Kenapa Perempuan Rentan Mengalami Manipulasi Psikis dalam Hubungan?

Mahasiswi Hukum Pidana Islam S-1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Annisa Lailatul Fatiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam sebuah hubungan, perempuan sering dianggap sebagai pihak yang lebih banyak memikirkan perasaan. Memikirkan perasaan pasangan, menjaga komunikasi tetap baik, menghindari konflik, bahkan terkadang mengesampingkan perasaan sendiri demi mempertahankan hubungan.
Persoalannya bukan karena perempuan terlalu emosional. Ada banyak faktor sosial dan budaya yang membuat perempuan sejak kecil lebih sering diajarkan untuk memahami perasaan orang lain, menjaga sikap, dan menjadi pihak yang “mengerti”.
Ketika pola tersebut terbawa ke dalam hubungan, perempuan bisa menjadi sangat toleran terhadap perilaku pasangan. Ia mencoba memahami pasangan yang sedang marah, memaklumi sikap posesif, memberikan kesempatan berkali-kali, bahkan mencari kesalahan dalam dirinya sendiri ketika hubungan mulai terasa tidak sehat.
Di sinilah manipulasi psikologis dapat terjadi.
Saat Memahami Berubah Menjadi Mengabaikan Diri Sendiri
Memahami pasangan sebenarnya merupakan bagian sehat dari sebuah hubungan. Masalah muncul ketika hanya satu pihak yang terus-menerus diminta memahami.
Misalnya, ketika pasangan melakukan kesalahan lalu mengatakan, “Kamu terlalu sensitif” atau “Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti mengerti aku.”
Kalimat tersebut dapat membuat seseorang mempertanyakan perasaannya sendiri. Ia mulai berpikir bahwa mungkin dirinya memang terlalu sensitif, terlalu menuntut, atau terlalu banyak berharap.
Padahal, memiliki batasan dan merasa terluka bukan berarti seseorang tidak memahami pasangannya.
Manipulasi psikologis sering kali tidak hadir dalam bentuk yang dramatis. Kadang berupa kalimat-kalimat kecil yang diulang terus-menerus sampai seseorang mulai meragukan penilaiannya sendiri.
Salah satu bentuk yang dikenal adalah gaslighting, yaitu pola perilaku yang membuat seseorang mempertanyakan ingatan, persepsi, atau penilaiannya terhadap suatu kejadian.
Mengapa Perempuan Bisa Bertahan Lebih Lama?
Pertanyaan yang kerap muncul adalah “Kalau hubungannya sudah tidak sehat, kenapa tidak pergi saja?”
Jawabannya tidak semudah itu.
Seseorang bisa bertahan karena masih mencintai pasangannya, berharap keadaan akan berubah, mengingat masa-masa baik dalam hubungan, takut kehilangan, atau merasa bahwa dirinya ikut bertanggung jawab untuk memperbaiki semuanya.
Perempuan yang terbiasa menjadi pihak yang menjaga hubungan juga mungkin merasa bahwa meninggalkan hubungan berarti gagal mempertahankan sesuatu yang sudah dibangun bersama.
Akibatnya, muncul siklus yang melelahkan: pasangan melakukan kesalahan, meminta maaf, hubungan membaik sementara, kemudian pola yang sama kembali terjadi.
Lama-kelamaan, standar tentang hubungan yang sehat pun dapat bergeser.
Hal yang dulu dianggap tidak bisa diterima perlahan menjadi sesuatu yang “biasa”.
Cinta Seharusnya Tidak Membuat Seseorang Meragukan Dirinya Sendiri
Dalam hubungan yang sehat, perasaan seharusnya dapat dibicarakan tanpa seseorang harus takut akan dianggap berlebihan.
Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Marah juga manusiawi. Namun, menyalahkan pasangan secara terus-menerus, mengontrol, merendahkan, mengancam, atau membuat seseorang merasa bersalah setiap kali menyampaikan kebutuhan bukanlah bentuk komunikasi yang sehat.
Mencintai seseorang tidak berarti harus selalu memahami dirinya sambil mengabaikan diri sendiri.
Perempuan boleh peduli terhadap perasaan pasangannya, tetapi perasaannya sendiri juga memiliki tempat yang sama pentingnya.
Hubungan yang sehat adalah ketika dua orang sama-sama memiliki ruang untuk berbicara, didengar, dihargai, dan memiliki batasan.
Menjadi pasangan yang baik tidak seharusnya mengharuskan seseorang berhenti menjadi dirinya sendiri.
