknologi, tapi soal niat dan cara mendekatkan. Kita terlalu lama menganggap museum sebagai tempat formal. Padahal, museum bisa jadi tempat nongkrong, bisa jadi tempat healing, dan juga bisa jadi tempat anak muda mengenal jati dirinya tanpa harus diceramahi.
Museum harus berani direbut kembali dari kesan kuno. Harus berani dilawan cara kerjanya yang usang. Harus ada keberanian dari pemangku kebijakan untuk membuatnya jadi relevan. Dan kita sebagai generasi sekarang juga harus berhenti menganggap museum itu cuma tempat foto-foto estetik.
Karena kalau terus begini, museum akan tetap ada, tapi tanpa makna. Ia akan hidup sebagai bangunan, tapi mati sebagai rumah kenangan. Dan itu lebih tragis dari sekadar kosong pengunjung.
Saya menulis ini bukan karena saya tidak suka museum. Justru karena saya ingin ia bangkit, karena sejarah tidak akan pernah menarik kalau hanya disimpan. Ia harus dihidupkan. Diceritakan. Didekati. Dengan cara yang manusiawi, bukan kaku dan berjarak.
