Konten dari Pengguna

CORTIS di Allo Bank Festival: Ketika FOMO dan Fangirling Bertemu di Satu Tempat

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Nailatul Izzah Yusriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih awalnya cuma lewat satu video di TikTok atau satu postingan di X, lalu tiba-tiba jadi hafal nama semua member grup yang sebelumnya bahkan nggak pernah didengar?

Fenomena itu tampaknya banyak dialami orang setelah CORTIS diumumkan tampil di Allo Bank Festival. Timeline media sosial langsung dipenuhi foto, fancam, edit video, hingga berbagai unggahan penggemar yang antusias menyambut kedatangan mereka ke Indonesia. Yang menarik, bukan hanya penggemar lama yang ikut meramaikan, tetapi juga banyak orang yang awalnya tidak mengenal CORTIS sama sekali.

Ilustrasi konser musik (Sumber: Roger Harris/Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi konser musik (Sumber: Roger Harris/Unsplash)

Awalnya mungkin hanya melihat satu postingan. Lalu muncul lagi video lain di FYP. Setelah itu teman mulai membahasnya di grup chat. Tidak lama kemudian, nama CORTIS terasa ada di mana-mana. Akhirnya rasa penasaran muncul, dan tanpa sadar kita ikut mencari tahu siapa mereka sebenarnya.

Foto member boy group Cortis (Sumber: Instagram @cortis) Diposting: 9 Juni 2026

Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial bekerja dalam membentuk tren budaya populer. Di era digital, sesuatu tidak harus terkenal terlebih dahulu untuk menjadi populer. Justru popularitas sering terbentuk karena banyak orang membicarakannya secara bersamaan dalam waktu yang sama.

Dalam teori komunikasi massa, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Teori Difusi Inovasi yang dikemukakan Everett Rogers. Teori ini menjelaskan bagaimana sebuah ide, tren, atau inovasi menyebar dari sekelompok kecil orang ke masyarakat yang lebih luas melalui proses komunikasi.

Dalam kasus CORTIS, penggemar lama dapat dianggap sebagai kelompok awal yang mengenalkan grup tersebut kepada orang lain. Melalui unggahan, video, dan diskusi di media sosial, informasi tentang CORTIS menyebar dengan sangat cepat. Semakin banyak orang yang membicarakannya, semakin besar pula rasa penasaran publik untuk ikut mengetahui dan akhirnya menjadi bagian dari tren tersebut.

Yang membuat proses ini semakin cepat adalah algoritma media sosial. Ketika banyak orang menyukai dan membagikan konten yang sama, platform akan terus merekomendasikannya kepada pengguna lain. Akibatnya, satu grup musik bisa muncul berulang kali di beranda seseorang hingga akhirnya terasa familiar.

Tidak semua orang yang membahas CORTIS adalah penggemar fanatik. Sebagian hanya penasaran, sebagian lagi terkena FOMO karena tidak ingin tertinggal topik yang sedang ramai diperbincangkan. Namun justru dari rasa penasaran dan FOMO inilah sebuah tren dapat berkembang menjadi fenomena yang lebih besar.

Pada akhirnya, fenomena CORTIS di Allo Bank Festival menunjukkan bahwa di era digital, perjalanan menjadi penggemar sering kali dimulai bukan dari konser atau album, melainkan dari satu video yang lewat di timeline. Dan ketika ribuan orang mengalami hal yang sama secara bersamaan, lahirlah sebuah fenomena budaya populer yang sulit diabaikan.