news-card-video
30 Ramadhan 1446 HMinggu, 30 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna

Jumat Malam, Angin, Pulang Kantor, dan Kamar Kos yang Berbisik

Annajm Islamay Wisyesa
Founder Harian Gaming Media S.I.Kom UPN Veteran Yogyakarta ex-Kabiro Cokronews.com Yogyakarta
17 Februari 2025 9:50 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Annajm Islamay Wisyesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Unsplash Free Image (Fadhila Nurhakim)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash Free Image (Fadhila Nurhakim)
ADVERTISEMENT
Kau melangkah keluar dari gedung kantor, menyerap udara Jumat malam yang mulai menyapa. Langit sudah gelap, tapi tak ada beban di pundak. Angin berhembus sejuk, menusuk kulit yang lelah seharian didera layar komputer. Dinginnya tak menusuk, justru seperti pelukan yang menenangkan. Inilah saatnya. Sabtu besok adalah hari bebas—sebuah janji yang membuat setiap langkahmu terasa ringan
ADVERTISEMENT
Kau berdiri di tepi trotoar, tubuhmu masih membawa bau dinding kantor yang pengap, bercampur keringat dan tinta mesin fotokopi. Tapi angin malam itu datang—seperti tangan tak terlihat yang merobek kebisuan dari wajahmu. Ia menyelinap lewat kerah kemeja, menyapu leher yang kaku menahan beban rapat-rapat tak berujung. Kau menutup mata. Di sini, di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, angin itu adalah satu-satunya suara yang tak meminta apa-apa. Ia hanya berbisik: "Kau bebas, kau hidup."
Jarum jam sudah lewat pukul delapan, tapi langkahmu tak lagi terburu. Membiarkan sepatu menggesek aspal perlahan, seolah mendengar gesekan kasarnya, sebagai bukti bahwa hari ini kau masih utuh. Angin itu, ia bukan sekadar berembus. Ia saksi bisu yang tahu bagaimana kau terpaku di balik kaca jendela kantor, menatap langit yang sama, merindukan sesuatu yang tak bisa dipresentasi oleh spreadsheet atau laporan kuartal. Psikolog bilang ini transisi, tapi bagi tubuhmu yang lelah, ini pemberontakan kecil: ritual melepaskan diri dari rantai waktu yang dipatok oleh mesin korporat.
ADVERTISEMENT
Di sudut jalan, seorang penjual sate mengipas bara arang. Asapnya menari bersama angin, membentuk bayang-bayang yang mirip mimpi-mimpi yang terpendam. Kau ingat teori Stress Recovery Theory—udara terbuka, kata mereka, adalah obat bagi jiwa yang terpenjara. Tapi kau tak butuh teori. Kau sudah merasakannya: setiap embusan angin ini adalah pengingat bahwa kau masih punya kulit yang bisa merasakan dingin, paru-paru yang dipenuhi rasa kesegaran
Lampu merah di persimpangan menghentikan langkahmu. Di sebelah, seorang ibu menggendong anak tidur, wajahnya lesu tapi tangannya erat memeluk sesuatu yang lebih berharga dari gaji bulanan. Kau tersenyum. Di kota ini, semua orang adalah pejuang yang mencari secuil damai di sela-sela mesin waktu. Angin malam itu, ia tak memilih. Ia menyapu wajahmu, wajah ibu itu, wajah sopir angkot yang mengantuk—menyamakan semua dalam kesementaraan yang manusiawi.
ADVERTISEMENT
Saat kau berjalan lagi, kau rasakan dinginnya merambat ke tulang rusuk. Ini bukan dingin yang mengiris, melainkan seperti air membersihkan debu mental. Kau ingat kata-kata Pramoedya: "Hidup adalah kerja, kerja, dan kerja. Tapi manusia bukan mesin." Di sini, di bawah langit yang sama sekali tak peduli pada deadline, kau bisa bernapas tanpa diukur KPI. Angin mengalir di antara jemari, membawa serta sisa-sisa tekanan yang kau sembunyikan di balik presentasi pagi tadi.
Di halte bus, seorang pemuda memainkan harmonika. Nadanya pecah, dan angin membawanya jauh—seperti suara dari masa lalu, ketika kau masih percaya bahwa kebahagiaan adalah hal sederhana: main hujan di kampung, lari-lari di sawah. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow mungkin menyebut ini "aktualisasi diri", tapi bagi kau yang terpenjara dalam kemeja dan dasi, ini adalah pengakuan: bahwa jiwa butuh ruang untuk bernyanyi, meski hanya sebentar.
ADVERTISEMENT
Angin itu terus menemani, bahkan saat kau naik ke kendaraan. Ia menyusup lewat jendela yang terbuka, mengusap pelipis yang masih panas oleh teriakan atasan. Kau tak perlu lagi berpura-pura tersenyum. Di sini, di ruang sempit antara bangku dan jendela, kau boleh diam. Boleh menangis. Boleh tertawa. Angin malam adalah teman yang tak pernah menghakimi.
Dan ketika kau turun di depan kos, kau berdiri sejenak. Angin itu berputar-putar di halaman, mengangkat daun kering, seolah berkata: "Lihat, dunia masih berputar tanpa kau mengontrolnya." Kau tarik napas dalam-dalam. Tubuhmu mungkin lelah, tapi ada sesuatu yang menyala di dada—api kecil yang mengingatkan: kau bukan angka di payslip. Kau manusia yang, malam ini, bisa menikmati haknya untuk merasa merdeka.
ADVERTISEMENT
Pintu kos terbuka perlahan, segan mengusik kesunyian yang menyambut. Lampu temaram di sudut kamar menyala redup, membiarkan bayangan-bayangan lelah bergelantung di dinding. Di sini, waktu tak lagi berlari seperti di kantor—ia merayap pelan, seperti tetesan getah dari pohon mangga yang sudah rapuh. Kaus kaki terlepas, jari-jari kaki bersentuhan dengan lantai dingin yang terasa seperti belas kasih. Ah, akhirnya.
Kemeja ketat itu kau lepaskan, diganti kaos oblong lusuh yang sudah pudar warnanya. Kainnya menempel di kulit, menyerap sisa-sisa keringat yang masih enggan pergi. Di sudut kecil ini, tak ada yang menilaimu. Tak ada rapat, tak ada deadline, hanya suara kipas angin berputar lambat, brrrr… brrrr…, seperti nina bobo untuk jiwa yang kecapaian. Kau rebahkan badan di kasur tipis—pegasnya sudah mengeluarkan bunyi protes, tapi itu tak masalah. Bantal-bantal berbau sampo murahan itu kau peluk, dan untuk pertama kalinya hari ini, kau bisa menarik napas panjang tanpa ada yang menyela.
ADVERTISEMENT
Di meja kecil dekat jendela, teko listrik mendidih. Airnya menggelegak, uapnya menari-nari di udara, membentuk lingkaran kabur yang perlahan lenyap. Kau tuang ke gelas bergambar kucing gemuk—hadiah dari mantan kekasih yang dulu bilang, "Ini biar kamu ingat buat minum, bukan kopi melulu." Seduhan teh celup itu kau hirup pelan-pelan. Hangatnya merambat dari tenggorokan ke dada, seperti selimut yang membungkus segala kegelisahan. Di luar, suara motor lewat sesekali menderu, tapi semakin lama semakin sayup, seperti kota itu sendiri sedang menguap.
Laptop masih terbuka, tapi layarnya gelap. Kau biarkan saja. Malam ini, tak ada email yang layak dibaca. Kau lebih memilih menatap langit-langit kamar yang ternoda bekas bocor hujan. Noda-noda itu membentuk pola acak—seperti peta negara imajiner yang hanya bisa kau pahami saat pikiran benar-benar kosong. Ini ritual, kau pikir. Ritual untuk mengingat bahwa di balik nama di ID card, ada manusia yang suka menunda mandi, yang terkadang makan mi instan tengah malam, yang diam-diam menyimpan foto liburan di laci yang jarang dibuka.
ADVERTISEMENT
Teori Work-Life Balance bilang, rumah adalah tempat memulihkan energi yang terkuras di kantor. Tapi di sini, di kamar kos sempit ini, yang kau pulihkan bukan sekadar tenaga—kau sedang menyatukan kembali serpihan identitas yang tercerai-berai selama lima hari. Meja penuh sampah, tumpukan baju kotor di ember, bahkan botol vitamin yang kau lupa minum—semuanya adalah bukti bahwa kau bukan mesin. Kau manusia yang berantakan, yang kadang lupa menjemur handuk, tapi juga manusia yang bisa tertawa sendiri menonton reels kucing jatuh dari lemari.
Sekarang, tubuhmu sudah lemas. Mata berat, tapi kau tak mau tidur dulu. Masih ada malam ini—Jumat malam—yang terasa panjang seperti jalan pedesaan tanpa ujung. Kau putar lagu lawas dari ponsel, volumenya pelan. Suara penyanyinya serak, diiringi gitar akustik yang sumbang. Tapi justru itu yang membuatnya sempurna. Tak perlu nada sempurna untuk mengiringi malam yang tak ingin menuntut apa-apa.
ADVERTISEMENT
Di balik jendela, angin malam menyelinap lewat celah-celah kayu, membelai tirai tipis yang sudah kusam. Bau hujan yang baru reda meresap masuk, bercampur aroma tanah basah. Kau tarik selimut sampai ke dagu. Dinginnya tak mengganggu—ia seperti teman lama yang datang menjemput, membisikkan, "Tidurlah. Besok masih ada hari untuk jadi pahlawan korporat."
Dan perlahan, tanpa kau sadari, mata itu terpejam. Laptop tetap tertutup. Gelas teh tersisa setengah. Tapi di kamar ini, di antara debu dan kenangan, kau sudah menemukan satu hal yang tak bisa dibeli oleh gaji bulanan: kesempatan untuk menjadi bukan siapa-siapa, bahkan jika hanya sebentar.