Mitigasi Kerusakan Barang Dalam Pengiriman Optimalisasi Operasional Pengepakan pada UMKM Online Shop

Mahasiswa Manajemen di Universitas Pamulang, Pembuat Konten, serta memiliki minat dalam bidang Sumber Daya Manusia, Operasional Bisnis, dan Perilaku Organisasi.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Anita Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pesatnya perkembangan ekonomi digital di Indonesia telah mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara signifikan, khususnya melalui model bisnis online shop. Transaksi belanja daring kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat karena menawarkan kemudahan, kecepatan, dan pilihan produk yang beragam. Namun, keberhasilan transaksi online shop tidak hanya berhenti pada proses pembayaran, melainkan sangat bergantung pada logistik pengiriman barang hingga sampai ke tangan konsumen dalam kondisi prima.
Dalam rantai pasok e-commerce, proses distribusi memiliki risiko hambatan yang cukup tinggi. Kerusakan barang selama pengiriman menjadi salah satu masalah klasik yang paling sering dihadapi oleh UMKM. Benturan, tekanan beban berat, fluktuasi cuaca, dan kelalaian pihak kurir merupakan faktor eksternal yang sulit dikendalikan sepenuhnya oleh pelaku usaha. Ketika produk diterima konsumen dalam keadaan rusak, dampak negatifnya langsung dirasakan oleh UMKM, mulai dari kerugian finansial akibat biaya retur (pengembalian barang), penurunan reputasi toko, hingga ulasan negatif (bad review) di platform digital yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan calon pelanggan lainnya.
Untuk meminimalkan risiko tersebut, mitigasi kerusakan barang melalui optimalisasi operasional pengepakan (packing) menjadi langkah krusial yang harus diambil oleh UMKM. Pengepakan bukan sekadar membungkus produk, melainkan sebuah standardisasi keamanan yang melibatkan pemilihan material yang tepat, teknik pembungkusan yang efektif, dan efisiensi waktu pengerjaan. Sayangnya, banyak UMKM online shop yang masih mengabaikan aspek ini karena keterbatasan pengetahuan, keinginan menekan biaya operasional secara keliru, atau belum memiliki Standard Operating Procedure (SOP) pengepakan yang baku. Oleh karena itu, diperlukan upaya optimalisasi sistem pengepakan yang tidak hanya aman secara proteksi, tetapi juga efisien secara biaya dan waktu operasional
Umumnya, bagi para pelaku Usaha Micro, Kecil, dan Menengah menjaga kepuasan pelanggan adalah prioritas utama untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Salah satu elemen penting yang berkontribusi pada kepuasan pelanggan adalah pengiriman barang, apalagi pengiriman barang fragile atau mudah pecah.
Barang-barang seperti gelas, piring, perangkat elektronik, hingga kosmetik dalam kemasan botol, memiliki risiko tinggi untuk mengalami kerusakan selama barang tersebut berada dalam pengiriman. Tantangan ini perlu jadi perhatian, terlebih lagi untuk bisnis yang sedang berkembang dan sering melakukan pengiriman ke berbagai wilayah di Indonesia.
Tantangan paling umum dan paling nyata karena kerap terjadi adalah risiko kerusakan barang selama pengiriman. Barang fragile sangat sensitif dengan guncangan, tekanan, atau tumpukan berat selama perjalanan. Ditambah lagi misalnya dikirim antar pulau yang melibatkan berbagai jenis moda transportasi seperti darat, laut, dan udara yang membuat potensi kerusakan meningkat.
Solusinya sebenernya terletak pada pengemasan yang ekstra aman. Kamu bisa menggunakan bubble wrap, kardus berlapis, styrofoam, atau pengisi lain di dalam kardus seperti koran bekas atau serpihan kayu
Walaupun mengemas paket fragile merupakan solusi untuk melakukan pengiriman, perlu diingat bahwa tidak boleh asal. Karena dalam mengemas barang fragile perlu material tambahan untuk melindungi barang kamu, yang mengakibatkan meningkatnya biaya pengiriman.
Apalagi jika paket yang dikirim memiliki ukuran yang besar dan berat bertambah dikarenakan perlindungan yang ditambahkan, maka akan membuat biaya kirim ikut naik karena berat dan dimensi paket mempengaruhi tarif ekspedisi.
Sebenarnya untuk jalan tengahnya, seller online bisa menghitung biaya kemasan ke dalam harga jual produk. Ada alternatif lainnya, misalnya dengan menjalin kemitraan dengan jasa ekspedisi terpercaya seperti Lion Parcel bisa menjadi pilihan untuk menghemat karena menyediakan tarif yang kompetitif dengan layanan pengiriman yang tetap aman untuk barang fragile.
Banyak pelanggan menginginkan transparansi terhadap berbagai hal, termasuk informasi real-time tentang status pengiriman barnagnya. Jika barang fragile pengalami keterlambatan atau rusak tanpa informasi yang jelas, akan berimbas terhadap kepercayaan pelanggan yang turun.
Nah, jasa ekspedisi yang menyediakan sistem lacak paket salah satunya adalah Lion Parcel. Kamu bisa melakukan pelacakan paket langsung lewat website atau aplikasi Lion Parcel.
Selanjutnya, tantangan yang sering dihadapi Usaha Micro, Kecil, dan Menengah adalah ketika kerusakan barang dan komplain dari pelanggan. Proses retur barang ini bisa menguras biaya bagi para pelaku usaha kecil.
Oleh karena itu, UMKM perlu membuat kebijakan retur barang yang jelas dan menyampaikannya kepada pelanggan dari awal. Selain itu, sebagai seller pastikan juga kamu memiliki dokumentasi saat proses pengemasan.
Tidak semua seller online paham cara mengemas paket fragile dengan benar. Minimnya edukasi dan keterbatasan sumber daya membuat proses pengiriman rentan terhadap risiko-risiko kerusakan. Beberapa UMKM masih mengabaikan pentingnya asuransi dalam pengiriman barang, padahal untuk barang fragile, risiko kerusakan sangat tinggi. Ketika terjadi kerugian, UMKM harus menanggung semuanya sendiri, yang bisa berdampak pada arus kas.
Beberapa ekspedisi menyediakan asuransi yang bisa kamu gunakan jika ingin mengirimkan barang fragile atau barang bernilai tinggi. Seperti Lion Parcel, kami menyediakan asuransi dengan biaya tambahan sebagai langkah preventif yang jauh lebih murah dibanding menanggung kerugian barang rusak atau hilang.
Anita Rahman, Manajemen Bisnis Universitas Pamulang.
