kumparan
24 Mei 2019 1:40 WIB

Wahai Perusuh 21-22 Mei, Kalian Sudah Jadi Legenda!

TNI-Polri mengamankan ratusan perusuh bayaran di Kawasan Thamrin. Foto: Twitter/@TMCPoldaMetro
Udah lima bulan gue enggak nulis di kumparan menggunakan nama sendiri. Males sih, enggak. Cuma enggak mood aja, dan lagi seneng-senengnya main game dari PlayStation pake emulator di laptop. Iya, laptop kantor.
ADVERTISEMENT
Terus, apa yang bikin Anissa Sadino punya mood untuk nulis lagi? Karena kericuhan yang tengah terjadi di kota kelahiranku, Jakarta. Ricuh perkara siapa yang akan memimpin negara ini.
Ada tiga kata yang muncul di kepala gue terkait orang-orang anti-senggang alias mereka yang ikut kericuhan tersebut. Seru, cinta, dan goblok.
Seru. Kenapa seru? Orang-orang yang enggak pernah ikut demonstrasi dan rata-rata sotoy politik rela turun ke jalan. Mereka rela keringetan, nyium bau badan orang sebelah, teriak-teriak enggak jelas yang penting teriak, nyicipin pedesnya gas air mata yang ngalah-ngalahin sambel setan, sebagai bentuk nasionalisme. Seru, 'kan?
Yang lebih seru lagi, mereka ngelemparin polisi pake petasan. Segitu bencinya mereka sama polisi, padahal polisi yang jaga di Bawaslu itu beda sama polisi yang nilang mereka di jalan gara-gara mereka ngelawan arah, enggak pake helm, enggak ada STNK, enggak ada SIM, dan cengtri.
ADVERTISEMENT
Terus, cinta. Cinta sama apa? Sama kekerasan. Masyarakat kita 'kan, doyan banget tuh, bikin keributan. Orang-orang pada demo, kalo enggak nontonin, ya, ikutan. Enggak usah gitu, 'Avengers: Endgame' yang isinya cuma adu jotos Captain America dan kawan-kawan sama Thanos dan gerombolannya aja jadi film paling laris di Indonesia.
Saking cintanya, banyak orang yang ikut kericuhan di Bawaslu dan sekitarnya enggak peduli lagi sama apa yang terjadi. Yang penting, kebersamaan. Kalo kata Jack Dawson di "Titanic", I jump, you jump.
Nah, kayak gitu tuh, yang namanya buta karena cinta. Dari 3.000 orang yang bikin ricuh di kawasan Bawaslu, mungkin 70 persennya enggak tahu itu mereka ngericuhin apaan dan karena apa. Kira-kira, percakapannya begini.
ADVERTISEMENT
John: Bang! Ayo, ikut, Bang! Kita ricuhin Bawaslu!
Michael: Ada apaan emang di Bawaslu?
John: Kaga tau, Bang! Ikut, aje! Robert ude di sono bawa mercon!
Lo tanya deh, tuh, sama John, Bawaslu singkatan dari apa. Kalo dia jawab, "Nama belakang pejabat," seruduk aja pake mobil Raisa. Bukan, bukan mobilnya Raisa. Aduh, baca kumparan makanya biar tahu apa itu mobil Raisa.
Terakhir, goblok. Kata ini adalah summary akan kericuhan yang telah terjadi. Provokator-provokator kericuhan itu dibayar sekian ratus ribu. Kenapa enggak minta sejuta? Dua juta? Sekian ratus ribu buat bayar utang-utang mereka di warung juga habis itu. Padahal, selama ini ngutang di warung cuma buat beli kopi dua ribu perak sama kacang pilus. Kalo pilus bisa diketeng juga, diketeng itu.
ADVERTISEMENT
Mohon maaf sebelumnya, mungkin kata 'goblok' terlalu kasar. Tapi, memang kenyataannya, orang-orang yang bikin ricuh itu pada goblok semua. Daripada bikin kericuhan, ngaji kek, cari kerja kek, bikin rencana seminggu sahur sama buka mau makan apa, kek. Atau, bikin petisi, kek, kalo dunia tidak setuju Bran Stark adalah raja baru di Westeros.
Kurang goblok apa coba, dibayar Rp 300 ribu, mau jadi provokator dan berdiri paling depan. Rp 5 juta buat operasional? Mending beli tiket kereta buat pulang kampung terus duitnya dibagi-bagiin buat keponakan. Atau, DP motor, atau beli motor gede. Atau juga, ditabung buat beli rumah. Investasi juga oke, kok.
Elo, dibayar Rp 300 ribu? Manusia enggak semurah itu. Nerima bayaran segitu karena butuh duit? Sekarang, Rp 300 ribu bisa ngeluarin lo dari penjara, enggak?
ADVERTISEMENT
Jujur, gue itu muak banget sama apa yang terjadi di Jakarta saat ini. Jangankan Jakarta, media sosial juga isinya ngebahas kericuhan sama politik semua. Ujaran kebencian lah, ngebelain 01 dan 02-lah, live update kericuhan lah (padahal repost media online). Eneg enggak, lo?
Buka media sosial itu 'kan, enaknya nyari konten-konten receh, ngepoin mantan atau gebetan, sama gibahin orang-orang terdekat. Yang begituan aja lama-lama toxic, ditambah lagi Jakarta siaga satu. Anyway, terima kasih Kominfo sudah memberikan kesulitan pada kamu untuk mengakses media sosial! I swear to Gods, I really really appreciate it.
Intinya, tulisan ini enggak ada pesan positif untuk menguatkan sesama penduduk Jakarta akan apa yang tengah terjadi. Enggak ada saran atau kritik membangun juga. Gue cuma mau ngedumel, karena gue bener-bener heran. Ternyata, yang lebih goblok dari gue, banyak banget. Hebatnya lagi, mereka jadi bagian dari sejarah, terutama untuk 257 tersangka perusuh yang diamankan kepolisian.
ADVERTISEMENT
Sambil nunggu sahur, mari kita indoxx1 and chill. Selamat malam, khususnya untuk kalian, para pencinta oligarki.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan