Resensi Film "Surat Untuk Masa Mudaku"

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Annisa Afra Amatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Luka Masa Kecil yang Tak Pernah Benar-benar Pergi.

Judul: Surat Untuk Masa Mudaku
Sutradara: Sim F
Tahun Rilis: 29 Januari 2026
Durasi: 135 menit
Genre: Drama, Keluarga
Pernahkah kita sadar bahwa sebagian ketakutan kita hari ini sebenarnya berakar dari masa kecil dulu? Misalnya, saat anak-anak selalu dilarang mengeksplorasi hal baru, hal itu bisa menumbuhkan rasa takut yang tinggi terhadap kegagalan dan ketidakpastian saat mereka dewasa. Pertanyaan retoris itulah yang terus membayangi pikiran saya sepanjang menonton Surat Untuk Masa Mudaku.
Sim F. kembali menghadirkan karya lewat film Surat Untuk Masa Mudaku yang resmi tayang di Netflix pada 29 Januari 2026. Film ini terinspirasi dari berbagai kisah nyata kehidupan anak panti asuhan yang kemudian disatukan dalam satu benang merah, sehingga ceritanya terasa sangat dekat dengan penontonnya. Film ini menceritakan Kefas yang tumbuh dengan amarah dan trauma hingga dewasa. Cerita dibuka dengan Kefas dewasa (Fendy Chow) yang protective terhadap putrinya, Abigail. Dari situ alur bergerak mundur ke masa lalu, yang menjadi titik balik bagi Kefas untuk menyadari penyebab sikap protektifnya. Disanalah terjalin persahabatan tak terduga antara Kefas remaja pemberontak dan pengasuh di panti asuhan, saat keduanya berusaha untuk berdamai dengan masa lalu yang penuh luka.
Film ini dibintangi oleh Theo Camillo Taslim, Fendy Chow, Agus Wibowo, Aqila Herby, Cleo Haura, dan Halim Latuconsina. Sebelum syuting, mereka melakukan riset langsung ke panti asuhan untuk memahami kehidupan didalamnya. Produser Wilza Lubis menyebutkan tantangan terbesarnya adalah membangun latar masa lalu yang autentik dan proses casting pemeran anak. Sisi kreatif film ini pun memiliki banyak pujian, termasuk pemilihan lagu Kidung yang dinilai sangat pas dengan perjalanan emosional setiap karakter.
Yang saya rasakan setelah menonton film Surat Untuk Masa Mudaku adalah campuran rasa hangat dan sendu. Hal yang paling membekas bagi saya adalah cara film ini menjelaskan sikap protektif Kefas. Di awal, ia terlihat seperti orang tua yang terlalu cemas. Namun setelah alur bergerak mundur ke masa kecilnya di panti asuhan, saja jadi paham awal sikap itu lahir dari rassa takut ditinggalkan lagi. Di titik itu saya tidak lagi menilainya berlebihan, justru ikut memahami. Film ini mengajarkan bahwa di balik sikap keras seseorang sering ada cerita yang belum selesai.
Selain itu, saya juga menyukai persahabatan antara Kefas remaja dengan pengasuh panti asuhan. Hubungan mereka tidak terasa menggurui, tetapi seperti dua orang yang sama-sama kesepian dan saling menemani. Dari situ saya belajar bahwa menyembuhkan luka tidak selalu butuh nasihat panjang, terkadang cukup ada seseorang yang mau hadir dan mendengarkan.
Film ini juga membuat saya berpikir ulang tentang masa kecil saya sendiri. Di usia 20 tahun, saya mulai menyadari bahwa sebagian kebiasaan, ketakutan, dan cara saya bereaksi hari ini ternyata berakar dari pengalaman waktu kecil. Pertanyaan di awal tulisan ini terasa terjawab: apa yang kita alami saat kecil memang bisa terbawa sampai dewasa, dan menjadi tugas kita untuk berdamai dengannya sebelum menjadi beban dalam hubungan kita dengan orang lain, termasuk keluarga dan pasangan kelak.
“Surat Untuk Masa Mudaku” adalah drama hangat tentang luka masa kecil, kekuatan emosi dan hubungan antar tokohnya. Film ini sangat cocok bagi penonton yang menyukai drama keluarga yang menyentuh dan menikmati ritme alur yang lambat. Film ini pas ditonton bersama keluarga atau sahabat dekat, terutama bagi dewasa muda yang sedang belajar berdamai dengan masa lalunya.
