Konten dari Pengguna

Finlandia dan Swedia Sepakat Bergabung ke NATO: Peluang atau Tantangan?

Annisa Khairiah

Annisa Khairiah

Mahasiswi S1 Hubungan Internasional, Universitas Andalas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Khairiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bendera Swedia dan Finlandia. (Foto: Shutterstock - 1785882764)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bendera Swedia dan Finlandia. (Foto: Shutterstock - 1785882764)

Pasca serangan yang dikerahkan Rusia kepada Ukraina pada Februari 2022 kemarin, negara-negara di sekitar kawasan Eropa berbondong-bondong dalam meningkatkan keamanannya, sebagai upaya untuk mempersenjatai negara atas agresi Rusia yang tentu mengkhawatirkan. Finlandia dan Swedia adalah sedikit dari banyaknya negara Eropa yang mengupayakan hal ini. Pada 12 Mei 2022 silam, Finlandia secara resmi mengutarakan keinginannya untuk bergabung dengan pakta pertahanan Atlantik Utara atau NATO. Mengikuti langkah tersebut, Swedia juga turut menunjukkan niatnya untuk bergabung dengan NATO, hal ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Swedia, Magdalena Andersson.

Langkah yang diambil oleh kedua negara Nordik tersebut sontak memancing berbagai jenis tanggapan. Parlemen Finlandia telah menyatakan dukungannya secara penuh untuk rencana ini. Namun, tanggapan serupa tidak diterima oleh Swedia, bahkan berbagai pihak menunjukkan keterkejutannya. Bagaimana tidak, Swedia dahulunya adalah negara yang enggan bergabung dengan pakta pertahanan seperti NATO, karena Partai Politik yang paling berkuasa di negara tersebut, Social Democratic Party, adalah pihak yang sangat menentang aksi tersebut.

Tanggapan tidak sedap juga datang dari Turki, sebagai salah satu negara yang berperan penting di NATO. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, menegaskan bahwa Swedia adalah sarangnya organisasi teroris. Hal ini disampaikan dengan alasan bahwa Swedia kerap menunjukkan sikap tidak transparan dan cenderung tertutup dalam dialog organisasi teroris. “Tak satu pun dari negara-negara ini memiliki sikap yang jelas dan terbuka terhadap organisasi teroris. Bagaimana kita bisa mempercayai mereka?”, ujar Erdoğan pada konferensi pers 13 Mei 2022.

Komentar pedas yang dilontarkan Erdoğan tentu didasari oleh alasan yang jelas. Merujuk pada salah satu sejarah terorisme di kawasan Eropa, baik Finlandia dan Swedia menunjukkan sikap enggan untuk memerangi aktivitas Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang merupakan gerakan pemberontakan di Turki untuk mendirikan negara sendiri di kawasan Tenggara Turki. PKK telah menunjukkan sikap separatisme untuk menentang kedaulatan Turki kala itu. Bahkan, Amerika Serikat telah menetapkan PKK sebagai salah satu kelompok teroris pada 1997, dan harus segera dilumpuhkan. Namun, Finlandia dan Swedia tidak pernah ikut dalam mendukung aksi ini, karena itulah indikasi terorisme di kedua negara ini patut dicurigai.

Secara tertulis, keanggotaan NATO ditentukan dari sistem demokrasi yang dianut negara-negara yang hendak bergabung, serta penilaian terhadap seberapa besar kontribusi negara tersebut dalam rencana dan aksi yang dibuat oleh NATO. Jika ditinjau berdasarkan syarat tertulis ini, Finlandia dan Swedia tentu saja sudah memenuhi kriteria. Baik Finlandia atau pun Swedia telah melakukan dialog intensif bersama anggota NATO terdahulu mengenai aspirasi dan reformasi yang ingin dilakukan oleh keduanya.

Namun, secara tidak tertulis, penerimaan anggota NATO haruslah disepakati oleh semua anggota terdahulu, dalam artian bahwa Turki juga harus ikut memberikan dukungannya pada Finlandia dan Swedia. Hal inilah yang menjadi kendala besar bagi kedua negara tersebut, karena Turki tidak hanya menuding Finlandia dan Swedia sebagai sarang dari aktivitas terorisme, Turki juga mengancam untuk memblokir segala aksesnya ke kedua negara Nordik tersebut.

Keinginan Finlandia dan Swedia untuk bergabung dengan NATO merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pakta pertahanan tersebut. Di satu sisi, dengan menerima Finlandia dan Swedia sebagai anggota tetap, NATO akan mendapatkan pengaruh dan kedudukan yang lebih kuat di kawasan Eropa, yang tentu saja dapat melemahkan posisi Rusia. Namun, hal ini juga dilihat sebagai tantangan, karena Turki sudah menentang rencana tersebut. Turki sebagai salah satu negara yang bersifat proaktif dalam berdinamika di NATO, ditakutkan akan menimbulkan ketegangan atau pun tendensi panas kepada NATO, yang dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas negara-negara anggota NATO lainnya.

Sumber:

Falk, By Thomas O. 2022. “How Long Will It Take for Finland and Sweden to Join NATO?” Al Jazeera (Mei): 1–15.

Lukov, Yaroslav, dan Matt Murphy. 2022. “Turkey Threatens to Block Finland and Sweden NATO Bids.” BBC News.

“NATO: Turkey Says Sweden, Finland Should Amend Laws If Needed.” 2022. Al Jazeera (Mei): 1–8.

Organization, North Atlantic Treaty. 2022. Finland and Sweden Submit Applications to Join NATO.

“Sweden, Finland Joining NATO Doesn’t Threaten Russia But May ‘Trigger’ Response – Putin.” 2022. The Moscow Times: 1–6.