Konten dari Pengguna

AI Makin Dekat dengan Dunia Kerja, Tapi Apakah Kita Sudah Siap?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anita Astriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Freepik.com

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Jika sebelumnya AI lebih sering dianggap sebagai teknologi untuk membantu mencari informasi atau membuat konten, kini penggunaannya mulai masuk lebih jauh ke dunia kerja.

Berbagai pekerjaan mulai memanfaatkan AI untuk membantu menganalisis data, membuat dokumen, mencari informasi, hingga menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi sudah menjadi bagian dari perubahan cara manusia bekerja.

Di Indonesia, penggunaan AI juga berkembang cukup cepat. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada Juni 2026 menyebut bahwa 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaan sehari-hari, berdasarkan data Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn (ANTARA, 11 Juni 2026).

Bukan Sekadar Bisa Menggunakan AI

Persoalan yang lebih penting bukan lagi apakah seseorang menggunakan AI atau tidak, tetapi seberapa baik teknologi tersebut digunakan.

Kemkomdigi pada Juli 2026 menyampaikan bahwa tantangan Indonesia mulai bergeser dari persoalan akses terhadap AI menuju kesenjangan dalam kemampuan memanfaatkan AI secara mendalam. Pemerintah menilai penggunaan AI tidak cukup hanya sebatas penggunaan dasar, tetapi perlu diarahkan untuk menghasilkan produktivitas dan nilai tambah.

Hal ini menjadi penting karena kemampuan menggunakan teknologi belum tentu sama dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Seseorang mungkin mampu membuat perintah atau prompt kepada AI, tetapi tetap perlu memahami apakah informasi yang diberikan benar, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Di sinilah kemampuan manusia tetap memiliki peran penting. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, pengambilan keputusan, dan kemampuan bekerja sama tidak otomatis dapat digantikan hanya karena seseorang memiliki akses terhadap AI.

Pekerjaan Berubah, Keterampilan Juga Harus Berubah

Perubahan teknologi pada akhirnya juga membuat perusahaan membutuhkan kombinasi keterampilan yang berbeda.

Laporan PwC AI Jobs Barometer 2026 menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan. Laporan tersebut juga menunjukkan semakin pentingnya keterampilan manusia seperti pengambilan keputusan, kreativitas, dan kepemimpinan ketika AI mengambil alih sebagian pekerjaan yang bersifat rutin.

Artinya, perkembangan AI tidak sesederhana anggapan bahwa teknologi akan menggantikan manusia. Dalam banyak pekerjaan, AI justru dapat menjadi alat yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.

Namun, ada perubahan dalam cara seseorang memberikan nilai di tempat kerja. Jika pekerjaan rutin semakin mudah dibantu oleh teknologi, maka kemampuan untuk menganalisis masalah, menentukan keputusan, berkomunikasi dengan orang lain, dan memahami kebutuhan pelanggan menjadi semakin penting.

Perubahan tersebut juga menjadi perhatian bagi pekerja yang baru memasuki dunia kerja. World Economic Forum 2026 menyebut bahwa lebih dari sepertiga pekerja muda secara global berada pada pekerjaan dengan paparan perubahan tugas akibat AI pada tingkat menengah hingga tinggi.

Generasi Muda Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Ijazah

Perubahan tersebut seharusnya menjadi perhatian bagi mahasiswa dan lulusan baru.

Ijazah tetap memiliki fungsi sebagai bukti pendidikan, tetapi perkembangan dunia kerja menunjukkan bahwa perusahaan juga semakin memperhatikan kemampuan yang dapat diterapkan secara langsung.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli pada September 2026 menyampaikan bahwa lulusan perguruan tinggi perlu memiliki keterampilan digital yang terintegrasi dengan kompetensi bidangnya. Ia juga menekankan pentingnya pengalaman, praktik, sertifikasi, dan portofolio sebagai bagian dari persiapan memasuki dunia kerja.

Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa sebaiknya tidak menunggu sampai lulus untuk mulai memikirkan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.

Belajar menggunakan AI dapat menjadi salah satu bagian dari persiapan tersebut. Namun, penggunaannya sebaiknya tidak berhenti pada kemampuan meminta AI membuat tulisan atau mencari jawaban. Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana memeriksa informasi, mengembangkan ide sendiri, menganalisis masalah, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, AI tidak menjadi jalan pintas untuk menghindari proses belajar, tetapi menjadi alat untuk memperkuat proses belajar.

Tantangannya Bukan Manusia Melawan AI

Perdebatan mengenai AI sering kali dibingkai sebagai pertarungan antara manusia dan teknologi. Padahal, persoalan yang dihadapi dunia kerja kemungkinan jauh lebih kompleks.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) pada September 2026 menekankan pentingnya generasi muda untuk memperkuat kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan dunia kerja. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli juga mendorong generasi muda melakukan reskilling dan upskilling serta belajar bekerja bersama teknologi. Di tengah perkembangan AI, kemampuan manusia seperti kreativitas, empati, integritas, dan pengambilan keputusan tetap perlu diperkuat.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya “Apakah AI akan menggantikan pekerjaan manusia?”, tetapi juga “Apa yang harus dipelajari manusia agar dapat bekerja berdampingan dengan AI?”

Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memberikan kesempatan pelatihan dan pengembangan keterampilan kepada karyawan. Sementara itu, pekerja dan generasi muda juga perlu memiliki kemauan untuk terus belajar karena keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dapat berubah lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Pada akhirnya, AI mungkin memang akan mengubah banyak pekerjaan. Namun, perubahan tersebut tidak selalu berarti hilangnya peran manusia. Yang berubah adalah cara pekerjaan dilakukan, keterampilan yang dibutuhkan, serta bagaimana manusia memberikan nilai dalam pekerjaannya.

AI dapat mengerjakan banyak hal dengan cepat, tetapi manusia tetap perlu menentukan apa yang harus dilakukan, mengapa hal tersebut perlu dilakukan, dan bagaimana hasilnya digunakan secara tepat.

Karena itu, kesiapan menghadapi AI seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang menggunakan teknologi tersebut. Kesiapan juga terlihat dari kemampuan seseorang untuk terus belajar, berpikir kritis, beradaptasi, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri.