Kredit Tumbuh Kencang, Bagaimana Bank Menjaga Likuiditas?

Saya seorang Mahasiswi di Kampus Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Anisa Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perbankan punya peran penting dalam perekonomian Indonesia lewat fungsi intermediasi, yaitu menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Fungsi ini hanya berjalan sehat jika pertumbuhan kredit diimbangi ketersediaan sumber dana. Di sinilah tantangan perbankan nasional pada 2026: kredit melaju kencang, sementara likuiditas harus tetap terjaga.
Kredit Tumbuh Lebih Cepat daripada DPK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pada Juni 2026 kredit perbankan tumbuh 12,67 persen secara tahunan (year on year), sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,21 persen. Pada Juli 2026, pertumbuhan kredit naik menjadi 13,58 persen dengan total penyaluran Rp9.135 triliun. DPK juga ikut menguat sebesar 11,21 persen menjadi Rp10.336 triliun.
Artinya, kredit masih tumbuh sekitar dua poin persentase lebih cepat daripada DPK. Rasio kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio/LDR) naik tipis menjadi 88,38 persen pada Juli 2026 dari 88,32 persen pada bulan sebelumnya. Meski begitu, OJK menilai likuiditas industri masih memadai. Rasio alat likuid terhadap DPK berada di level 23,1 persen, sedangkan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 187,5 persen.
Mengapa Likuiditas Begitu Penting
Bank harus selalu siap memenuhi penarikan dana nasabah, sekaligus tetap mampu menyalurkan kredit baru. Karena itu, di tengah pertumbuhan kredit yang tinggi, bank perlu mengoptimalkan sumber pendanaan, menjaga kecukupan aset likuid, dan memperhatikan kualitas kredit yang disalurkan.
Suku Bunga dan Ketidakpastian Global
Perubahan suku bunga acuan memengaruhi biaya dana bank, bunga simpanan, hingga bunga kredit yang ditawarkan kepada masyarakat. Ketidakpastian ekonomi global juga dapat memengaruhi pasar keuangan dan nilai tukar. Karena itu, bank perlu fleksibel dalam mengelola likuiditas. Pengelolaan dana bank tidak hanya ditentukan kondisi internal, tetapi juga perubahan ekonomi dan kebijakan moneter.
Strategi Menjaga Keseimbangan
Ada beberapa strategi yang dapat ditempuh bank. Pertama, memperkuat penghimpunan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA), yaitu giro dan tabungan, yang biaya dananya relatif lebih rendah. Kedua, mengoptimalkan aset likuid dan memanfaatkan instrumen pasar uang untuk kebutuhan pendanaan jangka pendek. Ketiga, menyalurkan kredit secara selektif dengan mempertimbangkan kemampuan debitur dan risiko kredit.
Digitalisasi Mengubah Cara Bank Menghimpun Dana
Layanan perbankan digital memungkinkan bank menjangkau nasabah lebih luas lewat aplikasi dan produk simpanan digital, seperti tabungan dan deposito. Persaingan yang ketat mendorong bank menawarkan layanan yang mudah diakses serta produk yang kompetitif. Namun, dana yang terkumpul lewat kanal digital tetap harus dikelola secara produktif dan disalurkan ke sektor yang membutuhkan.
Peran Bank Indonesia dan OJK
Bank Indonesia dan OJK memiliki peran penting lewat kebijakan moneter, kebijakan makroprudensial, dan pengawasan perbankan. Salah satu kebijakan Bank Indonesia untuk mendorong penyaluran kredit adalah Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), yakni insentif bagi bank yang menyalurkan kredit atau pembiayaan ke sektor prioritas. Sementara itu, OJK mengawasi likuiditas, permodalan, dan kualitas aset bank agar intermediasi tetap berjalan sehat.
Kredit Tumbuh, Kualitas Tetap Utama
Pertumbuhan kredit dua digit tentu kabar baik bagi perekonomian. Namun, yang menentukan keberlanjutannya adalah kualitas kredit dan kecukupan likuiditas, bukan sekadar besarnya angka. Selama DPK ikut tumbuh, aset likuid terjaga, dan penyaluran kredit dilakukan selektif, ekspansi bisa berjalan tanpa mengorbankan stabilitas. Yang perlu terus dicermati adalah jarak antara pertumbuhan kredit dan DPK, karena jika terus melebar, tekanan likuiditas bisa muncul.
Oleh:
Mahasiswi Universitas Pamulang Prodi Manajemen.
