Kenapa Anak di Luar Terlihat Ceria, Tapi di Rumah Justru Mudah Marah?

Mahasiswi Hukum Pidana Islam S-1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Annisa Lailatul Fatiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Di luar sopan banget, kok di rumah malah galak?”
Kalimat seperti itu sering terdengar dari banyak orang tua. Anak yang dikenal ramah di sekolah, aktif bersama teman, bahkan mudah membantu orang lain, terkadang berubah menjadi lebih sensitif saat berada di rumah. Hal kecil bisa memicu emosi. Nada bicara meninggi. Kadang jawabannya terdengar ketus.
Fenomena ini sering membuat orang tua sedih dan bertanya-tanya, “Apa anakku lebih nyaman dengan orang lain dibanding keluarganya sendiri?”
Padahal, kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Rumah justru sering menjadi tempat paling aman bagi anak untuk menunjukkan emosi yang selama ini mereka tahan di luar.
Di lingkungan sosial, anak biasanya berusaha menjaga sikap. Mereka belajar menyesuaikan diri, menahan kesal, menjaga ekspresi, bahkan berpura-pura baik-baik saja agar diterima lingkungan. Sekolah, pertemanan, tugas, tekanan akademik, sampai ekspektasi sosial bisa membuat anak lelah secara mental tanpa mereka sadari.
Bayangkan seseorang yang seharian memakai “topeng tenang” di luar. Ketika pulang ke rumah, tempat yang dianggap paling nyaman, topeng itu perlahan dilepas. Emosi yang tertahan akhirnya keluar begitu saja. Kadang bentuknya bukan tangisan, melainkan nada tinggi, mudah tersinggung, atau sikap cuek kepada orang tua.
Bukan karena mereka tidak sayang keluarga. Justru sering kali karena mereka merasa rumah adalah satu-satunya tempat untuk menjadi diri sendiri.
Namun, hal ini tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk melukai perasaan orang tua, anak tetap perlu belajar mengelola emosi dengan sehat. Begitu juga orang tua, yang terkadang perlu memahami bahwa kemarahan anak tidak selalu berarti kebencian.
Sayangnya, banyak keluarga langsung terjebak dalam pertengkaran tanpa mencoba memahami akar emosinya orang tua merasa tidak dihargai, sementara anak merasa tidak dimengerti dan akhirnya rumah berubah seperti medan perang kecil yang dipenuhi suara tinggi dan pintu tertutup.
Padahal, solusi sederhana sering dimulai dari hal yang jarang dilakukan yaitu mendengarkan.
Tidak semua anak pandai menjelaskan isi pikirannya ada yang memilih diam karena takut dianggap berlebihan ada juga yang melampiaskan emosi karena sebenarnya mereka ingin diperhatikan.
Kalimat seperti: “capek ya hari ini?” atau “ada yang bikin kamu kepikiran?”
kadang terdengar sederhana, tetapi bisa membuat anak merasa dipahami tanpa dihakimi.
Di sisi lain, anak juga perlu belajar bahwa orang tua bukan tempat sampah emosi orang tua pun manusia yang bisa lelah dan terluka, hubungan keluarga yang sehat bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang siapa yang mau saling memahami lebih dulu.
Karena, rumah seharusnya menjadi tempat pulang yang menenangkan, bukan tempat di mana semua luka dilampiaskan tanpa arah.
Mungkin anak tidak selalu pandai menunjukkan kasih sayang lewat kata-kata tetapi, di balik nada kesal dan wajah lelah itu, ada seseorang yang sebenarnya hanya ingin dimengerti.
