Peranan Sarekat Islam dalam Mengurangi Perbanditan Sosial di Jawa

Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Anita Safitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Latar Belakang Perbanditan Sosial
Latar Belakang Perbanditan Sosial
Perbanditan sosial di Jawa yang sering disebut dengan istilah perkecuan telah terjadi dalam waktu yang cukup lama di beberapa kota di Jawa di antaranya adalah Batavia, Surakarta, Yogyakarta, Probolinggo dan Pasuruan. Kasus perkecuan ini dilatarbelakangi oleh protes sosial dari kaum petani sebagai akibat dari kemiskinan, penindasan, dan kesengsaraan yang diberikan oleh pihak Kolonial. Selain itu, kasus perkecuan ini juga terjadi dikarenakan oleh permasalahan antara masyarakat bumiputra dengan Etnis Tionghoa, yang disebabkan oleh kerjasama antara pihak Kolonial Belanda dengan Etnis Tionghoa.
Para kecu ini melakukan aksinya dengan tindakan pencurian, pembunuhan, perampokan, pembakaran rumah, serta pembakaran kebun yang dimiliki oleh orang-orang Belanda dan juga para orang Tionghoa yang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Terdapat tiga jenis perkecuan yang dipaparkan oleh sejarawan bernama Eric Hobsbawn, pertama adalah Robin Hood yang membagikan hasil rampokannya kepada masyarakat bumiputra yang kekurangan dalam segala hal, kedua adalah kelompok gerilya, dan yang terakhir adalah kelompok penebar teror. Protes sosial dengan melalui tindakan perkecuan yang dilakukan oleh masyarakat bumiputra ini semakin meningkat pada awal abad ke-20. Lantas, bagaimana kasus perbanditan di Jawa ini bisa menurun?
Peranan Sarekat Islam
Peran Sarekat Islam
Kasus perbanditan sosial di Jawa mulai menurun ketika munculnya suatu organisasi yang tidak lain adalah organisasi Sarekat Islam. Organisasi ini sudah muncul dari tahun 1905 dengan pendirinya adalah H.Samanhudi. Organisasi ini pada mulanya adalah perkumpulan pedagang batik di Surakarta dengan nama awal Rekso Roemokso yang kemudian berubah menjadi Sarekat Dagang Islam dan berubah lagi Pada tahun 1912 menjadi Sarekat Islam. Organisasi yang diketuai oleh H.O.S Tjokroaminoto ini memiliki cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat bumiputra khususnya masyarakat lapisan bawah yang selama ini telah mengalami penderitaan karena dijajah selama berabad-abad dan juga membangun persaudaraan antara masyarakat muslim bumiputra.
Dengan munculnya Sarekat Islam yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lapisan bawah. Tentunya, organisasi ini melakukan perkerutan anggota besar-besaran dan siapa saja boleh bergabung. Hal tersebut tentunya mengakibatkan para petani dan juga buruh berbondong-bondong untuk mendaftar menjadi anggota organisasi. Para petani dan buruh berharap bahwa suara mereka yang selama ini tidak pernah didengarkan oleh pemerintah menjadi tertampung dan dapat tersampaikan dengan harapan nasibnya dapat terbela. Dengan banyaknya pendaftar dari masyarakat bumiputra, keanggotaan Sarekat Islam pun semakin berkembang pesat dan pada akhirnya memperkuat gerakannya untuk memperjuangkan tujuan kepada pemerintah.
Dalam pelaksanaanya, organsasi ini mengarahkan anggotanya pada pergeseran gerakan reaksi, yang semula dengan gerakan tradisional melaui tindakan perkecuan dan kekerasan, lantas diubah menjadi gerakan modern melalui organisasi sehingga, tidak perlu melakukan tidakan kekerasan yang dapat merugikan orang lain dan juga dirinya sendiri. Hal ini lah yang mengakibatkan kasus perkecuan di Jawa dapat menurun. Terlebih pada tahun 1924 telah muncul organisasi-organisasi yang menerapkan pandangan nasional yang dapat menyalurkan suara masyarakat bumiputra sehingga pada masa ini kasus perkecuan utamanya di Pulau Jawa mengalami penurunan yang sangat signifikan.
Kesimpulan
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peranan organisasi Sarekat Islam mampu menurunkan kasus perbanditan sosial di Jawa. Kesadaran masyarakat bumiputra terhadap kesamaan nasib sebagai bangsa yang terjajah, akhirnya mendorong lahirnya kepentingan bersama dan rasa nasionalisme untuk merebut kembali hak-hak mereka yang dirampas secara paksa dengan cara bersatu untuk meraih kemerdekaan Indonesia.
