Belanja karena Konten Viral: Fenomena yang Sulit Dihindari

Mahasiswa Manajemen (Semester 6) ITB AHMAD DAHLAN JAKARTA
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Anne Rizki Fitriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang pernah membuka TikTok atau Instagram dengan niat hanya melihat-lihat, tetapi beberapa menit kemudian justru tergoda membeli barang yang sedang viral? Mulai dari makanan, skincare, pakaian, hingga peralatan rumah tangga, semua terasa menarik setelah muncul berkali-kali di beranda. Fenomena ini kini semakin sering terjadi, terutama di kalangan anak muda yang aktif menggunakan media sosial.
Media sosial memang telah mengubah cara masyarakat mencari informasi sekaligus mengambil keputusan untuk berbelanja. Jika dulu orang mengenal suatu produk melalui iklan di televisi atau rekomendasi teman, kini cukup melihat video berdurasi kurang dari satu menit. Konten yang menarik, ulasan positif dari kreator, serta ribuan komentar dari pengguna lain mampu membuat sebuah produk langsung menjadi perbincangan.
Tidak sedikit orang yang akhirnya membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, tetapi karena takut kehabisan atau tidak ingin dianggap tertinggal dari tren. Apalagi saat muncul tulisan seperti "stok terbatas", "produk paling laris", atau "diskon hanya hari ini". Strategi pemasaran seperti ini sering kali berhasil mendorong seseorang untuk membeli tanpa berpikir panjang.
Fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Banyak pelaku usaha, khususnya UMKM, berhasil meningkatkan penjualan karena produknya viral di media sosial. Sebuah video sederhana yang mendapat banyak perhatian dapat membawa ribuan pesanan dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi sarana promosi yang efektif dan mampu membuka peluang usaha bagi banyak orang.
Namun, di balik manfaat tersebut, ada hal yang perlu diperhatikan. Kebiasaan membeli barang hanya karena sedang viral dapat memicu perilaku konsumtif. Tanpa disadari, pengeluaran menjadi semakin besar untuk barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Akibatnya, sebagian orang mulai kesulitan mengatur keuangan karena lebih mengutamakan keinginan dibanding kebutuhan.
Bagi mahasiswa dan anak muda yang masih memiliki penghasilan terbatas, kebiasaan ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Rasa penasaran terhadap produk yang sedang ramai dibicarakan sering kali membuat seseorang lupa mempertimbangkan kondisi keuangan. Padahal, mengikuti semua tren bukanlah hal yang harus dilakukan.
Sebelum memutuskan membeli suatu produk, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri, apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya sekadar mengikuti tren. Selain itu, membaca ulasan dari berbagai sumber dan membandingkan kualitas produk juga dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijak.
Media sosial akan terus menghadirkan tren baru setiap hari. Akan selalu ada produk yang menarik perhatian dan membuat banyak orang penasaran. Namun, bukan berarti semua produk viral harus dimiliki. Menjadi konsumen yang cerdas bukan berarti selalu membeli apa yang sedang populer, melainkan mampu memilih sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Di balik semua tren yang bermunculan, kebiasaan mengelola keuangan dengan baik akan memberikan manfaat dalam jangka panjang. Menikmati konten di media sosial tentu tidak ada salahnya, selama kita tetap mampu mengendalikan diri dan tidak mudah terbawa arus hanya karena sebuah produk sedang viral.
