Konten dari Pengguna

Hari Kartini 2026: Perempuan Sudah Berani Bicara, Tapi Mengapa Masih Tak Aman?

Anita Nurul Fajriyah

Anita Nurul Fajriyah

Mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anita Nurul Fajriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto: pexels.com/Abdulkadir Muhammad
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto: pexels.com/Abdulkadir Muhammad

Setiap tahun, Hari Kartini diperingati sebagai simbol perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak dan kesetaraan. Perempuan hari ini telah menempuh perjalanan panjang mengakses pendidikan, berkarier, hingga menyuarakan pendapat di ruang publik. Namun di balik kemajuan tersebut, ada satu hal yang masih menjadi bayang-bayang rasa tidak aman.

Di banyak ruang, baik fisik maupun digital, perempuan masih dihadapkan pada risiko kekerasan dan pelecehan seksual. Bentuknya bisa beragam mulai dari komentar yang merendahkan, sentuhan tanpa persetujuan, hingga pengalaman yang lebih serius dan traumatis.

Semangat emansipasi yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini sejatinya tidak hanya tentang membuka akses, tetapi juga tentang menciptakan kehidupan yang bermartabat dan aman bagi perempuan. Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai.

Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi setiap tahunnya, dengan banyak kasus yang tidak dilaporkan. Dalam catatannya, Komnas Perempuan menegaskan bahwa

“kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan serius yang berakar pada ketimpangan relasi kuasa dan budaya yang masih permisif terhadap pelanggaran.”

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan kekerasan seksual bukan hanya soal tindakan individu, tetapi juga berkaitan dengan budaya yang masih memberi ruang bagi pelanggaran untuk terus terjadi. Ketika pelecehan dianggap hal biasa, maka rasa aman bagi perempuan menjadi sesuatu yang harus terus diperjuangkan.

Di tengah realitas tersebut, harapan tetap datang dari generasi muda. Seorang mahasiswi uin jakarta, KY (21), menyampaikan harapannya di Hari Kartini.

“Semoga perempuan ke depannya bukan cuma berani bersuara, tapi juga benar-benar didengar dan dilindungi. Bukan lagi hidup dalam rasa takut,” ujarnya.

Dalam konteks ini, emansipasi tidak bisa lagi dimaknai hanya sebagai kesetaraan akses. Emansipasi juga harus berarti kebebasan dari rasa takut. Perempuan seharusnya tidak perlu merasa waspada berlebihan hanya untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi momen perayaan, tetapi juga refleksi kritis. Bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama dan menciptakan ruang yang benar-benar aman dan adil bagi perempuan.

Sebab pada akhirnya, emansipasi tidak akan pernah benar-benar terwujud jika perempuan masih harus hidup dalam rasa takut.