Konten dari Pengguna

Kala Kusta Melanda Eropa

Annas Eka Wardhana
Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta Aktivis PMII UNJ
16 Mei 2020 12:59 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Annas Eka Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Perkembangan peradaban manusia selalu sejalan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Adanya ilmu pengetahuan membuat manusia atau kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi menjadi lebih baik. Namun, kita perlu sadari juga, bahwa pada dasarnya kehidupan makhluk hidup yang ada di bumi ini tak lepas dari adanya suatu wabah penyakit.
ADVERTISEMENT
Semisalnya saja ketika akhir abad pertengahan di Eropa yang ditandai oleh berbagai musibah dan malapetaka yang meliputi bencana kelaparan, wabah penyakit, dan juga perang. Kusta adalah salah satu wabah yang sangat popular pada abad pertengahan. Kusta merupakan sebuah wabah penyakit dan orang Eropa mengenal wabah ini dengan sebutan Lepra atau Morbus Hansen. Wabah penyakit menular ini disebabkan karena adanya infeksi bakteri Mycobacterium Leprae yang menyerang saraf tepi kulit dan organ tubuh lainnya seperti saraf pusat. Wabah ini merupakan salah satu penyakit menular yang telah menjadi masalah masyarakat dunia khususnya di Eropa ketika abad pertengahan.
Kusta menjadi sangat popular kala itu karena menelan banyak sekali korban jiwa. Kusta tidak mengenal kasta. Seluruh kelas sosial dapat tertular wabah ini, mulai dari kalangan masyarakat bawah hingga kalangan bangsawan. Biasanya penderita kusta mengalami rasa sakit pada bagian-bagian ekstremitas seseorang karena cedera berulang dan juga infeksi yang tidak diobati. Orang yang terinfeksi juga dapat mengalami kelemahan otot dan penglihatan yang buruk.
Sumber: Brilio.net
Untuk sejauh ini, kerangka tertua yang diduga kuat milik penderita Kusta ditemukan di Kawasan Balathal, India. Tepatnya berlokasi di Timur Laut Udaipur, negara bagian Rajashtan. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Gwen Robbins dan kawan-kawan, uji karbon atas temuan dari penggalian pada kurun 1994-1997 tersebut mendapatkan perkiraan asal kerangka yang ditemukan, yaitu sekitar 2000-2500 SM yang artinya kerangka tersebut sudah berusia kurang lebih 4000 tahun. Namun, uji hasil genetika memperkirakan bahwa penyakit ini sudah diderita oleh manusia sejak sekitar 100.000 tahun yang lalu. Fakta-fakta mengenai penyebaran kusta juga masih simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa dimulai dari rubah merah untuk kasus di Inggris, hingga buaya untuk kasus di Afrika. Peyebaran Kusta antar benua ini juga dikaitkan dengan sejarah invasi antarbangsa. Sedangkan referensi tertua untuk Kusta diduga ada dalam Atharva Veda, salah satu kitab suci umat Hindu yang disusun sebelum millennium pertama SM.
ADVERTISEMENT
Catatan awal mengenai penyakit ini ditemukan di Mesir. Catatan ini dipercaya ditulis sekitar tahun 1550 SM. Selanjutnya, sekitar tahun 600 SM, sebuah dokumen berbahasa India menjelaskan tentang suatu penyakit yang ciri-cirinya mirip dengan Kusta. Sedangkan di Eropa, catatan sejarah menyebutkan bahwa Kusta pertama kali muncul di Yunani Kuno, ketika tentara perang Alexander Agung kembali dari India. Setelah itu, Kusta kembali muncul pada tahun 62 SM, bersamaan dengan kembalinya tentara Pompeii dari Asia Kecil. Dalam buku Iron Fire & Ice, kusta menyebar luas di Eropa pada abad ke-14. Diperkirakan satu dari dua ratus orang di Inggris mengidap kusta meskipun sudah mereda pada abad berikutnya. Kusta diperkirakan sudah ada sejak Mesir Kuno, tetapi di Eropa baru merajalela setelah pasukan Alexander membawanya kembali dari India.
ADVERTISEMENT
Ketika awal abad pertengahan kusta mulai menyebar dan menginfeksi banyak orang. Pada tahun 1179 Konsili Lateran ketiga memperintahkan agar seluruh penderita kusta itu dipisahkan. Kengerian pun mulai terjadi di kalangan masyarakat yang sebabkan oleh penyakit kusta ini. Mengenai sudut pandang sosial di masyarakat tentang Kusta pada abad pertengahan kala itu ialah ketakutan. Orang yang terinfeksi wabah tersebut dianggap najis, tidak dipercaya oleh orang lain, dan juga dianggap rusak secara moral. Maka, secara tidak langsung penderita kusta dianggap telah meninggal. Bahkan ketika tahun 1310 tukang cukur ditempatkan di perbatasan-perbatasan untuk mengawasi penderita kusta yang menyelinap masuk.
Sumber: Wikipedia
Kemudian pada tahun 1230, ada 2.000 lokasi di Prancis dan 250 di Inggris untuk penderita kusta yang diharuskan hidup dalam koloni. Diperkirakan oleh klerus Matthew Paris bahwa ada 19.000 penderita kusta di seluruh negara benua Eropa. Bahkan kondisi rumah para penderita kusta ini sangat buruk, sehingga terjadinya pemberontakan penderita kusta di Kingston, Surrey, tahun 1313. Salah satu raja dari keluarga bangsawan yang terkena kusta adalah raja kusta Yerusallem, Baldwin IV, tentara salib yang naik takhta pada usia 13 tahun 1174. Meskipun begitu, kusta hampir punah seluruhnya dari Inggris karena kalah bersaing dengan penyakit yang serupa sehingga dikembangkan imunitas silang oleh penderitanya.
ADVERTISEMENT
Meski manusia telah terlibat dengan penyakit Kusta, masih banyak manusia yang mempercayai mitos-mitos seputar penyakit ini. Yang pertama, Kusta seringkali dianggap sebagai penyakit kutukan. Padahal pada kenyataannya, kusta bukan disebabkan oleh kutukan, guna-guna, makanan, atau penyakit keturunan. Yang kedua, Kusta seringkali dianggap sebagai penyakit masyarakat bawah. Padahal kenyataannya penyakit ini dapat menyerang siapa saja dari semua golongan sosial dan ekonomi masyarakat. Yang ketiga, Kusta dianggap sebagai penyakit orang dewasa dan manula. Sebenarnya, semua orang dari kalangan manapun dan usia berapapun memiliki peluang yang sama untuk tertular penyakit ini. Yang terakhir, ada mitos yang beranggapan bahwa penderita Kusta harus dikucilkan. Sebenarnya hal yang dibutuhkan oleh penderita Kusta ialah dukungan dan motivasi dari keluarga maupun kerabat terdekat.
ADVERTISEMENT
Suatu pelajaran yang dapat kita ambil dari wabah kusta adalah bahwa nyatanya kehidupan manusia dan seisi makhluk yang ada di bumi ini tidak lepas dari suatu permasalahan seperti wabah penyakit yang menular dan menyebabkan kerugian banyak kalangan. Sebuah wabah bisa datang dari mana saja bahkan tempat yang jauh dengan perantara apa saja dari kutu sampai udara. Itu sebabnya kita semua mesti siaga. Menjaga jarak dan waspada, menerapkan gaya hidup sehat dan bersih, pembatasan fisik dan sosial bukan hal baru. Sejarah mencatat itu lumrah dilakukan sejak dulu.
Sumber Referensi:
West, Ed. Iron, Fire, and Ice. Jakarta : Lakuna, 2019.
Pranita, Ellyvon, dkk. “Penyakit Tertua di Dunia dengan Gejala seperti Panu, Itulah Kusta”. Internet, Kompas.com 2019.
ADVERTISEMENT
Tanner, Norman P. Konsili-Konsili Gereja: Sebuah Sejarah Singkat. Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Putri, Nina Hertiwi. “Penyakit Kusta dalam Sejarah, Pernah Dianggap Kutukan di Senua Benua”. Jakarta: Sehatq.com, 2019