Benarkah Perempuan Tidak Boleh Terlalu Sukses?

Mahasiswi Hukum Pidana Islam S-1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Annisa Lailatul Fatiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: mengapa perempuan begitu sering diberi batasan atas apa yang boleh mereka impikan?
Perempuan sejak kecil sering diajarkan bagaimana cara menjadi “perempuan yang baik”. Harus lembut, tidak boleh terlalu keras, harus menjaga sikap, tidak boleh terlalu ambisius, dan sebisa mungkin tidak membuat orang lain merasa terancam dengan keberhasilannya.
Di sisi lain, laki-laki sering kali didorong untuk berani mengambil keputusan, menjadi pemimpin, mengejar karier, dan memiliki cita-cita setinggi mungkin.
Perbedaan pola pendidikan ini kemudian membentuk cara masyarakat melihat perempuan dan laki-laki. Laki-laki yang tegas disebut memiliki jiwa kepemimpinan. Perempuan yang tegas justru sering disebut galak. Laki-laki yang ambisius dianggap memiliki masa depan. Perempuan yang ambisius kadang dianggap terlalu mengejar karier.
Salah satu hal yang menarik dalam pembahasan tentang perempuan adalah bagaimana perempuan sering kali harus membuktikan dirinya berkali-kali lebih banyak.
Di sinilah terlihat bahwa standar yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki masih sering berbeda.
Perempuan seolah-olah harus berhasil, tetapi tidak boleh terlalu terlihat berhasil. Harus pintar, tetapi tidak boleh membuat orang lain merasa bodoh. Harus mandiri, tetapi tetap harus terlihat membutuhkan orang lain. Harus memiliki karier, tetapi tetap dituntut untuk bertanggung jawab penuh terhadap urusan rumah tangga.
Perempuan seharusnya memiliki pilihan.
Ada perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga. Ada yang ingin berkarier. Ada yang ingin melakukan keduanya. Ada pula yang memiliki pilihan hidup yang berbeda.
Semua pilihan tersebut seharusnya tidak membuat nilai seorang perempuan menjadi lebih tinggi atau lebih rendah.
Patriarki Tidak Hanya Merugikan Perempuan
Sering kali, ketika membicarakan patriarki, pembahasannya dianggap sebagai bentuk kebencian terhadap laki-laki. Padahal, patriarki juga dapat memberikan tekanan kepada laki-laki.
Kalimat seperti “laki-laki tidak boleh cengeng” mungkin terdengar biasa saja. Namun, jika terus-menerus diulang, kalimat tersebut dapat membuat laki-laki merasa tidak memiliki ruang untuk menunjukkan emosi.
Patriarki tidak hanya menciptakan batasan bagi perempuan. Ia juga menciptakan standar yang membebani laki-laki.
Perempuan dianggap harus selalu lembut. Laki-laki dianggap harus selalu kuat.
Perempuan dianggap harus mengurus rumah. Laki-laki dianggap tidak perlu terlibat terlalu banyak dalam pekerjaan domestik.
Perempuan dituntut untuk menjaga perasaan semua orang. Laki-laki dituntut untuk tidak menunjukkan perasaannya sendiri.
Laki-laki boleh lelah. Perempuan boleh memimpin. Laki-laki boleh mengurus anak. Perempuan boleh memiliki cita-cita besar.
Perempuan Tidak Harus Memilih antara Pendidikan dan Keluarga
Salah satu bentuk patriarki yang masih sering ditemukan adalah anggapan bahwa pendidikan tinggi dan karier bagi perempuan hanya menjadi “sia-sia” jika pada akhirnya mereka menikah.
Pertanyaan seperti “untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau nanti juga mengurus rumah?” masih sering terdengar.
Padahal pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan. Melainkan juga membentuk cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, memahami dunia, dan juga menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan.
Pada akhirnya, perempuan tidak seharusnya terus-menerus diminta menyesuaikan diri agar sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Mereka berhak memiliki suara, pilihan, dan mimpi.
Karena perempuan tidak dilahirkan untuk hidup dalam batasan. Mereka berhak tumbuh, memilih, dan menjadi dirinya sendiri.
