Konten dari Pengguna

Dunia Bisnis Terus Berubah, Sudah Siapkah SDM Beradaptasi?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anita Astriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Freepik.com

Perubahan dalam dunia bisnis semakin sulit dipisahkan dari perkembangan teknologi. Cara perusahaan bekerja, melayani pelanggan, memasarkan produk, hingga mengelola karyawan terus mengalami perubahan. Kehadiran kecerdasan artifisial (AI), digitalisasi, dan perubahan kebutuhan konsumen membuat perusahaan tidak cukup hanya mempertahankan cara kerja yang sudah ada.

Di tengah perubahan tersebut, sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu bagian penting yang menentukan bagaimana perusahaan menghadapi perubahan. Teknologi memang dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi tetap dibutuhkan manusia yang mampu memahami situasi, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan beradaptasi.

Perubahan Bisnis Menuntut SDM yang Adaptif

Perubahan lingkungan bisnis membuat kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja juga ikut berubah. Karyawan tidak hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan sesuai tugasnya, tetapi juga perlu mampu mengikuti perkembangan sistem, teknologi, dan cara kerja baru.

(ANTARA, 4 Juni 2026) melaporkan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan menilai peningkatan kapasitas dan kualitas SDM penting untuk menghadapi disrupsi teknologi digital, termasuk AI. Perkembangan teknologi dinilai turut mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi bukan lagi sekadar nilai tambah. Kemampuan tersebut semakin menjadi bagian dari kebutuhan dalam dunia kerja. Karyawan yang mau belajar dan terbuka terhadap perubahan memiliki ruang yang lebih besar untuk mengikuti perkembangan pekerjaannya.

Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Keterampilan Lama

Salah satu tantangan SDM saat ini adalah keterampilan yang dibutuhkan perusahaan dapat berubah lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Keterampilan yang dahulu cukup untuk menyelesaikan suatu pekerjaan belum tentu dapat menjawab kebutuhan beberapa tahun ke depan.

Karena itu, pengembangan kompetensi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Reskilling dapat menjadi pilihan ketika seseorang perlu mempelajari keterampilan baru, sedangkan upskilling membantu meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki.

Hal tersebut juga sejalan dengan temuan PwC AI Jobs Barometer 2026. Laporan tersebut menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh sekitar 69 persen, jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang sebesar 9 persen.

Angka tersebut bukan berarti semua orang harus menjadi ahli AI. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mendukung pekerjaan dan terus meningkatkan kemampuan yang relevan dengan bidang masing-masing.

AI Mengubah Keterampilan yang Dicari Perusahaan

Pembahasan mengenai AI sering kali dikaitkan dengan kekhawatiran bahwa teknologi akan menggantikan manusia. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan persoalannya tidak sesederhana itu.

PwC dalam AI Jobs Barometer 2026 menemukan bahwa AI justru meningkatkan kebutuhan terhadap sejumlah keterampilan manusia, seperti kemampuan mengambil keputusan, kreativitas, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi. Dalam beberapa pekerjaan, AI digunakan untuk mengurangi pekerjaan rutin sehingga manusia dapat lebih banyak menggunakan keahlian dan pertimbangannya.

Artinya, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan manusia. Seorang karyawan mungkin dapat menggunakan AI untuk membuat laporan lebih cepat, tetapi tetap dibutuhkan kemampuan untuk memeriksa apakah informasi tersebut benar, memahami konteks pekerjaan, dan menentukan keputusan yang tepat.

Di sinilah pentingnya keseimbangan antara keterampilan teknis dan keterampilan manusia.

Perusahaan Juga Punya Tanggung Jawab

Kesiapan SDM tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab karyawan. Perusahaan juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan karyawan berkembang.

Pelatihan, pembelajaran internal, pendampingan, serta kesempatan untuk mencoba cara kerja baru dapat membantu karyawan menghadapi perubahan. Perusahaan yang menuntut karyawan untuk beradaptasi tanpa memberikan kesempatan belajar justru dapat menciptakan kesenjangan kompetensi.

Data PwC Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 menunjukkan bahwa 69 persen pekerja di Indonesia yang disurvei menyatakan telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir. Namun, penggunaan AI setiap hari masih berada pada angka 16 persen. Data ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi sudah terjadi, tetapi tingkat pemanfaatannya masih beragam.

Karena itu, perusahaan perlu melihat pelatihan bukan hanya sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai bagian dari proses menyiapkan tenaga kerja menghadapi perubahan.

SDM yang Siap Berubah Bukan Berarti Harus Menguasai Semuanya

Beradaptasi dengan perubahan tidak berarti setiap karyawan harus menguasai semua teknologi baru. Kebutuhan kompetensi setiap pekerjaan tentu berbeda.

Seorang pekerja di bidang pemasaran mungkin membutuhkan kemampuan membaca data dan memanfaatkan AI untuk membuat ide konten. Pekerja di bidang pelayanan pelanggan mungkin lebih membutuhkan kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, dan pemanfaatan sistem digital. Sementara itu, tenaga kerja di bidang teknis membutuhkan keterampilan yang lebih spesifik sesuai perkembangan industrinya.

Yang menjadi penting adalah adanya kemauan untuk belajar dan memahami keterampilan apa yang dibutuhkan dalam pekerjaannya.

Dengan begitu, proses adaptasi dapat dilakukan secara bertahap. Karyawan tidak harus langsung menguasai semuanya, tetapi perlu mengetahui keterampilan apa yang perlu dikembangkan.

Masa Depan Bisnis Juga Ditentukan oleh Kesiapan Manusianya

Perubahan lingkungan bisnis akan terus terjadi. Teknologi baru akan muncul, kebutuhan konsumen akan berubah, dan pola kerja dapat berkembang mengikuti kondisi ekonomi serta industri.

Dalam konteks Indonesia, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya generasi muda memperkuat kompetensi dan kemampuan beradaptasi karena AI, digitalisasi, ekonomi hijau, dan perubahan demografi turut mengubah jenis pekerjaan serta cara pekerjaan dilakukan.

Pada akhirnya, kesiapan menghadapi perubahan bukan hanya tentang siapa yang paling menguasai teknologi. Lebih dari itu, kesiapan SDM berkaitan dengan kemauan untuk terus belajar, kemampuan bekerja bersama teknologi, serta kemampuan manusia yang tidak mudah digantikan oleh mesin.

Dunia bisnis boleh berubah secepat apa pun, tetapi perusahaan tetap membutuhkan manusia yang mampu memahami perubahan tersebut. Karena itu, mempersiapkan SDM bukan sekadar mempersiapkan karyawan untuk pekerjaan hari ini, melainkan juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi pekerjaan yang mungkin akan berubah di masa depan.