Ketika Tradisi Bertemu Medis Modern: Budaya Sasak dan Kesehatan

Mahasiswa Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mataram
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Annisa Nurul islami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cara seseorang menentukan pilihan ketika mengalami gangguan kesehatan dapat berbeda-beda. Ada masyarakat yang segera memperoleh pertolongan melalui puskesmas, klinik, maupun rumah sakit, sementara sebagian lainnya lebih memilih memanfaatkan tanaman obat, mengikuti anjuran keluarga, atau berkonsultasi dengan pengobat tradisional.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perilaku kesehatan tidak hanya terbentuk berdasarkan pemahaman mengenai ilmu medis, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya, kepercayaan, pengalaman, kemampuan ekonomi, serta interaksi sosial dalam lingkungan masyarakat.
Kondisi tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat Sasak di Lombok. Pengobatan tradisional masih menjadi salah satu bentuk pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Bagi sebagian masyarakat, pengobatan tradisional tidak sekadar dipandang sebagai cara untuk mengatasi penyakit, tetapi juga memiliki kaitan dengan identitas budaya, hubungan antarkeluarga, serta cara masyarakat memahami kehidupan. Oleh sebab itu, konsep sehat dan sakit tidak selalu dilihat hanya berdasarkan keadaan biologis tubuh, melainkan juga berkaitan dengan nilai budaya, keyakinan, dan pengalaman sosial yang dimiliki masyarakat.
Perkembangan pelayanan kesehatan modern yang disertai kemajuan teknologi digital turut memengaruhi cara masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan. Berbagai informasi tentang tanaman obat, pengobatan herbal, maupun pengalaman seseorang dalam menjalani pengobatan dapat dengan mudah ditemukan dan disebarluaskan melalui media sosial.
Di satu sisi, perkembangan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan dan mempertahankan pengetahuan budaya lokal. Namun, di sisi lain, terdapat risiko ketika informasi kesehatan yang belum memiliki dasar yang kuat diterima dan disebarkan tanpa melalui proses pemeriksaan. Oleh karena itu, keterkaitan antara budaya, perilaku kesehatan, dan kemampuan masyarakat dalam memahami informasi digital perlu mendapat perhatian secara kritis.
Budaya Sasak dalam Memahami Sehat dan Sakit
Budaya memiliki pengaruh terhadap bagaimana masyarakat memberikan arti terhadap kondisi sehat dan sakit. Kesehatan tidak hanya dapat dipahami sebagai keadaan tubuh yang terbebas dari gangguan penyakit, tetapi juga dapat dikaitkan dengan keseimbangan kehidupan, ketenteraman batin, hubungan dalam keluarga, serta kondisi lingkungan sosial. Sebaliknya, sakit tidak selalu dipandang semata-mata sebagai gangguan fisik, tetapi dalam konteks tertentu dapat dikaitkan dengan kepercayaan atau pemahaman yang berkembang di masyarakat.
Penelitian yang dilakukan Yamin, Burhanudin, Jamaluddin, dan Nasruddin mengenai pengobatan serta obat tradisional masyarakat Sasak di Lombok memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang berbagai penyakit, pemanfaatan bahan tumbuhan dan hewan, serta sejumlah teknik pengobatan. Pengetahuan tersebut menggambarkan adanya keterkaitan yang erat antara kesehatan, lingkungan alam, dan proses pewarisan budaya. Dengan demikian, pengetahuan mengenai pengobatan tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga berkembang berdasarkan pengalaman yang dimiliki masyarakat dari waktu ke waktu.
Keluarga memiliki peran penting dalam mempertahankan dan meneruskan pengetahuan kesehatan tersebut. Melalui orang tua maupun anggota keluarga lainnya, anak dapat mengenal tanaman yang digunakan sebagai obat, cara merawat anggota keluarga yang sedang sakit, serta kebiasaan dalam menentukan tempat memperoleh pengobatan. Pengalaman yang terus berulang dapat membentuk keyakinan seseorang terhadap suatu metode pengobatan. Karena itu, keputusan seseorang ketika mencari pertolongan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial dan budaya tempat ia tumbuh.
Pengobatan Tradisional dan Perilaku Masyarakat
Praktik pengobatan tradisional dalam masyarakat Sasak tidak hanya berkaitan dengan proses penyembuhan, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Ketika seseorang mengalami sakit, keluarga dan orang-orang di sekitarnya dapat memberikan rekomendasi mengenai tempat berobat ataupun cara yang dianggap sesuai. Selain itu, pengobat tradisional atau Belian dapat memiliki kedudukan tertentu di tengah masyarakat karena dipandang mempunyai pengetahuan yang diperoleh dan diwariskan dari generasi sebelumnya.
Penelitian Haliza, Hadi, dan Suhupawati mengenai keberadaan Belian Sasak di Kembang Sari, Lombok Timur, menunjukkan bahwa praktik pengobatan tradisional masih berlangsung meskipun pelayanan medis modern terus mengalami perkembangan. Keberadaan praktik tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kepercayaan yang berkembang dalam keluarga, warisan dari leluhur, pertimbangan mengenai biaya, serta keyakinan masyarakat terhadap kondisi penyakit tertentu. Hal ini memperlihatkan bahwa keputusan seseorang dalam mencari pengobatan dipengaruhi oleh berbagai aspek dan tidak hanya ditentukan oleh kemudahan akses menuju fasilitas kesehatan.
Meskipun pengobatan tradisional memiliki nilai budaya, penerapannya tetap perlu disertai pertimbangan yang rasional dan hati-hati. Bahan yang berasal dari alam tidak selalu berarti aman digunakan, sedangkan metode pengobatan yang diwariskan dari generasi sebelumnya belum tentu sesuai untuk setiap kondisi kesehatan. Penundaan pemeriksaan medis, penggunaan ramuan dengan takaran yang tidak jelas, ataupun menghentikan pengobatan medis tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menimbulkan risiko. Menghargai suatu budaya bukan berarti menerima seluruh praktik tanpa pertimbangan, tetapi memahami nilai yang terkandung di dalamnya sekaligus memperhatikan aspek keselamatan.
Dalam kondisi tertentu, pengobatan tradisional dan pelayanan medis modern dapat berjalan berdampingan apabila penggunaannya dilakukan secara aman dan tidak menghambat kebutuhan terhadap penanganan medis. Komunikasi antara masyarakat dan tenaga kesehatan menjadi salah satu hal penting agar pilihan pengobatan dapat dipahami berdasarkan informasi yang tepat. Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat tetap menghargai pengetahuan tradisional sekaligus memperoleh pertimbangan medis yang sesuai.
Budaya Lokal, Masyarakat Multikultural, dan Identitas Nasional
Indonesia dikenal sebagai negara dengan keberagaman suku, agama, bahasa, adat istiadat, serta sistem pengetahuan. Perbedaan masyarakat dalam memahami dan menangani persoalan kesehatan merupakan salah satu bentuk keberagaman tersebut. Dalam kehidupan masyarakat yang multikultural, setiap warga perlu memiliki sikap saling menghargai terhadap praktik budaya yang berbeda serta menghindari tindakan yang dapat merendahkan atau memberikan stigma terhadap kelompok tertentu.
Tradisi pengobatan masyarakat Sasak dapat dilihat sebagai bagian dari kekayaan identitas nasional karena mencerminkan keberadaan pengetahuan lokal yang berkembang di Indonesia. Identitas nasional tidak hanya terbentuk melalui simbol negara, bahasa, sejarah, dan kesenian, tetapi juga melalui berbagai praktik kehidupan yang berkembang dalam masyarakat. Pengetahuan mengenai tanaman obat dan keberadaan Belian merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang dapat dipelajari, dicatat, serta didokumentasikan.
Namun, upaya melestarikan budaya tetap membutuhkan pendekatan yang kritis. Apabila suatu praktik terbukti memiliki risiko terhadap kesehatan, praktik tersebut tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta pengetahuan masyarakat mengenai lingkungan tetap dapat diwariskan, sedangkan praktik yang berpotensi membahayakan perlu dikaji melalui penelitian dan edukasi. Dengan demikian, budaya lokal dapat terus berkembang tanpa harus ditempatkan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ilmu kesehatan modern.
Media Sosial dan Literasi Digital
Media sosial saat ini menjadi salah satu sarana yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan sekaligus menyebarkan berbagai informasi kesehatan. Informasi mengenai tanaman obat, pengalaman menggunakan pengobatan tradisional, maupun cerita mengenai keberhasilan suatu pengobatan dapat ditemukan dengan mudah melalui berbagai platform digital. Bagi masyarakat Sasak, perkembangan media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda dan masyarakat yang lebih luas.
Kemudahan dalam memperoleh dan membagikan informasi tersebut juga memiliki tantangan tersendiri. Pengalaman seseorang yang merasa mengalami kesembuhan setelah menggunakan suatu ramuan tidak secara otomatis membuktikan bahwa ramuan tersebut efektif dan aman bagi semua orang. Demikian pula, informasi yang disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan atau dikemas dalam video yang menarik belum tentu didukung oleh bukti ilmiah yang memadai.
Oleh karena itu, kemampuan literasi digital menjadi bagian penting dalam membentuk perilaku kesehatan yang bertanggung jawab. Masyarakat perlu memperhatikan asal informasi, mempertimbangkan kompetensi pembuat konten, membandingkan informasi yang diterima dengan sumber kesehatan yang terpercaya, serta tidak terburu-buru menyebarkan klaim kesehatan yang berlebihan. Literasi digital tidak berarti menghilangkan atau menolak keberadaan budaya tradisional, tetapi membantu masyarakat memahami dan menilai informasi mengenai budaya dan kesehatan secara lebih kritis.
Generasi muda dapat mengambil peran sebagai penghubung antara warisan budaya lokal dan perkembangan teknologi. Pengetahuan tradisional dapat diabadikan dalam bentuk digital dengan tetap memperhatikan hak dan penghormatan terhadap masyarakat yang memiliki pengetahuan tersebut. Penyajian konten mengenai budaya juga sebaiknya dilengkapi dengan penjelasan mengenai batas penggunaan, potensi risiko, serta anjuran untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dengan cara tersebut, media sosial tidak hanya menjadi alat untuk mempertahankan budaya, tetapi juga dapat digunakan sebagai media pendidikan kesehatan.
Tanggung Jawab Warga Negara dan Peran Negara
Dalam sudut pandang Pendidikan Kewarganegaraan, persoalan mengenai pengobatan tradisional berkaitan dengan beberapa aspek, antara lain hak memperoleh kesehatan, tanggung jawab sosial, kehidupan masyarakat multikultural, serta identitas nasional. Setiap warga negara mempunyai hak untuk memperoleh informasi dan pelayanan kesehatan yang layak. Pada saat yang sama, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan menghindari penyebaran informasi yang berpotensi merugikan orang lain.
Tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan melalui beberapa tindakan, seperti menghargai keberadaan budaya lokal, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, memeriksa kebenaran informasi kesehatan sebelum menyebarkannya, serta mencari bantuan tenaga profesional ketika menghadapi kondisi kesehatan yang serius. Masyarakat juga perlu menghindari perilaku merendahkan kelompok yang masih menggunakan pengobatan tradisional. Komunikasi dan dialog yang terbuka dapat menjadi pendekatan yang lebih konstruktif dibandingkan penolakan atau pemberian stigma.
Di sisi lain, negara memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan masyarakat. Peran tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan fasilitas kesehatan yang mudah diakses, meningkatkan pendidikan kesehatan, melindungi masyarakat dari informasi yang menyesatkan, serta mendukung penelitian mengenai pengobatan tradisional. Pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, tokoh masyarakat, dan pengobat tradisional dapat bekerja sama dalam mengembangkan pendekatan kesehatan yang mempertimbangkan kondisi serta budaya masyarakat setempat.
Pelayanan kesehatan yang memperhatikan latar belakang budaya dapat membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan perlu memberikan ruang bagi pasien untuk menyampaikan pengalaman dan keyakinannya, kemudian menjelaskan manfaat, risiko, serta pilihan penanganan dengan cara yang mudah dipahami. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima instruksi, tetapi juga dilibatkan sebagai mitra dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan kesehatan.
Penutup
Pertemuan antara tradisi dan perkembangan medis modern menunjukkan bahwa perilaku kesehatan masyarakat Sasak terbentuk melalui berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari budaya, keluarga, kepercayaan, lingkungan sosial, hingga perkembangan teknologi. Pengobatan tradisional merupakan bagian dari identitas budaya yang mempunyai nilai historis dan sosial. Meskipun demikian, penerapannya tetap perlu didukung oleh pengetahuan yang memadai serta pertimbangan terhadap keselamatan masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, penghormatan terhadap budaya perlu disertai kemampuan untuk bersikap kritis. Budaya lokal tidak harus ditempatkan berlawanan dengan perkembangan ilmu kesehatan modern. Keduanya dapat dipertemukan melalui komunikasi, penelitian, pendidikan, dan peningkatan literasi digital. Media sosial juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan budaya Sasak kepada masyarakat luas selama informasi yang disampaikan tidak mengandung klaim yang menyesatkan maupun berpotensi membahayakan.
Pada akhirnya, tanggung jawab sebagai warga negara tidak hanya diwujudkan melalui kepatuhan terhadap berbagai aturan, tetapi juga melalui kemampuan menjaga kesehatan, menghargai keberagaman budaya, menyaring informasi yang diterima, serta memperhatikan keselamatan orang lain. Tradisi dapat terus bertahan apabila diwariskan secara bijaksana, dikembangkan melalui penelitian, dan ditempatkan secara seimbang dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta tanggung jawab sosial masyarakat.
Daftar Referensi
Aini, R., Hamdi, S., Kusuma, N., & Nasrullah, A. (2021). Pengobatan tradisional Suku Sasak: Studi kasus pengobatan di Makam Keramat Yok Dasan Lekong, Lombok Timur, NTB. Religion, Culture, and State Journal, 1(1), 57–84.
Haliza, I., Hadi, M. S., & Suhupawati. (2024). Eksistensi Belian Sasak sebagai pengobatan alternatif tradisional di era kemajuan medis modern di Kembang Sari Lombok Timur. Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan, 10(4), 853–864. https://doi.org/10.29408/jhm.v10i4.36523
Husain, H., & Wahidah, B. F. (2018). Medicine from nature: Identification of medicinal plants used by belian (Sasakese indigenous healer) in traditional medicine in Lombok, West Nusa Tenggara, Indonesia. AIP Conference Proceedings, 2019, 050003. https://doi.org/10.1063/1.5061896
Yamin, M., Burhanudin, Jamaluddin, & Nasruddin. (2018). Pengobatan dan obat tradisional Suku Sasak di Lombok. Jurnal Biologi Tropis, 18(1), 1–12. https://doi.org/10.29303/jbt.v18i1.560
