Konten dari Pengguna

Pancasila dan Mahasiswa: Ironi Budaya Numpang Nama dalam Tugas Kelompok

Anisatun H

Anisatun H

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia UNY

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anisatun H tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita berada dalam satu Tugas kelompok kuliah, tetapi pada akhirnya hanya satu orang yang sibuk begadang mengetik laporan sementara anggota lainnya mendadak hilang tanpa kabar? Fenomena "numpang nama" ini sudah menjadi rahasia umum di lingkungan kampus, yang secara perlahan mulai mengikis implementasi nilai pancasila di kalangan mahasiswa. Tugas kelompok yang seharusnya untuk melatih kerja sama dan membagi beban kerja, kenyataannya sering kali berubah menjadi beban mental bagi satu atau dua orang. Sisanya? Cukup menyetor nama di halaman depan agar nilai aman.

Dalam kajian sosiologi dan ekonomi, fenomena malas ini dikenal sebagai Free-Rider Problem, sebuah kondisi di mana individu ingin menikmati manfaat dari suatu hasil keja keras kelompok tanpa mau mengeluarkan kontribusi atau pengorbanan apapun, Masalah ini biasanya bermula dari pembagian kelompok yang tidak merata atau kurangnya rasa tanggung jawab dari sebagian mahasiswa. Alasan yang dipakai selalu klasik: sibuk organisasi, ada kerja paruh waktu, pura-pura tidak paham materi, atau bahkan memang tidak peduli.

Sebagai mahasiswa kita tidak pernah tahu pasti bagaimana cara dosen memberikan nilai akhir, karena bisa saja dosen membedakan nilai individu berdasarkan keaktifan saat presentasi di depan kelas. Namun, masalah utamanya tetap ada pada proses pengerjaan makalah di balik layar yang sangat timpang. Membiarkan mahasiswa yang malas ikut menikmati hasil kerja keras temannya adalah sebuah bentuk pembiaran yang tidak adil. Kebiasaan ini tidak hanya memicu kecemburuan sosial antar mahasiswa, tetapi juga mendidik kita menjadi pribadi yang pasif dan gemar mencari jalan pintas.

Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, budaya "numpang nama" ini sebenarnya adalah potret nyata bagaimana nilai-nilai Pancasila mulai terkikis di bangku kuliah. Mengambil keuntungan dari hasil kerja keras orang lain, jelas menabrak Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tindakan ini tidak mencerminkan perilaku beradab karena tidak menghargai waktu dan tenaga sesama manusia. Selain itu, ketika satu orang memborong semua beban kerja sementara anggota lain mendapat nilai tinggi secara cuma-cuma, di situlah esensi Sila Kelima Keadilan Sosial sedang dicederai di lingkup terkecil kampus kita sendiri.

Ilustrasi mengerjakan tugas kelompok (foto : author)

Solusi untuk memutus lingkaran setan ini sebenarnya tidak rumit, Kampus dan dosen harus mulai mengubah sistem pelaporan tugas. Mahasiswa wajib menyertakan lembar kontribusi individu di akhir laporan. Di lembar tersebut harus tertulis secara transparan siapa mengerjakan bagian apa. Dengan begitu, dosen bisa memberikan nilai secara objektif berdasarkan kinerja nyata masing-masing mahasiswa.

Kesimpulannya, tugas kelompok bukan ajang bagi-bagi nilai gratis untuk mahasiswa yang cuma menumpang nama. Integritas kita justru diuji dari bagaimana kita bertanggung jawab atas porsi tugas sendiri dan menghargai keringat teman satu tim.

Sudah saatnya kita berhenti memanfaatkan kebaikan teman dan menjadi beban dalam kerja kelompok. Mari kita kembalikan esensi tugas kelompok dengan saling menghargai tenaga dan waktu satu sama lain secara adil.