Psikologi Bukan Sekadar Tren: Risiko Self-Diagnosis Melalui Media Sosial TikTok

Aktivis Sosial dan Mahasiswi Psikologi di Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Annisa Indri Munahayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat ini, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan semata, melainkan juga telah menjadi “kelas instan” yang membahas berbagai isu kesehatan mental. TikTok, dengan algoritma yang menyesuaikan konten secara personal, menampilkan ribuan video yang membahas topik seperti kecemasan, depresi, ADHD, hingga gangguan bipolar. Format video yang singkat dan mudah dipahami membuat informasi tersebut terasa sederhana dan cepat dicerna oleh pengguna. Namun, kesederhanaan ini justru menimbulkan masalah serius, yaitu banyak orang mulai melakukan self-diagnosis hanya berdasarkan video berdurasi satu menit tanpa adanya verifikasi dari tenaga profesional.
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa fenomena ini benar-benar terjadi. Studi yang dilakukan oleh Wijaya dan rekan-rekannya (2024) menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental di kalangan remaja pengguna TikTok masih sangat rendah. Banyak dari mereka langsung mengaitkan gejala yang mereka lihat dalam video dengan kondisi diri sendiri, padahal tidak ada pemeriksaan atau diagnosa dari ahli kesehatan mental. Selain itu, ekspresi dramatis, musik yang melankolis, serta pilihan warna visual dalam konten tersebut dapat memperkuat sugesti bahwa penonton memang mengalami gangguan mental tertentu.
Bahaya yang Mengintai dari Self-Diagnosis
Melakukan self-diagnosis bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Studi yang dilakukan oleh Annury dan timnya (2022) di Universitas Negeri Surabaya mencatat dampak negatif yang nyata, seperti munculnya rasa takut yang berlebihan, kecemasan yang meluas, depresi, hingga kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Mahasiswa yang mengandalkan tes online atau konten singkat di media sosial sering kali salah dalam menafsirkan gejala yang mereka alami, sehingga meyakini bahwa mereka mengalami gangguan mental yang serius.
Beberapa dampak buruk yang sering terjadi antara lain:
Salah diagnosis: Misalnya, gejala kelelahan yang sebenarnya disebabkan oleh kurang tidur justru dianggap sebagai tanda depresi.
Penanganan yang salah: Ada yang mencoba mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter, yang tentu sangat berisiko bagi kesehatan.
Timbulnya masalah baru: Kesalahpahaman ini dapat memperburuk kondisi mental dan menimbulkan cyberchondria, yaitu kecemasan berlebihan akibat informasi yang diperoleh dari internet.
Mengapa Mudah Terjebak?
Ada beberapa faktor yang membuat remaja dan generasi muda rentan terjebak dalam self-diagnosis melalui media sosial, antara lain:
Kebutuhan akan jawaban cepat: Mereka ingin segera mengetahui penyebab perasaan cemas, sedih, atau sulit berkonsentrasi yang mereka alami.
Konten yang mudah dipahami dan relatable: Bahasa sehari-hari yang digunakan, ditambah dengan humor atau curhatan kreator konten, membuat penonton merasa bahwa kondisi yang dijelaskan sangat mirip dengan dirinya.
Algoritma yang memperkuat keyakinan: Semakin sering menonton konten serupa, semakin besar kemungkinan mereka percaya bahwa mereka memang mengalami gangguan yang sama.
Langkah-Langkah yang Dapat Dilakukan
Meskipun kesadaran diri (self-awareness) sangat penting, namun tidak seharusnya berhenti hanya pada tahap diagnosis sendiri. Informasi yang diperoleh dari TikTok atau situs online sebaiknya dijadikan sebagai pengetahuan awal, bukan kesimpulan akhir. Beberapa langkah yang lebih sehat dan bijak yang dapat dilakukan antara lain:
Mengkritisi informasi: Selalu periksa sumber informasi, apakah berasal dari tenaga profesional atau hanya sekadar konten hiburan.
Menggunakan literasi digital: Jangan langsung mempercayai informasi secara mentah-mentah, melainkan bandingkan dengan sumber resmi dan terpercaya.
Mencari bantuan ahli: Psikolog dan psikiater memiliki metode ilmiah yang tepat untuk mendiagnosis dan menangani gangguan mental, sehingga konsultasi dengan mereka sangat dianjurkan.
Psikologi bukanlah tren sesaat yang bisa dipahami hanya dari video singkat di media sosial. Kesehatan mental merupakan aspek yang sangat serius dan memerlukan penanganan profesional. Self-diagnosis mungkin memberikan rasa lega sementara karena merasa “mengerti diri sendiri”, tetapi risiko jangka panjangnya jauh lebih berbahaya.
Mengacu pada penelitian Wijaya dan rekan (2024) serta Annury dan tim (2022), fenomena ini muncul karena rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat, khususnya di kalangan remaja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih selektif dalam menggunakan media sosial sebagai sumber informasi. Gunakan media sosial sebagai sarana edukasi awal, namun jangan biarkan algoritma menggantikan peran psikolog dan tenaga kesehatan mental profesional. Kesehatan mental kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan hanya demi konten yang mudah dikonsumsi namun belum tentu akurat.
