Konten dari Pengguna

Mengapa Membandingkan Anak dengan Orang Lain Bisa Berdampak Buruk?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Lailatul Fatiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak dan orang tua.  Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak dan orang tua. Foto: Thinkstock

"Kenapa kamu nggak sepintar kakak?" atau "Lihat tuh anak tetangga selalu juara."

Kalimat seperti ini mungkin pernah didengar banyak anak. Sebagian orang tua menganggap perbandingan sebagai cara untuk memotivasi. Alih-alih membuat anak berkembang, kebiasaan tersebut justru dapat meninggalkan dampak emosional yang bertahan hingga dewasa.

Psikolog menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kepribadian, kemampuan, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ada yang unggul di bidang akademik, ada yang berbakat dalam seni, olahraga, atau memiliki kecerdasan sosial yang baik. Karena itu, membandingkan anak dengan orang lain bukanlah ukuran yang adil.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang sering dibandingkan cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih rendah. Mereka dapat merasa tidak cukup baik, lebih mudah cemas, dan menganggap kasih sayang orang tua bergantung pada prestasi yang diraih. Akibatnya, anak lebih fokus mengejar pengakuan daripada menikmati proses belajar.

Dampak lainnya adalah munculnya rasa iri dan persaingan yang tidak sehat. Jika perbandingan dilakukan antar saudara, hubungan mereka bisa menjadi renggang. Anak mungkin melihat saudaranya sebagai "lawan" yang harus dikalahkan, bukan sebagai teman yang saling mendukung.

Dalam jangka panjang, kebiasaan membandingkan juga dapat membuat anak takut gagal. Mereka memilih menghindari tantangan karena khawatir hasilnya tidak sesuai harapan dan kembali menerima kritik. Padahal, kegagalan merupakan bagian penting dari proses belajar dan membangun karakter.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

Daripada membandingkan, fokuslah pada perkembangan anak dibandingkan dengan dirinya di masa lalu. Misalnya, jika dulu anak kesulitan membaca lalu kini mampu menyelesaikan satu buku cerita, itu adalah kemajuan yang layak diapresiasi.

Orang tua juga dapat memberikan pujian yang spesifik, seperti, "Ibu senang kamu tetap berusaha meski soal ini sulit." Kalimat seperti ini membantu anak memahami bahwa usaha, ketekunan, dan proses sama berharganya dengan hasil.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dukungan cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, berani mencoba hal baru, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Mereka belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh perbandingan dengan orang lain, melainkan oleh kemauan untuk terus berkembang.

Karena, setiap anak memiliki garis waktunya sendiri. Ada yang berkembang lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Tugas orang tua bukan membuat semua anak menjadi sama, tetapi membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan potensi terbaiknya. Sebab, anak tidak membutuhkan orang tua yang terus membandingkan, melainkan orang tua yang percaya bahwa setiap langkah kecil mereka juga layak untuk dirayakan.