Konten dari Pengguna

Generasi Muda dan Literasi Keuangan Syariah: Sudahkah Kita Memahami Cara Mengelola Uang?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisa Nurrahmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

EKONOMI SYARIAH • GENERASI MUDA • LITERASI KEUANGAN

Pernah tidak, kita merasa uang yang baru diterima ternyata sudah habis sebelum akhir bulan? Padahal, rasanya belum banyak membeli sesuatu. Mulai dari membeli makanan, nongkrong bersama teman, mengikuti tren fashion, hingga berbelanja melalui aplikasi online, semuanya bisa menjadi bagian dari pengeluaran sehari-hari. Tanpa disadari, kebiasaan kecil tersebut dapat membuat pengeluaran semakin besar apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang baik.

Ilustrasi literasi keuangan. (Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi literasi keuangan. (Freepik)

Kondisi seperti ini cukup dekat dengan kehidupan generasi muda, khususnya mahasiswa dan Generasi Z. Di tengah perkembangan teknologi, berbagai aktivitas keuangan sekarang bisa dilakukan dengan mudah melalui smartphone. Membayar makanan, berbelanja, menabung, bahkan mengakses layanan keuangan dapat dilakukan hanya dalam beberapa menit.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan. Tidak semua orang yang terbiasa menggunakan layanan keuangan digital sudah memahami cara mengelola uang dengan baik. Padahal, kemampuan mengatur keuangan sangat penting agar seseorang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga dapat mempersiapkan kebutuhan di masa depan.

Salah satu hal yang perlu mulai diperhatikan oleh generasi muda adalah literasi keuangan syariah. Literasi ini bukan hanya membahas bank syariah atau larangan riba, tetapi juga mengajarkan bagaimana memperoleh, mengelola, dan menggunakan uang sesuai dengan prinsip Islam.

Lalu, sebenarnya seberapa penting literasi keuangan syariah bagi generasi muda?

Bagaimana Kondisi Literasi Keuangan Syariah di Indonesia?

Untuk memahami pentingnya literasi keuangan, kita bisa melihat hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan hasil survei tersebut, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Sementara itu, indeks literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,42 persen dan indeks inklusi keuangan syariah sebesar 13,41 persen dengan metode keberlanjutan.

Data tersebut menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah masih perlu ditingkatkan. Menariknya, hasil survei tersebut juga memperlihatkan bahwa tingkat pemahaman dan penggunaan layanan keuangan syariah masih memiliki perbedaan.

Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, kelompok umur 18–25 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 73,26 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kelompok usia muda memiliki tingkat literasi keuangan yang cukup baik secara umum. Namun, angka tersebut bukan angka khusus literasi keuangan syariah untuk kelompok usia muda.

Selain itu, Bank Indonesia melalui Survei Nasional Literasi Ekonomi Syariah Tahun 2025 mencatat indeks literasi ekonomi syariah sebesar 50,18 persen. Survei tersebut melibatkan 4.266 responden di 18 provinsi yang merepresentasikan sekitar 90 persen populasi muslim Indonesia.

Dari data tersebut, kita dapat melihat bahwa pemahaman mengenai keuangan syariah masih perlu terus diperkuat. Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui istilah ekonomi syariah, tetapi juga perlu memahami bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Generasi Muda Perlu Belajar Mengelola Uang?

Saat ini, generasi muda hidup di lingkungan yang sangat dekat dengan aktivitas digital. Berbagai promosi produk, tren belanja, dan penawaran layanan keuangan dapat ditemukan dengan mudah melalui media sosial.

Tidak jarang seseorang membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena tertarik dengan diskon, mengikuti tren, atau melihat orang lain menggunakan produk tersebut.

Contohnya, seorang mahasiswa mendapatkan uang bulanan dari orang tua. Seharusnya uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan kuliah, makan, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Namun, karena terlalu sering melihat promosi belanja online, sebagian uang justru digunakan untuk membeli barang yang sebenarnya belum diperlukan.

Hal seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi apabila terus dilakukan dapat membuat seseorang kesulitan mengatur keuangannya sendiri.

Di sinilah pentingnya literasi keuangan. Generasi muda perlu belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat anggaran, menyisihkan uang untuk tabungan, serta mempertimbangkan risiko sebelum menggunakan layanan keuangan tertentu.

Dalam ekonomi syariah, pengelolaan uang juga tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi. Ada nilai tanggung jawab, kejujuran, keadilan, dan kebermanfaatan yang harus diperhatikan.

Mengelola Keuangan Menurut Prinsip Ekonomi Syariah

Islam sebenarnya sudah memberikan pedoman mengenai bagaimana manusia menggunakan hartanya. Salah satunya terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 26–27 yang mengingatkan manusia agar tidak menghambur-hamburkan harta.

Selain itu, dalam Surah Al-Furqan ayat 67 dijelaskan bahwa orang-orang yang membelanjakan hartanya tidak berlebihan dan tidak pula kikir, melainkan berada di antara keduanya.

Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam mengelola keuangan. Bukan berarti kita tidak boleh membeli barang yang disukai atau menikmati hasil kerja, tetapi pengeluaran tetap harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

Ada beberapa prinsip ekonomi syariah yang bisa mulai diterapkan oleh generasi muda.

Pertama, memperoleh uang dengan cara yang halal.

Dalam Islam, sumber penghasilan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Uang yang diperoleh sebaiknya berasal dari pekerjaan atau kegiatan usaha yang halal dan tidak merugikan orang lain. Bagi mahasiswa, prinsip ini dapat diterapkan dengan membiasakan diri bersikap jujur dalam bekerja, berbisnis, maupun menjalankan usaha kecil-kecilan.

Kedua, menghindari riba, gharar, dan maisir.

Ketiga hal ini penting untuk dipahami sebelum menggunakan layanan keuangan. Riba berkaitan dengan tambahan yang dilarang dalam transaksi tertentu, gharar berkaitan dengan ketidakjelasan berlebihan dalam akad, sedangkan maisir berkaitan dengan perjudian atau spekulasi yang dilarang. Dengan memahami prinsip tersebut, generasi muda dapat lebih berhati-hati dalam memilih produk keuangan.

Ketiga, tidak berlebihan dalam menggunakan uang.

Islam mengajarkan sikap sederhana atau wasathiyah. Artinya, kita perlu mampu mengatur pengeluaran dan tidak memaksakan gaya hidup di luar kemampuan. Membeli barang yang sedang tren bukanlah suatu keharusan apabila kebutuhan utama belum terpenuhi.

Keempat, membiasakan menabung dan membuat perencanaan keuangan.

Menabung tidak harus menunggu memiliki penghasilan besar. Mahasiswa yang mendapatkan uang bulanan juga bisa mulai menyisihkan sebagian uangnya sesuai kemampuan. Kebiasaan ini dapat membantu mempersiapkan kebutuhan mendadak maupun kebutuhan di masa depan.

Kelima, memiliki kepedulian terhadap sesama.

Ekonomi syariah tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang mengelola uang untuk dirinya sendiri, tetapi juga mengajarkan pentingnya berbagi. Zakat, infak, dan sedekah merupakan bentuk kepedulian sosial yang dapat membantu orang lain dan memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Tantangan Generasi Muda dalam Mengelola Keuangan

Meskipun informasi mengenai keuangan sudah mudah ditemukan, bukan berarti semua generasi muda mampu menerapkannya dengan baik. Ada beberapa tantangan yang sering dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya adalah gaya hidup yang dipengaruhi media sosial. Saat melihat teman atau orang lain menggunakan barang tertentu, terkadang muncul keinginan untuk memiliki barang yang sama. Jika tidak bisa mengendalikan keinginan tersebut, seseorang dapat mengeluarkan uang hanya untuk mengikuti tren.

Tantangan berikutnya adalah kemudahan transaksi digital. Penggunaan dompet digital dan marketplace memang membantu aktivitas sehari-hari. Namun, transaksi yang terlalu mudah terkadang membuat seseorang kurang memperhatikan jumlah uang yang sudah dikeluarkan.

Selain itu, masih banyak informasi keuangan yang perlu dipahami secara kritis. Misalnya, tawaran investasi dengan keuntungan besar, layanan pinjaman digital, atau produk keuangan yang belum dipahami akad dan risikonya. Generasi muda sebaiknya tidak mudah percaya pada informasi yang beredar tanpa memeriksa sumbernya terlebih dahulu.

Karena itu, belajar mengelola keuangan bukan hanya tentang bagaimana menyimpan uang, tetapi juga bagaimana mengambil keputusan yang tepat sebelum menggunakan uang tersebut.

Langkah Sederhana Mengelola Keuangan bagi Mahasiswa

Belajar mengatur keuangan sebenarnya tidak harus dimulai dengan cara yang rumit. Kita bisa memulainya dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pertama, biasakan mencatat pemasukan dan pengeluaran. Dengan mencatat setiap transaksi, kita bisa mengetahui ke mana uang digunakan dan bagian mana yang perlu dikurangi.

Kedua, buatlah prioritas kebutuhan. Pisahkan uang untuk kebutuhan kuliah, makan, transportasi, tabungan, dan keperluan lainnya sebelum menggunakannya untuk hiburan atau belanja.

Ketiga, jangan mudah tergoda diskon. Harga murah belum tentu berarti hemat apabila barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan.

Keempat, pelajari produk keuangan syariah sebelum menggunakannya. Pahami akad, biaya, ketentuan, hak, kewajiban, serta risiko yang mungkin muncul.

Kelima, sisihkan sebagian uang untuk berbagi sesuai kemampuan. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat belajar bahwa uang bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Kebiasaan sederhana tersebut bisa menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk lebih mandiri dalam mengelola keuangan.

Peran Kampus dan Lingkungan dalam Meningkatkan Literasi Keuangan Syariah

Meningkatkan literasi keuangan syariah bukan hanya tanggung jawab individu. Lingkungan keluarga, kampus, dan lembaga keuangan juga memiliki peran penting.

Perguruan tinggi dapat menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan melalui seminar, diskusi, pelatihan, maupun kegiatan edukasi ekonomi syariah. Materi tersebut akan lebih mudah dipahami apabila dikaitkan dengan kondisi yang sering dialami mahasiswa.

Selain itu, keluarga juga dapat membiasakan anak untuk memahami pentingnya mengatur uang sejak dini. Sementara itu, lembaga keuangan syariah perlu memberikan edukasi yang sederhana dan mudah dipahami, terutama mengenai produk, akad, serta risiko layanan yang ditawarkan.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, literasi keuangan syariah diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengelola Uang dengan Bijak adalah Bekal Masa Depan

Pada akhirnya, literasi keuangan syariah merupakan hal penting yang perlu dipahami oleh generasi muda. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, kemampuan mengatur uang menjadi bekal agar seseorang tidak mudah terjebak dalam perilaku konsumtif maupun keputusan keuangan yang kurang tepat.

Ekonomi syariah mengajarkan bahwa uang bukan hanya untuk dibelanjakan, tetapi juga harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Mulai dari memperoleh penghasilan secara halal, menghindari riba, tidak berlebihan dalam berbelanja, hingga membiasakan diri berbagi kepada sesama.

Sebagai mahasiswa dan bagian dari generasi muda, kita perlu mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak sekarang. Tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk belajar menabung atau membuat perencanaan keuangan.

Karena pada dasarnya, kemampuan mengelola uang bukan diukur dari seberapa banyak uang yang kita miliki, tetapi dari seberapa bijak kita menggunakannya. Dengan menerapkan prinsip ekonomi syariah, generasi muda diharapkan tidak hanya mampu mencapai kesejahteraan secara finansial, tetapi juga mendapatkan kebermanfaatan dan keberkahan dalam kehidupannya.