Sadino's Playlist: 8 Musik Video Game Terbaik Menurut Gue

Provehito in Altum
Tulisan dari Anissa Sadino tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gue suka banget main game. FPS, gue suka. Dulu, gue main Counter Strike 1.6 di warnet berasa di rumah nenek. Main Point Blank sebelom banyak cheat, ampe lupa sama yang namanya 'tidur'. RPG juga gue suka banget.
Selain gameplay dan storyline, ada satu hal yang menurut gue penting banget di sebuah game, yaitu musiknya. Musik dalam sebuah game itu berperan amat sangat penting, karena bisa membangkitkan imajinasi pemainnya. Dan buat gue, musik di sebuah game itu berpengaruh banget buat orang yang suka ngayal kayak gue.
Kadang, gue bisa sampe berdecak kagum sama orang-orang yang bikin musik buat game. Ini ibunya ngidam apa sih, sampe mereka bisa punya imajinasi yang beyond gitu?
Ya udah, ini list musik game yang gue suka banget. Cyus.
1. Legend of Mana

Gue itu penggemar berat semua game keluaran Square. Walopun gameplay-nya masih kotak-kotak dan mukanya enggak jelas, storyline-nya beyond dan bagus-bagus banget. Legend of Mana adalah salah satu game favorit gue di PS1.
Ceritanya, Mana Tree yang jadi sumber energi untuk dunia yang ada di game ini kehilangan power-nya. Nah, tugas pemainnya itu nge-recharge Mana Tree sampe power-nya kembali full. Nanti, ada lokasi yang harus kita datengin, entah itu town, village, forest, beach, atau mountain.
Game ini epic sih, menurut gue. Ada beberapa story berbeda dari setiap quest, dan itu berhubungan sama sebuah budaya fiktif yang ada dunia game ini. Story-nya itu mulai dari fairies yang benci dengan keberadaan manusia yang kejam, sampe nyari Seven Wisdoms.
Tentunya, petualangan kita didampingi dengan musik yang menghidupkan imajinasi kita. Game inilah yang bikin gue jatuh hati sama komponis asal Jepang, Yoko Shimomura. Karyanya gila-gila banget. Dan di game ini, musik ciptaanya bikin tiap lokasi yang gue sambangi hidup.
Sebut aja "The Wind Sings of A Journey". Didominasi gitar akustik sama flute, lagu ini bikin gue ngerasa kayak lagi petualangan beneran. Ada juga "Hometown Domina" yang bikin gue berasa ada di desa yang sunyi dengan orang-orangnya yang ramah. "Cliff Town Gato" yang bikin gue berasa ada di sebuah ancient town, dan "Everyday Dream: Siren's Song" yang bikin gue takjub dengan nada tinggi penyanyinya.
Di awal game juga ada cerita yang menjelaskan kenapa Mana Tree kehilangan power-nya. Background music-nya itu berjudul "The Great Virtue of Gathering Mana's Spirit". Dan ini yang bikin gue takjub sama Yoko Shimomura. Permainan pianonya bagus dan sedih banget, seakan-akan Mana Tree sangat membutuhkan pertolongan. Gue juga butuh pertolongan. Tolong sampein sama dia kalo gue kangen. Udah itu aja.
Terus, lagunya ganti jadi "Song of Mana" yang dinyanyiin Annika Ljungberg pake bahasa Swedia. Berhubung gue pernah belajar bahasa Swedia, gue paham lagunya tentang apa. Tapi tetep, aku enggak bisa memahami kamu sampe sekarang.
2. Front Mission 4

Sebenernya, gue lebih suka Front Mission 3 dibanding Front Mission 4. Gue lebih suka game yang klasik dan gambarnya masih kotak-kotak karena menurut gue, game-nya lebih susah daripada game-game zaman sekarang. Udah gitu, Front Mission ini strategic game, jadi bikin gue mikir gimana caranya gue bisa survive ke stage berikutnya.
Front Mission hampir sama kayak film "Pacific Rim". Bedanya, lawannya bukan Kaiju, tapi robot dan orang juga (gue jadi inget logat bapak-anak Herc dan Chuck Hansen di film itu. Herc: "It's catheghowrey ffhou." Chuck: "Come on, Ghepshey, khick heyssass!"). Dan ceritanya itu tentang politik perang. Nah, gimana caranya robot-robot gue punya weight yang sesuai dan pake senjata yang hit-nya gede biar perangnya maksimal. Gue juga harus mikir gimana caranya dengan HP 1000 doang, gue bisa ngalahin lawan gue yang HP-nya 10 ribu. Lu pikir dah tuh.
Tapi sayang, musik di Front Mission 3 enggak begitu memukau. Mungkin, karena lebih techno. Beberapa lagunya malah bikin kuping gue sakit sampe berdarah. Enggak, deng.
Nah, di Front Mission 4, musiknya lebih orkestra dan lebih kerasa banget perangnya. Komposernya Hidenori Iwasaki, sosok yang juga bikin musik untuk Front Mission 5: Scars of the War dan Front Mission Online.
Di Front Mission 4, lo akan mainin dua tim, The Durandal sama The USN. Lo pikir lagi dah tuh, gimana caranya biar robor-robot mereka bisa survive ke tahap selanjutnya. Sambil mikir, telinga gue dimanjain sama background music pas war scene.
Gue suka banget sama musik orkestra, dan musiknya Hidenori Iwasaki buat Front Mission 4 itu dapet banget. Gue bener-bener kayak seorang pahlawan perang di lagu ini. Ibarat The Rock ngangkat sabuk kemenangannya pas lagi berdiri di ring, idungnya kembang-kempis, dan alisnya naik sebelah.
"Move Out!", "Knights of Steel", "Brute Force", "Blauer Nebel", "Iron Tempest", "Boot Camp" yang menurut gue iconic, dan favorit gue, "Pride and Honor", yang bener-bener kayak lagi perang banget (perang banget itu gimana, ya).
Ada juga musik yang mellow-mellow, kayak "Southern Breeze" sama "Requiem of A Soldier" yang jadi versi galaunya "Boot Camp" dan enggak kalah iconic. Di Front Mission 5: Scars of the War itu juga ada yang jadi favorit gue dan masih dari Hidenori Iwasaki, judulnya "Quicksilver".
Nah, coba deh, lo dengerin musiknya Front Mission 4. Ngayal, enggak?
3. Kingdom Hearts II

Enggak heran Yoko Shimomura jadi langganan Square buat bikin musik untuk game-game mereka. Otaknya ada 2 kali ya, makanya karya-karyanya enggak lepas dari pujian-pujian akan kekerenannya.
Di Kingdom Hearts II, siapa yang enggak suka lagu berjudul "Dearly Beloved"? Ada banyak versi pula, mulai versi pake suara deburan ombak, versi galaunya, sampe versi hebohnya dalam bentuk orkestra.
Di YouTube, ada orang yang kurang kerjaan bikin "Dearly Beloved" di-extend sampe 10 jam. Kurang kerjaan sih, tapi gue terima kasih banget sama si senggang itu karena berkat dia, gue bisa tidur pules 10 jam lebih.
4. Call of Duty: Modern Warfare 2

Cuma Modern Warfare 2 dalam serial Call of Duty yang musiknya dibikin sama komponis ternama, Hans Zimmer. Walopun Hans Zimmer cuma bikin musik buat opening theme-nya, it's worth it. Kapan lagi sosok yang bikin musik untuk film "Pirates of the Caribbean", "The Dark Knight", "Kung Fu Panda", "The Da Vinci Code", "Pearl Harbour", sampe "The Simpson's Movie" ini bikin musik untuk sebuah game?
Musik CoD: Modern Warfare 2 diaransemen sama Lorne Balfe, komposer yang juga bikin musiknya "Assassin's Creed". Balfe sama Zimmer ini suka kerja sama juga buat bikin musik. Kebayang, kan?
Karyanya Balfe buat Modern Warfare 2 itu apik-apik. Dan, emang cocok untuk background music special agent yang lagi bertugas di medan perang. Kesukaan gue itu, "The Only Easy Day Was Yesterday", "Same Shit, Different Days", "Just Like Old Times", "The Control Room", sama favorit gue, "Contingency".
"Contingency" ini adegannya pas Captain Price sama Soap MacTavish yang rambutnya mirip B.A. Baracus di film "The A Team" lagi menyelinap di tengah salju. Mereka enggak boleh ketahuan, dan kalo nembak orang, musti diterima. Eh, maksud gue, musti pake silencer.
Nah, "Contingency" sebagai background music itu epic. Ada dua versi, versi 'deg-degan' sama versi 'jantung meledak'. Yang 'deg-degan' itu lebih tenang tapi bikin jantung berdegup kencang, kalo 'jantung meledak' itu kayak udah ada di medan perang. Dua-duanya sabi.
5. Final Fantasy VIII

Oke, gue cupu. Gue enggak main Final Fantasy VII dengan alasan gameplay-nya jelek banget. Jadi, gue langsung pindah ke Final Fantasy VIII. Tapi, pas tahu Final Fantasy VIII di-remake dan gue nonton "Advent Children"... Ternyata Cloud ganteng juga, ya.
Selain Yoko Shimomura, Nobuo Uematsu juga jadi langganan Square buat bikin musik untuk game-game mereka. Di Final Fantasy VIII, Uematsu bikin musik yang fresh banget. Contohnya, "Breezy", "Fisherman's Horizon", dan "Balamb Garden" yang mengiringi Squall Leonhart yang tertutup dan suka merepotkan dirinya sendiri itu jalan-jalan di sekolahnya. Adem banget.
Ada juga "The Landing", pas SeeD dikirim untuk bertugas di Dollet. Musiknya itu bikin gue berimajinasi akan banyaknya musuh di perjalanan.
Yang paling juara? "Liberi Fatali", tentunya. Gue bisa lho, mengumamkan "Fithos, Lusec, Wecos, Vinosec" berulang kali saking serunya. Dan lagu ini dimainin pas adegan Squall ngelawan Seifer ampe berdarah-darah. Akhirnya, dua-duanya sama-sama punya codet yang enggak jelas maknanya sampe gue namatin game-nya. Kirain ada maksudnya gitu, eh kagak.
Sekadar informasi aja, gue suka banget sama Zell Dincht. Soalnya dia tengil, sotoy, dan banyak gaya. Yang bikin dia keren cuma Ehrgeiz, weapon-nya. Gue juga setuju dengan panggilan buat Zell dari Seifer, 'Chicken Wush'.
Kalo Squall, sih... Overrated, ya. Gue enggak tahu Squall itu sebenernya seganteng apa pada kala itu. Tapi, gambar di bawah ini ada benernya juga.

6. Final Fantasy IX

Final Fantasy IX adalah game Final Fantasy yang paling pertama gue tamatin. Gue emang main Final Fantasy VIII duluan, tapi karena ribet musti junction karakter sama GF, gue sempet berhenti mainin game itu. Toh, Final Fantasy IX jauh lebih mudah dan tinggal main aja gitu. Saking sukanya, gue rela main Final Fantasy IX cuma buat naikin level karakter-karakternya. Intinya, sampe Zidane hit-nya 9999+critical pake Ultima Weapon.
Nobuo Uematsu masih megang bagian musik untuk Final Fantasy IX. Bedanya, musik di Final Fantasy IX lebih megah dari Final Fantasy VIII. Uematsu juga banyak make strings di game ini dan musiknya pun lebih beragam.
"Vamo' Alla Flamenco", misalnya. Sebenernya, lagu ini lebih cocok buat soundtrack-nya "The Mask of Zorro" atau "Desperado". Jadi, Antonio Banderas enggak cuma mainin "Cancion del Mariachi" aja.
Terus, "Eternal Harvest", versi pianonya. Rumit, tapi bikin nganga. Terus, karakter-karakternya juga punya theme song sendiri. Kayak Beatrix dengan "Rose of May" yang versi pianonya bikin merinding, dan theme song-nya Kuja. Kuja ini keren, ya. Dia cowok, tapi badannya lebih bagus dari gue.
Buat soundtrack-nya, ada "Melodies of Life" dengan Emiko Shiratori sebagai penyanyinya. Dibanding "Eyes on Me" yang dinyanyiin Faye Wong, gue jauh lebih milih "Melodies of Life". "Eyes on Me" itu kayak... Jadul banget. Musiknya juga 'cempreng' banget. Sorry not sorry, ya.
7. Final Fantasy X-2

Gue enggak begitu mainin Final Fantasy X-2, sebenernya. Soalnya Yuna di game ini tampil lebih berani dan memperlihatkan anggota tubuh yang seharusnya enggak diperlihatkan. Kembalikan Yuna yang dulu!
Tapi, ada satu lagu yang bikin gue enggak bisa lupa sama Final Fantasy X-2. Dan lagunya juga udah dipamerin di menu start, judulnya "Kuon: Memories of Waves and Light" atau lebih dikenal dengan "Eternity: Memories of Lightwaves".
Ada dua versi "Eternity: Memory of Lightwaves". Yang pertama, versi Noriko Matsueda dan Takahito Eguchi. Lagunya cuma 2 menitan, full piano dan jadi opening theme buat game-nya. Nah, ini lagu buat start menu.
Yang kedua, judulnya sama cuma lagunya sekitar 6 menitan. Masih versi piano juga, tapi lebih klasik dan temponya lebih lambat dari versi Matsueda dan Eguchi. Versi yang ini lebih menyakitkan dan gue enggak bosen dengernya. Yang compose itu Hiroko Kokubu.
Gue suka dua-duanya, dan dua lagu ini selalu ada di ponsel pintar gue.
8. Final Fantasy XV

Ni die nih, game yang nunggunya memakan waktu sampe 10 tahun. Final Fantasy XV akhirnya dirilis dengan ending yang agak mengecewakan buat gue. Alesannya, masa gue udah nunggu 10 tahun, ujung-ujungnya gue harus berhadapan dengan kehilangan? Enggak jodoh, mungkin?
Di game ini, kita akan dihibur sama petualangan dan percakapannya Noctis, Gladio, Ignis, dan Prompto, chocobo tengilku sayang. Game-nya itu open world, dan enggak Final Fantasy banget. Ya, Final Fantasy 'kan kalo lagi fight scene itu ngandelin ATB atau Active Time Battle, ya. Nah, ini enggak.
Pas Episode Duscae dirilis, gue udah nontonin tuh, orang-orang yang mainin dan di-upload ke YouTube. Seru banget! Terbukti kalo Noctis itu enggak mirip sama Andika 'Kangen Band' atau pun Sasuke Uchiha-nya "Naruto".
Dari situ, gue udah merhatiin background music-nya. Dan pas game-nya rilis, musiknya sangat memuaskan. Dan lagi-lagi, gue dibikin nangis sama Yoko Shimomura selaku sosok dibalik kekerenan musiknya Final Fantasy XV.
Pertama, ada "Somnus". Lagu ini sebenernya udah ada dari zaman trailer-nya Final Fantasy Versus XIII diluncurin. Tapi, Final Fantasy Versus XIII batal rilis, dan dijadiin Final Fantasy XV. Nah, "Somnus" ini menghadirkan lirik dalam bahasa Latin yang dinyanyiin sama Aundréa L. Hopkins. Ada juga versi instrumentalnya yang didominasi sama permainan strings. Hasilnya? Syahdu dan menyakitkan.
Ada juga "Somnus Ultima". Gue enggak bisa nyeritain lagu ini terdengar di bagian mana, soalnya spoiler. Hiks.
Kedua, "Omnis Lacrima". Lagu ini terdengar pas Noctis dan kawan-kawan diminta Dino untuk nyari rare stone di tempat Bennu, seekor burung raksasa berbulu biru tua, lagi tidur. Pas Bennu bangun, lagu ini diputer.
"Omnis Lacrima" ini epic, karena awalannya kayak lo harus berhadapan sama sesuatu yang bikin lo mikir, "Hm, salah langkah nih aing." Dari awal sampe akhir lagu, lagunya lumayan intens dan enggak terlalu heboh. Yes, I like.
Ketiga, "Chocobo Theme". Lagu ini iconic, sih. Soalnya, nadanya sama kayak game Final Fantasy yang lain. Dan di Final Fantasy XV, akhirnya terbongkar lirik yang jadi awalan lagu ini, yaitu, "I want to ride a chocobo all day~" Thanks to Prompto!
Keempat, "Stand Your Ground". Ini standar sih sebenernya, cuma rich aja gitu, karena lagu ini buat battle theme.
Kelima, "Starlit Waltz". Lagu-lagu kerajaan kayak lagi acara dansa gitu. Entah kenapa, yang ada di kepala gue itu adegan Squall diajak dansa sama Rinoa, tapi sok malu-malu padahal ingin.
Keenam, "Relax and Reflect". Bossanova khasnya Shimomura ini. Dan lagu ini terdengar pas Noctis dan kawan-kawan camping dan menikmati makan malam yang disuguhin Ignis. Dan, lo lihat enggak, semua hidangan di game ini? It looks real and delicious!
Ketujuh, "Valse di Fantastica" atau judulnya lainnya yang gue lebih suka, "Gratia Mundi". Ini theme song-nya Altissia, tapi it sounds like... Like lo lagi diajak tur keliling Lucis sama Noctis dan boyband-nya. Imajinasi gue lumayan liar di lagu ini, karena musiknya klasik dan easy listening.
Kedelapan, "Luna". Lagu ini sedih banget, karena Luna (MAAF SPOILER!) meninggal dunia pas dia lagi ngelawan Leviathan. Tapi, dia bukan dibunuh sama Leviathan, tapi sama Ardyn. Dan lagu ini terdengar pas Noctis lagi nangisin Luna di dalam kereta. Rasanya itu kayak, "Noctis, sini sama aku. Insyaallah, aku bisa ngejaga kamu dan ngedampingin kamu terus."
Kesembilan, "Too Much is Never Enough". Lagu ini soundtrack-nya Final Fantasy XV dan dibawain sama Florence + The Machine. Gue suka sama musiknya Florence Welch, dan menurut gue, dia sukses ngisi soundtrack sebuah game dengan "Too Much is Never Enough". Suaranya itu lho, tinggi dan ngena banget. Liriknya juga tentang dunia kalo dilihat dari mata Noctis. Ada juga lagu lain dari Florence + The Machine, "Stand By Me"-nya Ben E. King yang diaransemen ulang sama "I Will Be".
Terakhir, favorit gue banget, "Apocalypsis Noctis". Lagu ini udah merepresentasikan Final Fantasy XV secara keseluruhan. Kayak, ini lagu tuh diputer pas Noctis lagi ngamuk. Lagu ini juga yang bikin gue nyebut, "Shimomura geblek nih", berulang kali. Soalnya, "Apocalypsis Noctis" ini alurnya naik turun. Ibarat emosi Noctis yang enggak menentu karena dia keras kepala, tapi dia bisa wise juga.
Ada versi lain dari "Apocalypsis Noctis", yaitu "Apocalypsis Aquarius". Nah, "Apocalypsis Aquarius" ini terdengar pas adegan Noctis lagi one on one sama Leviathan. Tapi, "Apocalypsis Aquarius"itu lebih light dan lebih kayak ajang pamer setiap instrumen yang digunakan Shimomura untuk lagu itu. Jadi, gue lebih suka "Apocalypsis Noctis" soalnya lebih dark, berat, dan emosional.
Di awal, gue udah bilang kalo ending game ini mengecewakan. Tapi buat gue, dengan kehadiran Episode Gladio, Episode Prompto, dan Episode Ignis yang sebentar lagi rilis, Final Fantasy XV enggak sebegitu mengecewakan.
Oh, dan jangan lupain serial anime-nya, "Brotherhood", "Final Fantasy XV: The Omen", film pendek tentang Noctis dari sudut pandang bapaknya, King Regis, dan "Kingsglaive: Final Fantasy XV" yang menceritakan tentang Nyx Ulric, glaive yang bertugas untuk menjaga Kerajaan Lucis. So, it is worth it. Let me work it. I put my thing down, flip it and reverse it. Ti esrever dna ti pilf, nwod gniht ym tup, ti esrever dna ti pilf, nwod gniht ym tup. If you got a big, *suara gajah*, let me search ya. Eh lho, kok jadi nyanyiin lagunya Missy Elliott, ya?
