Konten dari Pengguna

Tak Bisa Berhenti Scroll: Fenomena Doom Scrolling di Era Digital

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Nailatul Izzah Yusriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, niatnya cuma mau buka TikTok atau X selama lima menit sebelum tidur, tapi tiba-tiba satu jam berlalu dan yang kamu lihat isinya berita buruk, drama internet, konflik, bencana, atau berbagai hal yang bikin cemas?

Ilustrasi fenomena doom scrolling (Sumber: Unsplash/Swello)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena doom scrolling (Sumber: Unsplash/Swello)

Kalau pernah, kemungkinan kamu sedang melakukan doom scrolling.

Doom scrolling adalah kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif di media sosial meskipun informasi tersebut membuat kita stres, khawatir, atau bahkan kelelahan secara mental. Anehnya, meski merasa tidak nyaman, banyak orang tetap melanjutkan scrolling tanpa sadar.

Ilustrasi dampak doom scrolling. (Sumber: Unsplash/Tim Gouw)

Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital. Setiap hari media sosial dipenuhi berbagai informasi yang datang tanpa henti. Ketika ada berita besar atau isu yang sedang viral, algoritma akan terus menampilkan konten serupa karena dianggap menarik perhatian pengguna. Akibatnya, seseorang bisa terjebak dalam lingkaran informasi yang sama selama berjam-jam.

Fenomena doom scrolling dapat dijelaskan melalui Teori Ketergantungan Media (Media Dependency Theory). Teori ini menjelaskan bahwa semakin seseorang bergantung pada media untuk memahami lingkungan sekitarnya, semakin besar pula pengaruh media terhadap pikiran, emosi, dan perilakunya.

Saat terjadi isu yang sedang ramai diperbincangkan, banyak orang merasa harus terus mengikuti perkembangan terbaru agar tidak ketinggalan informasi. Mereka terus membuka media sosial untuk mencari update, meskipun informasi yang diterima justru membuat mereka semakin cemas. Pada titik ini, media tidak lagi hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi sesuatu yang sulit dilepaskan.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang dikonsumsi, belum tentu seseorang merasa lebih tenang. Justru kebanyakan informasi dapat menimbulkan kelelahan mental. Kita merasa harus tahu semuanya, padahal tidak semua informasi memiliki dampak langsung terhadap kehidupan kita.