Ketika Belanja Menjadi Gaya Hidup: Konsumerisme di Era Media Sosial

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Annisa Nailatul Izzah Yusriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Pakai kode aku ya!", "Racun banget!", atau "Wajib punya sih ini!" adalah kalimat yang hampir setiap hari muncul di media sosial. Awalnya terdengar biasa saja, tetapi tanpa disadari, kalimat-kalimat tersebut telah menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat digital saat ini.
Media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi dan hiburan. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X telah berubah menjadi ruang pemasaran yang sangat efektif. Setiap hari pengguna disuguhkan berbagai rekomendasi produk, ulasan, tren, dan gaya hidup yang mendorong keinginan untuk membeli sesuatu. Akibatnya, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.
Fenomena ini menunjukkan meningkatnya perilaku konsumtif, yaitu kecenderungan membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan emosional, tren, atau pengaruh lingkungan sosial. Banyak orang membeli produk yang sebenarnya tidak diperlukan hanya karena takut tertinggal tren atau ingin mengikuti gaya hidup yang sedang populer.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Social Learning (Pembelajaran Sosial) yang dikemukakan Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa individu dapat mempelajari perilaku melalui proses mengamati dan meniru orang lain. Dalam konteks media sosial, influencer, selebritas, maupun content creator berperan sebagai model yang diamati oleh audiens. Ketika mereka menunjukkan kebiasaan membeli, mengoleksi, atau menggunakan suatu produk, pengikutnya cenderung terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Masalahnya, perilaku konsumtif yang terus-menerus dipertontonkan dapat menciptakan standar gaya hidup yang sulit dicapai oleh sebagian orang. Tidak sedikit individu yang akhirnya mengeluarkan uang di luar kemampuan finansialnya demi memenuhi ekspektasi sosial yang terbentuk di media digital. Bahkan, beberapa orang rela berutang atau menggunakan layanan paylater hanya untuk mengikuti tren yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa konsumsi merupakan bagian penting dari roda perekonomian. Namun, konsumsi yang sehat seharusnya didasarkan pada kebutuhan dan pertimbangan yang rasional, bukan semata-mata karena tekanan sosial atau dorongan untuk terlihat relevan di media sosial.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital dan kesadaran finansial. Kemampuan untuk berpikir kritis terhadap konten yang dikonsumsi menjadi penting agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh tren sesaat. Media sosial seharusnya menjadi sarana mencari informasi dan inspirasi, bukan ruang yang membuat seseorang merasa harus terus membeli demi mendapatkan pengakuan sosial.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah menahan diri untuk tidak melihat iklan atau rekomendasi produk, melainkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang benar-benar dibutuhkan dan apa yang hanya diinginkan. Sebab, tidak semua hal yang viral harus dimiliki.
