Konten dari Pengguna

Pakai Botol Bekas, Mahasiswa K3 Edukasi Siswa SD Hadapi Banjir — Hasilnya?

Anisa Sitanggang

Anisa Sitanggang

Mahasiswa D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Politeknik Ketenagakerjaan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisa Sitanggang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa K3 Polteknaker Gelar Edukasi Banjir Interaktif untuk Siswa SD di Daerah Jakarta Utara

Siswa kelas V-B SDN Rawa Badak Selatan 03 mengikuti sesi praktikum simulasi banjir yang dipandu mahasiswa D-IV K3 Politeknik Ketenagakerjaan, Senin (11/5/2026).
zoom-in-whitePerbesar
Siswa kelas V-B SDN Rawa Badak Selatan 03 mengikuti sesi praktikum simulasi banjir yang dipandu mahasiswa D-IV K3 Politeknik Ketenagakerjaan, Senin (11/5/2026).

Sebuah botol bekas, beberapa genggam sampah plastik, dan air yang mengalir — bahan-bahan sederhana itu ternyata cukup untuk mengubah cara siswa kelas 5 SDN Rawa Badak Selatan 03 memandang banjir.

Pada Senin, 11 Mei 2026, lima mahasiswa Program Studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Politeknik Ketenagakerjaan menggelar program edukasi di sekolah yang berlokasi di Jl. Kemudi No. 1, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Bukan seminar biasa. Ini adalah Project Based Learning (PjBL) bertema "Edukasi Banjir: Solusi dan Peran Kebersihan Sekolah" — bagian dari tugas Mata Kuliah Sistem Informasi K3 di bawah bimbingan Ibu Yusnita Handayani, S.K.M., M.A.

Mengapa Harus SDN Rawa Badak Selatan 03?

Sebelum kegiatan, kelompok yang terdiri dari Zenida Bachtiar Rozaqi, Anisa Sitanggang, Ardelia Putri Dewintasari, Anggi Habiba Salsabila Sibuea, dan Salman Aji Maulana Karepesina terlebih dahulu melakukan Preliminary Hazard Analysis (PHA) di lingkungan sekolah.

Hasilnya menunjukkan beberapa kondisi yang perlu diperhatikan: selokan yang mudah tersumbat sampah dan genangan air di koridor dan halaman. Mengingat lokasi sekolah berada di kawasan Jakarta Utara yang memang rawan banjir, pemilihan tempat ini dirasa tepat.

Isi kegiatannya

Setelah pre-test via Kahoot!, sesi dibuka dengan pemaparan materi: video animasi proses terjadinya banjir, penjelasan faktor-faktor penyebabnya — dari curah hujan tinggi, penggundulan hutan, hingga sampah yang menyumbat drainase — serta tanda-tanda awal banjir yang perlu dikenali.

Sesi praktikum menjadi bagian yang paling dinantikan. Di lapangan sekolah yang teduh, 32 siswa kelas V-B diajak menjalani empat simulasi berturut-turut.

Mahasiswa K3 Polteknaker mendampingi siswa kelas V-B dalam sesi praktikum simulasi banjir di halaman SDN Rawa Badak Selatan 03, Koja, Jakarta Utara (11/5/2026).

Simulasi pertama: Dua botol bekas dipotong bagian atasnya — satu diisi sampah anorganik, satu dibiarkan kosong — lalu keduanya dialiri air sekaligus. Siswa langsung melihat, bukan sekadar mendengar, bagaimana sampah di saluran air menjadi biang kerok banjir.

Mahasiswa K3 Polteknaker menjelaskan perbedaan air bersih dan air tercemar akibat banjir kepada siswa kelas V-B SDN Rawa Badak Selatan 03, Koja, Jakarta Utara (11/5/2026).

Simulasi kedua: Dua botol berisi air bersih dan air kotor dibandingkan di depan mata. Risiko nyata air banjir terhadap kesehatan — dari gatal-gatal, flu, hingga penyakit kulit — dijelaskan dengan bahasa yang mudah dicerna anak SD.

Mahasiswa K3 Polteknaker mendemonstrasikan simulasi peran vegetasi dalam menyerap air kepada siswa kelas V-B SDN Rawa Badak Selatan 03, Koja, Jakarta Utara (11/5/2026).

Simulasi ketiga: Dua media tanah, satu ditanami vegetasi dan satu tidak, disiram air bersamaan. Hasilnya berbicara sendiri: tanah bervegetasi menyerap lebih banyak air, mengurangi limpasan permukaan, dan memperkecil risiko banjir.

Mahasiswi K3 Polteknaker menyampaikan materi tanggap darurat banjir dan simulasi penyusunan tas darurat di dalam kelas V-B SDN Rawa Badak Selatan 03, Koja, Jakarta Utara (11/5/2026).

Simulasi keempat: Kembali ke kelas, siswa diperkenalkan dengan poster tanggap darurat banjir, lalu langsung diajak mempraktikkan penyusunan tas darurat — dari memilih barang penting hingga menghafal nomor layanan darurat yang perlu diingat.

Hasilnya?

Sebelum kegiatan dimulai, siswa mengerjakan pre-test lewat Kahoot! — platform kuis berbasis gamifikasi yang langsung memancing antusiasme. Setelah semua sesi tuntas, post-test dengan soal identik kembali digelar. Dari 28 siswa yang mengikuti evaluasi, hasilnya yaitu:

  • Rata-rata pre-test: 6,07

  • Rata-rata post-test: 7,71

  • Peningkatan: +1,64 poin (27%)

  • Nilai N-Gain: 0,42 (kategori Sedang, sesuai kriteria Hake 1999)

  • 21 dari 28 siswa (75%) mengalami peningkatan pemahaman

Nilai N-Gain 0,42 memang masuk kategori sedang. Namun perlu diingat — ini adalah pertama kalinya siswa-siswa tersebut mendapatkan edukasi kebencanaan berbasis praktikum langsung.

Lima siswa mengalami penurunan, yang kemungkinan dipengaruhi kondisi kelas yang cukup ramai dan kurang fokus saat pengerjaan tes — sehingga menjadi catatan perbaikan untuk kegiatan serupa ke depannya.

Mahasiswa K3 Polteknaker menyerahkan hadiah kepada siswa berprestasi dalam kegiatan edukasi banjir di SDN Rawa Badak Selatan 03, Koja, Jakarta Utara (11/5/2026).

Kegiatan ditutup dengan pemberian hadiah kepada siswa yang memiliki nilai tertinggi pada pre-test maupun post-test dan siswa paling aktif. Lalu ditutup dengan sesi dokumentasi bersama siswa kelas V-B.

Kelompok 5 mahasiswa K3 Polteknaker bersama dosen pengampu menyerahkan plakat kenang-kenangan kepada pihak SDN Rawa Badak Selatan 03, Koja, Jakarta Utara (25/5/2026).

Kemudian, kelompok menyerahkan plakat kenang-kenangan bersama Dosen Pengampu kepada pihak SDN Rawa Badak Selatan 03 sebagai bentuk terima kasih atas sambutan hangat sekolah selama kegiatan berlangsung.

Edukasi bencana sejak dini bukan kemewahan. Ini kebutuhan — terutama bagi anak-anak yang tumbuh besar di kawasan rawan banjir seperti Jakarta Utara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas Project Based Learning Mata Kuliah Sistem Informasi K3, Program Studi D-IV K3 Politeknik Ketenagakerjaan, di bawah bimbingan Ibu Yusnita Handayani, S.K.M., M.A.