Konten dari Pengguna

Jogja Tidak Selalu Istimewa

Anisa Indah Kusumasari

Anisa Indah Kusumasari

Mahasiswa/Pelajar Universitas Padjadjaran

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisa Indah Kusumasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana di Jalan Pasar Kembang, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Jalan Pasar Kembang, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Siapa sangka di balik slogannya yang selalu melekat erat, dan pandangan publik bagaimana melihat Jogja yang terdedikasi sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya dapat menutup sisi buruk yang ada. Munculnya banyak permasalah sosial beriringan dengan berkembangnya jumlah objek wisata. Berbagai wisata yang dapat di kunjungi mulai dari wisata kuliner, wisata budaya, dan bahkan banyak juga wisata-wisata baru yang mulai dibuka. Namun, tidak jarang diketahui bahwa di Jogja terdapat juga wisata malam atau bisa dibilang dengan wisata prostitusi. Tentunya sudah tidak asing lagi kan dengan kata prostitusi. Prostitusi merupakan suatu kegiatan pertukaran hubungan seks dengan uang. Ada beberapa tempat di titik Kota Jogja yang digunakan untuk melakukan kegiatan ini, di antaranya Sarkem (Pasar Kembang) dan wisata malam pantai selatan (Parangkusumo).

Sudah pasti bagi warga Jogja dan sekitarnya sudah tidak asing lagi dengan Sarkem, Pasar Kembang. Tempat ini sudah beroperasi sejak lama. Salah satu narasumber di channel youtube Paradoks, beliau merupakan mantan preman yang dulu beroperasi untuk mengamankan wilayah Pasar Kembang. Beliau menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini memang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Dijelaskan juga yang menjadi salah satu alasan awal mula adanya kegiatan ini yaitu ketika ada proyek pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan oleh Jendral Daendels dan juga pembangunan rel kereta api di beberapa wilayah Indonesia, di mana pekerja yang datang dari Belanda tanpa membawa pasangan atau istri, dan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya mereka membeli atau “jajan” dengan orang pribumi. Oleh sebab itu kebanyakan kegiatan prostitusi ada di sepanjang jalur perkereta-apian.

Sarkem sendiri terletak di barat Malioboro dan dekat dengan stasiun Tugu Yogyakarta. Dikarenakan letaknya yang di tengah kota dan mudah dijangkau membuat Sarkem selalu ramai pengunjung. Tentunya ada alasan pribadi mengapa pengunjung lebih memilih untuk berwisata malam ke Sarkem daripada menikmati indahnya Malioboro di malam hari.

Sebagian dari kita pasti sering bertanya-tanya mengenai wanita pelaku PSK, kenapa sih mereka memilih jadi PSK? Kan uangnya ngga halal. Apa mereka ngga mikirin orang tuanya? Kok ngga peduli sih sama harga dirinya? Terus kalo punya anak dan anaknya tahu gimana? Emang dibayar berapa kok mau? Apa ngga takut dosa? Udah tau salah kok masih dilakuin sih. Emang gaada suami ya? Kan kerja yang lain juga bisa. Cari uang kok maunya instan. Gak malu emangnya sama keluarga besar? Terus tetangganya emang gak nyinyirin kalo sering pergi malem pulang pagi?

Nah mungkin, jika kita melihat dari sudut pandang si pelaku PSK, akan sedikit membukakan pintu pengetahuan kita mengenai beberapa alasan kenapa mereka terjun di dunia malam ini, dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan dari banyak orang. Tidak lain dan tidak bukan wawancara langsung dengan pelaku PSK di channel youtube Paradoks menjelasakan beberapa alasan mereka, yaitu di antaranya karena kebutuhan ekonomi yang mendesak dan tidak tahu lagi harus kerja di mana untuk mencukupi semuanya. Namun, narasumber itu juga mengatakan bahwa apa yang dia lakukan memang salah, dan selalu memperingatkan untuk jangan sekali-kali mencicipi dunia malam ini. Mengenai masalah keluarga, dia sebutkan bahwa orang rumah tidak mengetahui jika dia bekerja seperti ini.

“Ya bapak ibu, taunya saya cuman kerja, pergi, pulang bawa uang, bisa bantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Udah gitu aja Mas.” Kata dari salah satu narasumber. Namun, disisi lain dia juga menyesali perbuatannya, tetapi tidak bisa berhenti. “Saya juga nyesel Mas kerja kaya gini, saya juga tahu kalau ini salah tapi ya mau gimana lagi, kebutuhan terus nambah, sementara di keluarga yang kerja cuma saya, kalo saya berhenti mau dapat uang darimana Mas.” Dia juga sangat tidak peduli dengan apa pun omongan yang dikatakan banyak orang. “Kalo saya sih gak peduli omongan orang yang penting anak saya bisa makan, kenyang.” Lalu ia lanjut dengan memberi wejangan, “Pokoknya tolong buat perempuan di luar sana, jangan sampe terjun di dunia gelap kaya gini , takutnya kalo udah masuk, susah buat berhentinya. Saya aja berusaha mau berhenti masak kalian mau masuk sih, jangan deh”

Namun, tidak jarang kita juga menemukan pelaku PSK yang masih remaja, dan salah satu alasan mereka terjun yaitu karena hobi. Hobi melakukan yang tidak seharusnya untuk dilakukan. “Ya hobi aja sih Mas, kan juga dapet uang biar bisa beli apa yang aku mau, ngejar gengsi juga sih soalnya.” Kata dari salah satu narasumber lain. Tentu hal ini tidak bisa dibenarkan.

Dari alasan yang sudah dijelaskan dapat ditarik garis besar bahwa kebanyakan orang terjun di dunia prostitusi ini karena alasan kebutuhan ekonomi. Hal itu juga menjadi salah satu alasan pemerintah Kota Yogyakarta tidak membubarkan atau menghancurkan kawasan Sarkem, karena berlandaskan alasan ekonomi dan tentunya pihak pemerintah kurang memiliki solusi untuk menghentikan kegiatan ini, dalam artian apabila kegiatan ini disetop pemerintah juga tidak akan membiayai hidup dari si pelaku PSK ini, dan memahami sulitnya mencari lowongan pekerjaan. Namun, bukan berarti pemerintah Kota Jogja mendukung adanya kegiatan prostitusi ini, mereka juga sering mengadakan patroli di kawasan Pasar Kembang.

Penulis menulis ini dengan tujuan untuk tidak membenarkan adanya kegiatan prostitusi, tetapi penulis juga khawatir apabila kasus seperti ini tidak ditangani dengan tepat, takutnya akan semakin banyak orang yang terjun dalam dunia malam ini. Apalagi anak muda yang terus mengejar gengsi dengan menghalalkan segala cara. Tidak hanya dari pihak pemerintah, penulis juga berharap ada tindakan preventif dari diri kita sendiri untuk tidak masuk dalam kegiatan ini apa pun keadaan yang sedang kita alami. Disisi lain penulis juga berharap untuk masyarakat umum agar tidak merendahkan orang yang telanjur terjun menjadi PSK, bukan berarti pekerjaan mereka kotor kita bisa seenaknya memperlakukan mereka tanpa memperdulikan perasaannya. Karena kita sama, manusia.