Dari Konser ke Konflik: Menguatnya #SEAblings di Ruang Digital

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sriwijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Annisa Muthi Surna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perdebatan di platform X masih memanas setelah insiden dalam konser DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia. Awalnya, persoalan ini tampak sederhana: sejumlah penonton merasa terganggu oleh penggunaan kamera profesional berukuran besar yang dibawa beberapa fansite asal Korea. Kamera tersebut diangkat tinggi saat memotret, sehingga menutup pandangan penonton lain. Teguran sudah diberikan. Namun, teguran itu tidak diindahkan.
Masalah yang semula berkutat pada etika menonton konser dan kepatuhan terhadap aturan venue kemudian bergeser menjadi persoalan yang lebih luas. Keluhan yang diunggah ke media sosial memicu perdebatan lintas negara. Sebagian netizen Korea—yang kerap disebut Knetz—menanggapi kritik tersebut dengan nada defensif. Situasi semakin memburuk ketika muncul komentar bernada rasis yang menyasar masyarakat Asia Tenggara.
Di titik inilah persoalan berubah arah. Bukan lagi tentang kamera atau aturan konser, melainkan tentang harga diri dan identitas. Komentar yang menyentuh stereotip ekonomi dan fisik memantik kemarahan warganet Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan negara ASEAN lainnya. Respons itu kemudian terkonsolidasi dalam satu tagar: #SEAblings.
Tagar tersebut menjadi simbol solidaritas digital Asia Tenggara. Ia menunjukkan bahwa ruang maya tidak hanya menjadi arena konflik, tetapi juga ruang pembentukan identitas kolektif. Namun, di saat yang sama, perdebatan yang terus memanas memperlihatkan rapuhnya interaksi lintas budaya di media sosial. Sebuah tindakan individu di ruang konser mampu menjalar menjadi polemik regional karena diperkuat oleh sentimen dan emosi di dunia digital.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa etika, empati, dan kesadaran budaya tetap relevan, baik di ruang fisik maupun virtual. Jika tidak, persoalan kecil dapat dengan mudah berubah menjadi pertarungan identitas yang jauh lebih besar dari panggung tempat ia bermula.
