Konten dari Pengguna

Enhancing Indonesia's Role in International Trade (Economic Case Study Kelompok 5)

annisa apriliyanie

annisa apriliyanie

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari annisa apriliyanie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Definisi Global Value Chain

International production trade and investment are increasingly organized within so-called Global Value Chain (GVC) where the different stage of the production process are located across different countries

-OECD

• Sebelumnya negara memproduksi barang secara vertikal, dari hulu sampe hilir

• Saat ini dikarenakan globalisasi, produsen mencari negara dengan harga tenaga kerja rendah di produksi manufaktur, karena nilai tambah dari manufaktur rendah

Fragmentasi

• Fragmentasi dilakukan oleh negara-negara yang memiliki produktivitas tinggi ke negara-negara dengan biaya produksi yang rendah

• Semakin tinggi produktivitas yang dimiliki, semakin tinggi kecenderungan untuk melakukan fragmentasi

Pelaku Global Value Chain yang dapat diikuti oleh Indonesia?

• China, Jepang, dan Korea Selatan

• Secara spesifik, Jepang

• Apa yang akan kita produksi? Apakah harus mengikuti comparative advantage Indonesia?

Comparative Advantage Indonesia

• Agrikultur

• Sulit untuk agrikultur menjadi sektor yang difragmentasi

• Ada cara lain untuk meningkatkan perdagangan agrikultur Indonesia, misalnya dengan bilateral

Lalu sektor apa?

• Disesuaikan dengan produksi dari negara yang akan diikuti

ASEAN cenderung susah untuk kerjasama dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat

• Custom Union: Eropa meng”eksklusif”kan diri

• Common external tariff: Penyamaan tariff melalui pintu (negara) manapun barang masuk

• Ketika Uni Eropa melakukan investasi, tujuan utamanya kemudian kawasan Eropa Timur dan Afrika

• Trump cenderung melakukan proteksionisme

Masalah Indonesia dalam Perdagangan Internasional

• Teknologi terbatas

• Kualitas SDM kurang

• Infrastruktur masih kurang (telekomunikasi dan listrik)

• Restriktif terhadap beberapa sektor

• Biaya produksinya mulai tinggi

Cara penyelesaian

• Foreign Direct Investment ditingkatkan

• Menghilangkan restriksi yang menyulitkan

• Deregulasi untuk regulasi yang menunjang

• Liberalisasi pasar (jasa logistik)

• Insentif pajak

• Perbaikan pendidikan:

1. SMK menyesuaikan dengan permintaan industri

2. Pebaikan kurikulum sesuai dengan permintaan