Konten dari Pengguna

Ekonomi Digital Indonesia Makin Besar, Apa yang Masih Perlu Dibenahi?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anita Putri utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar dihasilkan oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
gambar dihasilkan oleh AI

Pernahkah kamu membayangkan berbelanja tanpa harus datang ke toko? Saat ini, hanya dengan smartphone, masyarakat bisa membeli makanan, pakaian, kebutuhan rumah tangga, hingga barang elektronik. Pembayaran pun dapat dilakukan secara digital.

Kemudahan tersebut membuat teknologi semakin dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Konsumen dapat membandingkan harga dan mendapatkan berbagai pilihan produk, sedangkan pelaku usaha bisa memasarkan produknya melalui marketplace dan media sosial.

Perkembangan ini membuat ekonomi digital Indonesia terus tumbuh. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, GMV ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar US$99 miliar pada 2025, meningkat sekitar 14 persen dari tahun sebelumnya.

Besarnya nilai tersebut menunjukkan potensi pasar digital Indonesia. Namun, perkembangan ekonomi digital juga membawa sejumlah tantangan, seperti kesenjangan akses internet, keamanan data, keterampilan digital, dan persaingan usaha.

Upaya Indonesia Mengembangkan Ekonomi Digital

Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendukung perkembangan ekonomi digital. Salah satunya adalah QRIS yang dikembangkan oleh Bank Indonesia. Dengan QRIS, masyarakat dapat melakukan pembayaran melalui satu kode QR dari berbagai penyedia layanan pembayaran. Sistem ini juga membantu UMKM menerima pembayaran digital dengan lebih mudah.

Selain itu, Indonesia memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi. Aturan ini penting karena semakin banyak aktivitas masyarakat dilakukan secara digital.

Pemerintah juga menjalankan berbagai program, seperti 100 Smart Cities dan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital untuk mendorong pemanfaatan teknologi dan inovasi.

Meski begitu, pembangunan ekonomi digital masih menghadapi persoalan. Akses internet belum sepenuhnya merata, sementara masyarakat dan pelaku usaha juga membutuhkan keterampilan digital agar dapat mengikuti perkembangan teknologi.

Belajar dari Negara Lain

Indonesia bukan satu-satunya negara yang sedang mengembangkan ekonomi digital. Amerika Serikat, misalnya, memiliki ekosistem teknologi dan startup yang kuat dengan dukungan sektor swasta dan investasi.

Uni Eropa memberikan perhatian besar terhadap perlindungan data melalui General Data Protection Regulation atau GDPR.

Sementara itu, India mendorong transformasi digital melalui program Digital India, termasuk dalam pengembangan layanan dan pembayaran digital. Singapura juga memberikan perhatian terhadap infrastruktur, inovasi, keterampilan, dan tata kelola digital.

Setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda karena kondisi masing-masing tidak sama. Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia.

Bukan Sekadar Banyaknya Transaksi

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi digital. Namun, besarnya pasar dan jumlah transaksi saja belum cukup.

Pemerataan akses internet, peningkatan keterampilan digital, perlindungan data, serta dukungan terhadap UMKM tetap perlu diperhatikan. Dengan begitu, teknologi tidak hanya membuat kegiatan ekonomi menjadi lebih mudah, tetapi juga dapat membuka peluang usaha dan meningkatkan produktivitas masyarakat.

Pada akhirnya, perkembangan ekonomi digital bukan hanya tentang seberapa banyak orang berbelanja secara online. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana teknologi dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.