Yogyakarta.

I'm good at pleasing my soul.
Tulisan dari Annisa Fathona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Detak jarum jam ku samar terdengar, mengisyaratkan sedikit keheningan kala itu. Kulirik benda yang setia menempel di tangan kiri ku dengan sigap.
Stasiun Lempuyangan, 19.54.
Aku melihat sekeliling. Kota yang begitu kental dengan budaya, makanan, juga aktivitasnya. Aku tersenyum juga takut. Takut mengingatnya, membuat hati ku menciut kemudian sesak karena menahan butiran hangat keluar dari pelupuk mata ku.
Perlahan hati ku mulai bergidik mengingat tawanya. Tawanya saat melihat ayam di belakang rumah melahap makanan dengan sangat bersemangat ; sudut matanya saling terhimpit, memberikan torehan garis lurus pada matanya. Saat ia tertawa, wajahnya begitu menghibur. Matanya menjadi sipit, pipinya naik, gigi palsu yg menjadi mahkota senyumnya selama bertahun-tahun pun turut ambil bagian.
Ya, ia adalah Bapak ku. Bapak ku saat tertawa, dulu. Saat masih menjadi bagian dari dunia ini. Saat masih menjadi bagian dari kota ini.
