Mahasiswa Hari Ini: Aktif di Mana-mana, Lelah di Mana-mana

Aktivis Sosial dan Mahasiswi Psikologi di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Annisa Indri Munahayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi mahasiswa saat ini sering berarti menjalani rutinitas yang hampir tak pernah berhenti. Pagi dihabiskan untuk kuliah, siang untuk rapat organisasi, sore untuk bekerja atau menangani tanggung jawab lainnya, dan malam untuk menyelesaikan tugas. Di tengah itu, masih ada ekspektasi untuk aktif di media sosial, menjaga hubungan, dan memikirkan karier masa depan. Hari-hari terasa padat, namun di sinilah rasa lelah sering muncul.
Kesibukan mahasiswa sering dianggap sebagai hal yang patut dibanggakan. Semakin banyak peran yang diemban, semakin dianggap produktif. Banyak mahasiswa merasa harus terlibat di berbagai bidang agar tidak dianggap pasif atau kurang maju. Akibatnya, mereka menjalani hari bukan karena siap, melainkan karena khawatir ketinggalan.
Namun, kelelahan yang timbul bukan selalu fisik. Ada jenis lelah yang lebih halus—lelah batin. Perasaan berat saat memulai hari, kesulitan merasa puas meski tujuan tercapai, atau munculnya rasa bersalah ketika memilih istirahat. Lelah seperti ini sering tidak disadari karena tidak terlihat dari luar. Dari jauh, segalanya tampak baik-baik saja.
Banyak mahasiswa belajar menekan perasaan itu. Mengeluh dianggap berlebihan, dan mengakui kelelahan sering disalahartikan sebagai ketidakmampuan. Ada dorongan kuat untuk bertahan, bahkan saat energi habis. Dalam diam, mereka menormalisasi kelelahan sebagai bagian dari "proses dewasa".
Lingkungan juga ikut membentuk pola ini. Kisah tentang prestasi lebih sering dibagikan daripada kisah tentang kelelahan. Media sosial memperkuat ilusi bahwa semua orang mampu menangani banyak hal sekaligus. Tanpa sadar, mahasiswa mulai membandingkan diri dengan orang lain, bukan dengan kemampuan pribadi.
Di lain pihak, masa mahasiswa adalah periode transisi penuh. Ada tekanan akademik, harapan keluarga, dan kecemasan tentang masa depan yang tidak pasti. Banyak keputusan besar harus diambil dalam waktu singkat. Tekanan ini jarang disertai keterampilan mengelola emosi yang cukup. Jadi, tidak heran jika kelelahan menjadi pengalaman umum.
Masalahnya bukan pada aktivitas itu sendiri, melainkan pada hilangnya kesempatan untuk berhenti sebentar. Mahasiswa jarang didorong merefleksikan pilihan mereka: apakah semua peran itu masih berarti, atau hanya dijalani untuk memenuhi standar tertentu. Tanpa refleksi, kesibukan mudah berubah menjadi beban.
Perlu diingat bahwa tidak semua aktivitas membawa kemajuan. Kadang, mengurangi peran justru membuat seseorang lebih hadir secara menyeluruh. Istirahat bukan berarti mundur, dan mengatakan "sudah cukup" bukan tanda gagal. Tubuh dan pikiran punya batas yang harus dihormati.
Mahasiswa perlu berani mengenali sinyal dari diri sendiri. Rasa lelah bisa jadi pesan bahwa ada kebutuhan yang terabaikan. Mendengarkan diri, memberikan jeda, dan menata prioritas adalah cara menjaga kesehatan mental, bukan kemewahan.
Lingkungan akademik dan sosial juga bertanggung jawab. Budaya yang hanya menghargai kesibukan tanpa peduli kesejahteran bisa memperpanjang kelelahan bersama. Dukungan emosional, ruang diskusi, dan pengakuan bahwa setiap mahasiswa punya kapasitas berbeda penting untuk dikembangkan.
Akhirnya, menjadi mahasiswa bukan tentang seberapa ramai jadwalnya, melainkan bagaimana proses itu dilalui dengan sadar. Aktif di mana-mana mungkin terlihat tangguh, tetapi mampu merawat diri di tengah tuntutan jauh lebih berarti. Lelah tidak selalu harus diperangi. Kadang, ia hanya perlu diterima.
Mahasiswa masa kini tidak kekurangan potensi. Yang sering kurang hanyalah ruang untuk bernapas—dan itu kebutuhan yang pantas dipenuhi.
