Resensi Novel "Mimpi Padma": Ketika Mimpi Mengungkap Sejarah yang Terlupakan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Annisa Afra Amatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di balik kisah Padma dan Haga, tersimpan kebenaran sejarah seribu tahun yang selama ini salah dipahami banyak orang.

Judul: Mimpi Padma
Penulis: Ayu Dipta Kirana
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: Cetakan ke-2, 06 Januari 2021
Tebal: vi + 224 halaman
ISBN: 978-602-1308-08-7
Sinopsis
Rania Padmadewi, mahasiswi Arkeologi yang masih berduka atas kematian ayahnya, terus dihantui mimpi buruk tentang sang ayah yang hilang ditelan kegelapan. Saat mengulang mata kuliah Hindu-Buddha untuk ketiga kalinya, ia bertemu Haga, asisten dosen yang tatapannya mengingatkan Padma pada ayahnya. Kedekatan mereka tumbuh perlahan lewat lembur memotret temuan arkeologi, hingga Padma mulai mengalami berbagai keanehan. Ternyata, Haga menyimpan rahasia yang berhubungan dengan sejarah dan legenda di balik Candi Prambanan.
Latar Belakang
"Mimpi Padma" lahir dari seorang mahasiswa Arkeologi UGM angkatan 2006 yang bernama Ayu Dipta Kirana. Tujuan penulis membuat novel ini adalah untuk meluruskan kesalahpahaman yang terlanjur populer di masyarakat bahwa arca yang terletak di bilik utara Candi Prambanan dan dikenal sebagai arca "Roro Jonggrang" sebenarnya adalah arca Dewi Durga Mahisasuramardini. Alih-alih menulis karya ilmiah, penulis justru memilih membungkus fakta arkeologis itu dalam kisah remaja yang penuh mimpi, cinta, dan juga duka. Novel ini sangat cocok untuk kalangan dewasa muda (young adult), khususnya penggemar fiksi Indonesia yang memadukan unsur roman, supernatural, dan legenda lokal.
Opini Pribadi
Sebelum saya membaca novel “Mimpi Padma”, saya mengira isinya hanya tentang sejarah karena sampul novelnya bergambar Candi Prambanan. Namun saya salah, ternyata di novel ini juga menyelipkan kisah roman antara Padma dan Haga yang membuat novel ini tidak hanya berisi sejarah yang membosankan. Selain itu, cara penulis menggambarkan kehilangan sosok ayah juga terasa sangat natural dan tidak berlebihan. Tidak ada momen yang dipaksakan, hanya potongan-potongan kecil kenangan bersama sosok ayah yang justru terasa menyayat dengan kesederhanaannya. Oleh karena itu, bagian ini terasa sangat dekat dengan siapa pun yang pernah merasa kehilangan orang tersayang.
Yang membuat saya semakin kagum adalah bagaimana penulis berhasil menyisipkan niat awalnya untuk meluruskan sejarah Candi Prambanan ke dalam alur cerita. Saya yang awalnya mengenal legenda Roro Jonggrang sesuai cerita yang turun-termurun kini mengetahui cerita ini dari susdut pandang yang lain sehingga membuat saya mencari tahu lebih banyak mengenai legenda ini. Tentu saja hal ini menjadi bukti bahwa fiksi bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk mengenal sejarah dan budaya sendiri.
Dari novel ini, ada banyak hal yang dapat dipelajari. Di antaranya bahwa masa lalu sekelam apapun itu layak untuk diluruskan. Melalui kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bandawasa, novel ini mengajarkan bahwa cerita yang selama ini kita dengar belum tentu sepenuhnya benar. Latar belakang arkeologi dalam novel ini turut mengingatkan pembaca pentingnya mengenal akar budaya dan sejarah bangsa sendiri, alih-alih sekadar menerima mitos yang beredar tanpa pernah mempertanyakannya. Selain itu, penting bagi kita untuk selalu menepati janji, karena janji merupakan bentuk cinta yang paling sunyi. Hal ini tergambar jelas lewat janji Padma kepada ayahnya untuk menjaga keluarga, maupun janji Haga untuk kembali hadir dalam hidup Padma. Keduanya menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu diucapkan lantang, tetapi dibuktikan lewat konsistensi dan kesetiaan menunggu.
Kelebihan
Memiliki perpaduan genre yang unik dan jarang ditemukan dalam fiksi remaja Indonesia.
Novel ini memuat riset arkeologi yang autentik, berkat latar belakang penulis yang merupakan lulusan Arkeologi.
Setiap bab dibuka dengan ilustrasi garis tangan yang menggambarkan suasana cerita, sehingga terasa personal dan karismatik.
Plot twist di paruh akhir cerita mengikat tema mimpi, kutukan, dan reinkarnasi secara elegan.
Kekurangan
Struktur alur yang maju-mundur membutuhkan perhatian ekstra dari pembaca agar cerita tetap runtut dan tidak tertukar.
Epilog terasa terlalu terburu-buru. Setelah konflik panjang yang dibangun sepanjang cerita, penyelesaian di bagian akhir terasa datang begitu cepat dan mudah, sehingga kurang memberi ruang bagi pembaca untuk benar-benar merasakan bobot emosional dari resolusi tersebut.
Kesimpulan
Mimpi Padma adalah novel yang berhasil mengemas kegelisahan personal, yaitu kehilangan seseorang yang tersayang, cinta pertama, dan pencarian jati diri, ke dalam bingkai legenda Roro Jonggrang yang ditulis ulang dengan sudut pandang segar. Novel ini cocok dibaca oleh siapa pun yang ingin menikmati kisah roman remaja yang tidak hanya menghibur, tetapi juga diam-diam mengajarkan sepotong sejarah dan arkeologi Nusantara.
