Konten dari Pengguna

Fenomena Catcalling di Ruang Publik

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Ramadhany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Catcalling sebagai salah satu bentuk tindakan verbal atau non-verbal di ruang publik kini semakin menjadi perhatian karena dampaknya yang mengganggu batas kenyamanan personal individu. Di tengah meluasnya interaksi sosial di lingkungan kerja, institusi pendidikan, transportasi umum, hingga ranah digital, tindakan ini kerap kali memicu perdebatan mengenai batasan antara candaan spontan dan tindakan yang kurang pantas. Fenomena ini merupakan sebuah problem sosial yang berkaitan erat dengan cara masyarakat membangun persepsi komunikasi di ruang terbuka.

Menurut survei yang dilakukan oleh American Seal, ada 71% wanita di dunia pernah mengalami catcalling dan 53% diantaranya mendapat pelecehan secara fisik. Candaan jalanan yang mengganggu privasi ini sering sekali dijadikan bahan humor di film, media, atau obrolan sehari-hari. Akibat sering ditonton dan dilihat, nilai-nilai di masyarakat pun berubah sehingga tindakan tersebut tidak lagi dianggap salah. Dampaknya ketika ada pihak yang menyuarakan ketidaknyamanannya, respons pertama publik acap kali diikuti oleh penyangkalan, keraguan terhadap urgensi laporan, hingga tindakan menyalahkan korban (victim-blaming).

Jika dilihat dari ilmu komunikasi, kebiasaan menganggap wajar tindakan ini bisa dijelaskan melalui Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory). Teori ini menekankan bahwa sebagian besar perilaku manusia tidak muncul secara instingtif, melainkan diperoleh melalui proses mengamati dan meniru tindakan orang lain di lingkungan sekitar, termasuk representasi yang dihadirkan oleh media massa.

Melalui kacamata Teori Pembelajaran Sosial, tindakan catcalling merupakan bentuk perilaku yang dipelajari melalui pembiasaan sosial. Apabila media massa atau figur di lingkungan sosial menampilkan contoh perilaku di mana gurauan yang melanggar batas privasi dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, jenaka, dan bebas dari konsekuensi negatif, masyarakat secara tidak langsung akan menginternalisasi nilai tersebut. Proses peniruan ini menguat secara masif ketika lingkungan sekitar memberikan penguatan sosial yang keliru, seperti menganggap tindakan tersebut sebagai hiburan atau sekadar bentuk keakraban sekelompok sebaya.

Ilustrasi: "Stop Pelecehan Seksual!" (Sumber: Pribadi)

Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini tidak seharusnya dilakukan melalui konfrontasi yang memecah belah, melainkan dengan memperbaiki pola dalam proses pembelajaran sosial itu sendiri. Pendekatan yang lebih konstruktif dapat diupayakan melalui rekonstruksi konten-konten media dan peningkatan edukasi berbasis literasi komunikasi. Masyarakat perlu didorong untuk lebih bijak dan selektif dalam memilah serta menyaring informasi atau tontonan yang dikonsumsi sehari-hari.

Dengan mendorong hadirnya teladan komunikasi yang mengutamakan sikap saling menghormati dan menghargai privasi di area publik, akan menghasilkan proses peniruan baru yang lebih sehat bagi generasi mendatang. Pada akhirnya, membangun ruang yang aman dan nyaman bagi siapa saja merupakan tanggung jawab kolektif yang bisa dicapai apabila masyarakat memiliki kesadaran sistematis terhadap apa yang mereka pelajari dan praktikkan di kehidupan sehari-hari.