Meme “Who is You?” Sophia Katseye dan “Kecemasan” Orang Indonesia

Mahasiswi Sastra Inggris penikmat film dan musik.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Anisfa Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Orang Indonesia memiliki banyak kecemasan, baik terhadap hal besar, seperti masa depan bangsa, maupun hal yang lebih sederhana, seperti pemilihan diksi saat bermain media sosial. Di era modern yang sangat dipengaruhi budaya barat, juga ketiadaan batas lintas komunikasi, penggunaan bahasa asing juga menjadi kecemasan sendiri bagi orang Indonesia. Salah satunya adalah Bahasa Inggris. Orang Indonesia cenderung sering memikirkan apakah tata bahasa yang mereka gunakan sudah tepat dan sempurna, daripada pesan yang sesungguhnya ingin mereka sampaikan. Bukan berarti tata bahasa tidak penting, tapi hal ini tidaklah harus menjadi permasalahan besar dalam berkomunikasi.
Kecemasan orang Indonesia ini dapat dibantah dengan mudah melalui sebuah video kompilasi dari akun YouTube @eyekonic_meichae berjudul “WHO IS U?” Dalam video pendek ini, ia menggabungkan momen ketika Sophia Laforteza dari grup wanita global, Katseye, bereaksi “who is you?” untuk mengomentari sikap dan candaan teman-teman satu grupnya. Sophia tampak mengatakan kalimat ini dalam suasana kasual untuk mengekspresikan kebingungannya pada kelakuan teman-temannya yang terkesan aneh dan tidak seperti biasanya. Meskipun kalimat ini pendek, tetapi orang yang hanya menguasai Bahasa Inggris dasar pun pasti akan berpikir, “ini tata bahasanya salah.” Namun, tidak ada seorang pun yang protes di video tersebut.
Ketiadaan protes dari sekitar, yang juga penutur asli Bahasa Inggris, mengenai penggunaan tata bahasa Sophia yang keliru menunjukkan kalau seharusnya kita, sebagai orang Indonesia, tidak perlu terlalu mencemaskan hal ini. Ketika kita berbicara kepada penutur asli Bahasa Inggris, mereka pada umumnya tidak akan mengomentari tata bahasa yang kita ucapkan dan secara alami akan mengerti ucapan kita. Apalagi dalam suasana kasual, para penutur asli pun dapat menggunakan tata bahasa yang tidak tepat untuk lebih menonjolkan reaksi yang ingin mereka keluarkan. Tidak hanya dalam percakapan sehari-hari, kita juga bisa menyadari bahwa dalam lirik lagu sekalipun, terkadang para penulis lagu berbahasa Inggris pun lebih mengutamakan rima dan pemilihan diksi yang bermakna daripada ketepatan tata bahasa.
Melihat peristiwa ini, seharusnya kita tidak lagi ragu atau cemas ketika menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi di dunia nyata maupun di dunia maya. Dengan satu langkah kecil, seperti berani berbahasa Inggris di media sosial, kita tidak akan tahu kesempatan apa yang akan kita dapatkan ke depan. Keberanian untuk mulai berbahasa Inggris, meskipun dengan tata bahasa yang belum sempurna dapat membuka kesempatan kita untuk bekerja di lingkup internasional. Meskipun begitu, jika kita berbicara mengenai dunia kerja ataupun lingkungan yang lebih resmi, tentunya kita tetap harus belajar tata bahasa yang tepat. Sophia Katseye memberikan kita contoh bahwa tanpa perlu terikat dengan tata bahasa yang kaku, khususnya dalam suasana kasual, komunikasi tetap dapat berjalan dengan baik, bahkan semakin lancar dan menyenangkan.
Sebagai mahasiswi Sastra Inggris, saya pernah mendapat pertanyaan seputar ini ketika sedang melakukan presentasi. Salah satu pertanyaannya adalah, “mana yang lebih penting ketika berbicara menggunakan Bahasa Inggris, grammar yang tepat atau pesan yang ingin disampaikan, meskipun grammar yang digunakan berantakan?” Jawaban saya adalah, pesan tentunya lebih penting, karena komunikasi sendiri adalah penyampaian pesan dari satu pihak kepada pihak lain. Namun, kita juga perlu memerhatikan situasi dan kondisi ketika kita menyampaikan pesan tersebut. Jika suasananya cukup resmi, tentu kita harus memerhatikan tata bahasa kita, tapi hal ini seharusnya tidak menjadikan kita cemas, tapi dijadikan sebagai sebuah pelatuk untuk semakin giat belajar Bahasa Inggris, maupun bahasa asing lain.
Tulisan ini saya akhiri dengan ajakan kepada orang Indonesia untuk lebih berani berbahasa Inggris, tanpa perlu mencemaskan tata bahasa yang kita gunakan. Namun, tentunya lebih baik untuk kita tidak berhenti belajar guna meningkatkan pengetahuan dan kualitas kita sebagai individu. Selain itu, kita juga tidak boleh melupakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kita. Kita juga perlu terus belajar Bahasa Indonesia yang baik, benar, dan sesuai kaidah bahasa. Jika kita mampu menggunakan berbagai bahasa dengan baik, tentu pesan yang ingin kita sampaikan juga semakin mudah diterima oleh pihak lain, dan dapat membuka peluang kerja maupun membangun hubungan sosial baru yang kelak akan bermanfaat untuk kita.
