Konten dari Pengguna

Kisah Sepiring Nasi: Apa pun Makananmu, Kurangi Jejak Karbonnya

Anita Dwi Aminullah

Anita Dwi Aminullah

Mahasiswa Program Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana UnSoed

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anita Dwi Aminullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tentunya kita cukup familiar dengan jingle iklan "Apa pun makanannya, minumnya teh blabla...." Jingle tersebut semestinya bisa kita jadikan slogan dalam perang mengurangi emisi karbon, slogan tersebut adalah "Apa pun makananmu, kurangi jejak karbonnya."

Jejak karbon cukup signifikan untuk dijelaskan pada perjalanan sepiring nasi yang kita konsumsi. Bukan sekadar jauh dekatnya jarak produksi beras dari lokasi tempat tinggal kita saja. Tetapi meliputi proses bertanam padi di sawah hingga siap kita konsumsi.

Tanaman padi dalam masa tanam dan perawatannya akan membutuhkan sekian banyak energi petani yang diperoleh oleh makanan, minuman dan energi BBM kendaraan motor roda dua yang digunakan petani ke sawahnya. Termasuk BBM penggerak traktor untuk membalikkan tanah sawah agar siap ditanami bibit padi. Semua kegiatan tersebut meninggalkan jejak karbon.

Kisah perjalanan butiran nasi ini tentu tidak berbeda jauh dengan produksi sayuran dan bahan makanan lainnya. Sebuah pengorbanan energi yang akhirnya menjadi sebaran dan tumpukan karbon di lingkungan kita. Tinggal bagaimana kita memberikan makna jejak karbon yang dihasilkan dalam proses tersebut.

Sepiring nasi, Dokumentasi Pribadi

Jelas bukan sikap yang bijaksana membiarkan jejak karbon tersebut diabaikan. Semestinya kita tergugah untuk menekan kesia-siaan jejak karbon yang telah kita lakukan. Kita dapat memulai dari diri sendiri untuk berkontribusi mengurangi jejak karbon, di antaranya:

  1. Makanlah sesuai kebutuhan nutrisi tubuh kita, cukup dengan makanan produk lokal yang meminimalkan penggunaan energi BBM.

  2. Hindari bepergian untuk hal-hal yang kurang urgent.

  3. Ajarkan serta mewariskan anak keturunan kita untuk melakukan penghematan utamanya pada penggunaan energi listrik, efisiensi BBM dan air bersih.

  4. Mulai bertanam sayuran dan buah-buahan sebagai pemenuhan kecukupan nutrisi tubuh yang minim jejak karbon

  5. Mengolah sampah organik menjadi kompos. Pengolahan sampah organik menjadi kompos dinilai cukup signifikan mengurangi gas metana yang umumnya dihasilkan tempat pembuangan sampah

Mulailah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam mengurangi pemanasan global. Karena nyatanya menghapus jejak karbon memerlukan effort tersendiri dengan motivasi demi mewariskan pada anak cucu kita sebuah masa depan dan kehidupan. Tidak hanya berhenti pada satu generasi saja, tetapi menata keberlanjutan dan kelestarian fungsi alam bagi kehidupan.