Konten dari Pengguna

Pengaruh Pembelajaran Online terhadap Tingkat Kedisiplinan Pelajar

Annisa Eka Darmanto

Annisa Eka Darmanto

Mahasiswa akuntansi UIN Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Eka Darmanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu hal yang kita rasakan dari dampak mewabahnya virus Covid-19 adalah perubahan di bidang pendidikan. Sebagai pencegahan penyebaran virus Covid-19, pada tanggal 24 maret 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Yang berisi perubahan metode pembelajaran yang awalnya tatap muka secara langsung menjadi study from home atau pembelajaran online dari rumah masing-masing untuk menghindari terjadinya kerumunan.

Photo by Tim Samuel from Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Tim Samuel from Pexels

Sebelum saya memberikan penjelasan mengenai pengaruh pembelajaran online dengan tingkat kedisiplinan pelajar kita harus mengetahui apa itu kedisiplinan. Kedisiplinan berasal dari kata disiplin, yang berarti sikap mental yang mengandung kerelaan untuk mematuhi semua ketentuan peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab (Gunarsa dalam Ariananda, 2014: 234).

Oleh karena itu, kedisiplinan merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran. Dengan kedisiplinan seseorang akan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dalam mematuhi peraturan yang berlaku.

Namun, akibat diterapkannya metode pembelajaran online tingkat kedisiplinan pelajar semakin menurun. Pertama, yaitu masalah kehadiran. Sarana yang biasa dipakai untuk pembelajaran online di antaranya Zoom, Google Meet, dan Google Classroom. Ada juga beberapa sekolah atau universitas yang memakai website-nya sendiri untuk melakukan pembelajaran online.

Sering kali kita telat ketika hadir atau bahkan tidak hadir di kelas online tersebut. Hal tersebut dapat terjadi apabila tidak ada peraturan yang ketat terkait kehadiran, terlebih pada tingkat SMP ke bawah. Guru sering tidak mengecek kehadiran siswa yang bergabung pada kelas online, yang dapat menimbulkan rasa malas siswa karena merasa tidak akan mendapatkan hukuman apabila telat atau tidak hadir dalam kelas online.

Kedua, untuk tingkat SMA dan mahasiswa lebih berpengaruh terhadap keaktifan dalam proses pembelajaran online. Yang saya alami sendiri sebagai mahasiswa adalah respons untuk pembelajaran dari dosen berkurang, baik dari segi bertanya maupun menjawab pertanyaan dari dosen. Hal itu bisa terjadi karena banyak mahasiswa yang tidak mendengarkan dan menyimak apa yang telah disampaikan dosen.

Tidak jarang ditemukan mahasiswa yang off-cam ketika berlangsungnya zoom meeting. Ketika seorang mahasiswa off-cam akan banyak sekali gangguan, entah munculnya rasa kantuk yang dapat membuat seseorang ketiduran dan menjadi malas mendengarkan penjelasan dosen. Lalu, karena jika off-cam dosen tidak dapat melihat mahasiswanya sedang melakukan apa, tidak jarang ada beberapa mahasiswa yang bermain game saat pembelajaran berlangsung.

Ketiga, terkait dengan pengumpulan tugas. Untuk pengumpulan tugas biasanya menggunakan Google Classroom. Karena pengawasan dalam pembelajaran online tidak seketat ketika pembelajaran tatap muka, banyak pelajar yang menyepelekan tugas yang diberikan. Sehingga ketika diberikan tugas, pelajar sering kali menunda-nunda untuk mengerjakannya. Yang dapat menyebabkan pengumpulan tugas terlambat bahkan tidak mengumpulkan tugas.

Selain itu, pembelajaran online juga membuat pemahaman terhadap materi menurun. Dikarenakan terdapat batasan-batasan, salah satunya adalah kuota dan jaringan internet. Di tingkat universitas mahasiswa berasal dari berbagai daerah, tidak jarang terdapat mahasiswa yang berada di luar Pulau Jawa.

Biasanya jika berada di luar Pulau Jawa jaringan internet kurang stabil, hal ini menyebabkan mahasiswa keluar-masuk zoom meeting. Sehingga dapat mengurangi fokus dalam menyimak penjelasan dari dosen. Atau ketika kuota internet habis, yang menyebabkan mahasiswa keluar dari zoom meeting dan jika tidak ada opsi jaringan internet lain akan membuat mahasiswa tidak dapat bergabung ke dalam kelas online yang sedang berlangsung.

Dan juga metode lain yang biasa dipilih selain zoom meeting adalah dosen mengirimkan materi pembelajaran ke WA Grup atau Google Classroom yang sering diberikan tanpa penjelasan materinya. Hal itu membuat pemahaman terkait materi pembelajaran tidak seoptimal ketika pembelajaran tatap muka.

Kita sebagai pelajar yang bertanggung jawab, walaupun terdapat hambatan seperti virus COVID-19 harus tetap berusaha melaksanakan semua kewajibannya dengan meningkatkan kedisiplinan kita. Tips yang bisa saya berikan adalah jangan begadang terlebih ketika ada kelas online di pagi hari, agar tidak terlambat bergabung ke dalam kelas online tersebut. Lalu, biasakan untuk fokus ketika pembelajaran online dimulai dengan cara jauhkan handphone agar fokus tetap terjaga ketika pembelajaran berlangsung.

Untuk masalah keaktifan dalam mengikuti pembelajaran online, kita bisa menganggap metode pembelajaran online ini sebagai latihan untuk memberikan pendapat. Karena dibanding dengan metode pembelajaran tatap muka, metode pembelajaran online ini mengurangi rasa gugup dan tegang ketika sedang mengeluarkan pendapat terkait materi yang telah disampaikan.

Lalu, usahakan untuk tidak menunda-nunda tugas, sebaiknya ketika tugas tersebut diberikan maka selesai kelas online tersebut bisa langsung dikerjakan agar tidak menumpuk dengan tugas lain.

Saya sangat berharap pandemi COVID-19 ini segera berakhir agar kita dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.