Konten dari Pengguna

Bagaimana Cara Orang Tua Melihat Potensi Anak Sejak Kecil?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Lailatul Fatiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: istock
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: istock

Setiap anak tumbuh dengan cara yang berbeda. Ada anak yang sejak kecil senang menggambar, ada yang terlalu aktif karena selalu ingin bergerak, ada yang suka bertanya tentang banyak hal, dan ada pula yang lebih nyaman mengamati sebelum berbicara.

Hal-hal kecil seperti itu terkadang dianggap sebagai kebiasaan biasa. Padahal, bisa jadi di sanalah potensi anak mulai terlihat.

Potensi anak tidak selalu muncul dalam bentuk nilai akademik atau prestasi. Kemampuan berbicara, rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, hingga kepekaan terhadap orang lain juga dapat menjadi bagian dari potensi yang perlu diperhatikan orang tua.

Lalu, bagaimana sebenarnya orang tua bisa mengenali potensi anak sejak mereka masih kecil?

Perhatikan Hal yang Membuat Anak Antusias

Salah satu cara paling sederhana adalah melihat apa yang membuat anak bersemangat.

Ketika anak sedang melakukan sesuatu yang disukai, biasanya mereka bisa melakukannya dalam waktu cukup lama tanpa merasa terpaksa. Misalnya, anak yang senang menyusun balok mungkin memiliki ketertarikan pada kegiatan yang membutuhkan kreativitas dan kemampuan spasial.

Sementara itu, anak yang senang bercerita atau bertanya tentang berbagai hal mungkin memiliki kemampuan komunikasi dan rasa ingin tahu yang kuat.

Orang tua tidak perlu buru-buru menentukan “Anak saya pasti akan menjadi ini.” Cukup amati terlebih dahulu.

Dengarkan Pertanyaan-Pertanyaan Mereka

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Pertanyaan sederhana seperti “Kenapa langit berwarna biru?” atau “Kenapa orang harus punya aturan?” mungkin terdengar sepele bagi orang dewasa.

Namun, kebiasaan bertanya dapat menunjukkan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu dan dorongan untuk memahami sesuatu.

Karena itu, daripada langsung meminta anak berhenti bertanya, orang tua dapat menjadikan pertanyaan tersebut sebagai kesempatan untuk berdiskusi.

Bisa jadi, dari pertanyaan-pertanyaan kecil itu muncul minat yang terus berkembang ketika mereka bertambah besar.

Perhatikan Cara Anak Menyelesaikan Masalah

Potensi juga dapat terlihat dari cara anak menghadapi kesulitan.

Misalnya, ketika mainannya rusak, apakah ia mencoba memperbaikinya? Ketika susunan baloknya jatuh, apakah ia mencoba membuatnya kembali dengan cara berbeda?

Hal sederhana tersebut dapat menunjukkan kemampuan berpikir, kreativitas, ketekunan, dan kemampuan mencari solusi.

Anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang langsung memberikan jawaban mereka justru membutuhkan ruang untuk mencoba.

Jangan Hanya Melihat Nilai Akademik

Nilai sekolah memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran kemampuan anak.

Ada anak yang mungkin tidak terlalu menonjol dalam matematika, tetapi memiliki kemampuan menggambar yang luar biasa. Ada yang nilainya biasa saja, tetapi mampu berkomunikasi dengan baik. Ada juga yang tidak banyak bicara di kelas, tetapi sangat peka terhadap perasaan teman-temannya.

Potensi anak memiliki banyak bentuk.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak membuat anak merasa bahwa dirinya hanya berharga ketika mendapatkan nilai tinggi atau menjadi juara.

Berikan Kesempatan untuk Mencoba Banyak Hal

Anak tidak akan selalu langsung mengetahui apa yang mereka sukai.

Orang tua dapat memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai aktivitas, seperti membaca, menggambar, olahraga, musik, permainan konstruksi, memasak, atau kegiatan sosial.

Dari berbagai pengalaman tersebut, orang tua dapat melihat aktivitas mana yang membuat anak paling menikmati prosesnya.

Tidak masalah jika anak mencoba sesuatu kemudian merasa tidak cocok. Mengenali apa yang tidak disukai juga merupakan bagian dari proses menemukan potensi.

Hindari Membandingkan Anak dengan Anak Lain

Setiap anak memiliki waktu tumbuh yang berbeda.

Ketika seorang anak belum menunjukkan kemampuan tertentu pada usia yang sama dengan teman-temannya, bukan berarti ia tidak memiliki potensi.

Lebih baik orang tua membandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri: apakah hari ini ia sudah berkembang dibandingkan sebelumnya?

Amati, Dampingi, Bukan Memaksa

Mengenali potensi anak bukan berarti menentukan masa depan anak sejak usia dini.

Orang tua berperan sebagai pendamping yang membantu anak mengenali dirinya sendiri. Anak tetap membutuhkan ruang untuk memilih, mencoba, gagal, dan menemukan apa yang benar-benar ia sukai.

Sebab, tugas orang tua bukan menciptakan masa depan anak sesuai keinginan mereka. Terkadang, tugas yang jauh lebih penting adalah membantu anak menemukan jalan menuju masa depannya sendiri.