Hanami: Lebih dari Sekadar Piknik, Sebuah Filosofi Hidup Orang Jepang

Hallo!! Saya Annisa Fitri seorang Mahasiswa Sastra Jepang di Universitas Andalas.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Annisa Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musim semi di Jepang sangat terkenal dengan keindahan bunga sakuranya. Setiap musim semi, Jepang bertransformasi menjadi hamparan merah muda ketika bunga sakura mekar. Lembut merah muda hamparan sakura menghiasi taman-taman, kuil ataupun tepi sungai. Tidak heran kenapa Jepang dikenal sebagai negeri Sakura. Selain indah, ini menjadi tradisi kebudayaan Jepang yang sudah berlangsung lama yaitu Hanami. Istilah Hanami (花見) terdiri dari dua kata yaitu "hana" (花) yang berarti "bunga" dan "mi" (見) yang berarti "melihat". Secara harfiah, Hanami artinya "melihat bunga".
Tradisi Hanami diperkirakan sudah dimulai sejak periode Nara yaitu sekitar tahun 710-714 Masehi. Pada awalnya bunga yang dijadikan objek untuk Hanami adalah bunga Ume (plum). Hanami baru mulai diindentikkan dengan bunga sakura sejak periode Heian, yaitu sekitar tahun 794-1185 Masehi. Pada masa itu, Kaisar Saga mengadakan pesta melihat bunga sambil minum sake. Bunga yang dimaksud di sini adalah bunga sakura yang pohonnya mekar di Istana Kekaisaran Kyoto. Di pesta tersebut, dibacakan puisi-puisi yang memuji keindahan bunga sakura. Sejak saat itu, Hanami dikenal sebagai tradisi untuk melihat mekarnya bunga sakura.
Hanami awalnya hanya dilakukan oleh kaubangsawan atau kalangan atas saja. Sejak abad ke-17 baru lah Hanami menyebar luas dan turut dilakukan oleh kalangan biasa sampai saat ini. Sekarang Hanami biasanya dirayakan dengan berpiknik, berfoto-foto, ataupun mengadakan pesta di tempat-tempat yang ditumbuhi pohon sakura. Masyarakat Jepang umumnya merayakan Hanami bersama keluarga, teman, ataupun rekan kerja. Tidak sedikit juga yang merayakan Hanami pada malam hari khususnya di Tokyo. Hanami pada malam hari disebut dengan "Yozakura" yang artinya "sakura malam". Suasana Hanami di malam hari tak kalah indah, dihiasi oleh lentera-lentera yang dinyalakan di antara dahan pohon sakura. Selain itu terdapat beberapa etika yang harus dipatuhi saat Hanami berlangsung. Pengunjung dilarang untuk menyalakan api, meninggalkan sampah, menyentuh cabang pohon sakura, dan juga menyalakan musik. Hal tersebut dikarenakan tradisi Hanami sangat mengedepankan suasana yang tenang untuk menghormati alam.
Hanami biasanya berlangsung antara akhir Maret hingga awal Mei, tergantung wilayahnya. Di daerah selatan Jepang seperti Okinawa sakura mekar lebih awal tepatnya di bulan Januari, sementara di Hokkaido sakura baru bermekaran di penghujung April. Hal tersebut merupakan salah satu keunikan bunga sakura yang mekarnya dimulai dari wilayah selatan baru ke utara. Pemerintah Jepang setiap tahun selalu mengumumkan ramalan “Sakura Zensen”, yaitu semacam prediksi kapan bunga sakura akan mekar penuh di berbagai wilayah di Jepang. Meskipun sudah diprediksi, mekarnya bunga sakura yang relatif singkat tetap menjadi tantangan untuk menemukan kapan moment terbaik untuk melakukan Hanami. Cuaca selama musim semi juga sangat berpengaruh sehingga kadang mekarnya bisa saja lebih cepat ataupun lebih lambat dari perkiraan. Tempat-tempat seperti Ueno Park dan Shinjuku Gyoen di Tokyo, Kuil Heian dan Maruyama Park di Kyoto, serta taman di sekitar Kastil Himeji di Hyogo dikenal sebagai tempat favorit untuk merayakan Hanami.
Hanami tidak hanya sekadar menikmati mekarnya sakura. Bagi orang Jepang, Hanami memiliki makna yang mendalam karena mekarnya bunga sakura melambangkan siklus kehidupan. Keindahan bunga sakura yang relatif singkat menggambarkan bahwa kehidupan ini bersifat fana. Hal ini mencerminkan konsep “Mono no Aware”, yaitu kesadaran akan kefanaan dan keindahan yang sifatnya sementara. Hanami mengingatkan kita untuk menikmati keindahan yang ada dan menyadari kalau itu semua tidak lah abadi. Selain itu, di musim semi di Jepang juga menandakan awal tahun ajaran baru.
Melalui tradisi Hanami, kita tidak hanya sekadar menikmati alam, tetapi juga mendapat pelajaran bahwa kehidupan ini hanya sementara. Layaknya bunga sakura yang mekar dengan indah namun singkat, kita juga harus menghargai kehidupan kita karena waktu akan terus berlalu dan keindahan tidak akan berlangsung selamanya.
