Sandwich Generation: Ketika Anak Harus Menjadi Tumpuan Keluarga

Mahasiswi Hukum Pidana Islam S-1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Annisa Lailatul Fatiqah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah Sandwich Generation ini menggambarkan seseorang yang berada di tengah-tengah dua generasi. Mereka harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan juga memiliki tanggung jawab untuk membantu orang tua dan dalam beberapa kasus, anak atau anggota keluarga lainnya.
Bukan Hanya Soal Uang
Ketika mendengar istilah generasi sandwich, banyak orang langsung mengaitkannya dengan masalah finansial. Ada yang harus membantu membayar kebutuhan rumah tangga, biaya pendidikan adik, kebutuhan kesehatan orang tua, hingga berbagai keperluan lainnya. Ada juga yang menjadi tempat bergantung secara emosional bagi keluarganya.
Akibatnya seseorang merasa seperti sedang menjalani banyak peran sekaligus. Sebagai anak, pencari nafkah, kakak, pasangan, atau bahkan orang tua bagi adik-adiknya.
Di tengah semua tanggung jawab tersebut mereka sering lupa bahwa dirinya sendiri juga memiliki kebutuhan.
Ketika Keinginan Harus Menunggu
Salah satu hal yang cukup sering dialami generasi sandwich adalah harus menunda keinginan pribadi.
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan, membeli sesuatu, bepergian, membangun tabungan, atau sekadar menikmati hasil kerja keras terkadang harus ditunda karena ada kebutuhan keluarga yang lebih mendesak.
Hal ini tentu tidak selalu mudah. Di satu sisi, membantu keluarga bisa menjadi bentuk kasih sayang dan tanggung jawab. Namun di sisi lain, seseorang juga dapat merasa lelah karena terus-menerus mengesampingkan dirinya sendiri.
Perasaan tersebut bukan berarti seseorang tidak menyayangi keluarganya. Justru, manusia tetap memiliki batas kemampuan, baik secara fisik, mental, maupun finansial.
Beban yang Sering Tidak Terlihat
Generasi sandwich sering kali terlihat kuat di mata orang lain. Mereka tetap bekerja, kuliah, mengurus keluarga, dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Ada rasa khawatir ketika penghasilan tidak cukup. Ada rasa bersalah ketika tidak bisa membantu. Ada ketakutan akan masa depan. Bahkan ada juga perasaan bingung karena tidak tahu harus mendahulukan kebutuhan siapa.
Beban seperti ini terkadang sulit diceritakan karena muncul anggapan bahwa sebagai anak, seseorang memang sudah seharusnya membantu keluarga.
Padahal, membantu keluarga tidak berarti harus mengorbankan seluruh diri sendiri.
Tidak Harus Menjalani Semuanya Sendirian
Menjadi bagian dari generasi sandwich memang bukan situasi yang sederhana. Namun, bukan berarti seluruh beban harus ditanggung sendirian.
Komunikasi dengan keluarga menjadi salah satu hal penting. Membicarakan kondisi keuangan, menentukan prioritas, dan membuat batasan yang realistis dapat membantu mengurangi tekanan.
Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa membantu keluarga tidak selalu berarti memenuhi semua kebutuhan mereka.
Seseorang tetap boleh memiliki tujuan pribadi. Tetap boleh menabung untuk masa depan. Tetap boleh beristirahat. Bahkan, tetap boleh mengatakan “tidak” ketika sudah berada di luar batas kemampuan.
Merawat Diri Bukan Bentuk Egois
Banyak orang dalam posisi generasi sandwich merasa bersalah ketika menggunakan uang atau waktu untuk dirinya sendiri.
Padahal, merawat diri bukanlah bentuk egoisme.
Jika seseorang terus-menerus mengabaikan kesehatan fisik, mental, dan finansialnya, bukan tidak mungkin ia justru akan mengalami kesulitan yang lebih besar di kemudian hari.
Kita boleh lelah. Kita boleh takut. Kita boleh memiliki impian sendiri.
Membantu keluarga adalah hal yang mulia, tetapi kehidupan seseorang juga tetap memiliki nilai. Di antara tanggung jawab dan keinginan pribadi, mungkin yang paling penting bukan memilih salah satunya, melainkan belajar menemukan keseimbangan.
Karena setiap orang berhak untuk membantu keluarganya tanpa kehilangan dirinya sendiri.
