Mengapa ke Psikiater Masih Sering Dikaitkan dengan Hilang Akal?

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang dengan Program Studi Akuntansi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Annisa Salsabilla Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang di Indonesia masih merasa segan atau malu untuk pergi ke psikiater karena takut dicap sebagai orang "gila" atau dianggap "hilang akal". Padahal, psikiater adalah dokter spesialis yang menangani berbagai gangguan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, hingga skizofrenia. Stigma negatif ini masih kuat hingga hari ini dan menjadi hambatan besar bagi masyarakat yang sebenarnya membutuhkan bantuan profesional untuk sembuh.
Akar masalah dari stigma ini berawal dari kurangnya edukasi masyarakat tentang kesehatan mental dan perbedaan antara psikolog dengan psikiater. Banyak orang mengira bahwa semua orang yang berobat ke dokter jiwa pasti mengalami gangguan psikosis berat seperti halusinasi atau waham yang membuat mereka tidak sadar dengan lingkungan sekitar. Padahal, spektrum gangguan mental sangat luas dan sebagian besar penderitanya masih memiliki kesadaran penuh serta kemampuan berpikir yang baik, terutama setelah mendapat pengobatan yang tepat.
Generalisasi berlebihan juga menjadi penyebab utama. Masyarakat sering mengasosiasikan sakit jiwa dengan perilaku ekstrem seperti jalan telanjang di jalan, membahayakan orang lain, atau melamun tanpa kendali. Padahal, gangguan mental yang paling banyak dialami masyarakat justru depresi, gangguan kecemasan, stres berat, dan trauma yang tidak terlihat secara fisik namun sama seriusnya dengan penyakit fisik lainnya.
Stigma buruk ini berdampak sangat negatif karena menghambat pemulihan pasien. Banyak orang menunda berobat selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena malu atau takut dicap gila. Akibatnya, kondisi mental mereka semakin memburuk dan penanganan yang didapatkan menjadi kurang optimal. Kesadaran yang terlambat ini membuat proses penyembuhan lebih sulit dan lama dibandingkan jika pasien berobat sejak dini.
Psikiater sebenarnya adalah dokter yang telah menyelesaikan pendidikan kedokteran umum kemudian melanjutkan spesialisasi di bidang kesehatan mental dan gangguan jiwa. Mereka memahami anatomi otak, proses psikologis, dan mampu memberikan diagnosis yang tepat untuk gangguan kompleks seperti bipolar atau skizofrenia. Selain memberikan terapi bicara, psikiater juga bisa memberikan obat-obatan atau farmakoterapi yang sangat dibutuhkan oleh pasien dengan gangguan mental tertentu.
Orang harus ke psikiater ketika mengalami perasaan sedih berlebihan yang tidak kunjung hilang, emosi yang naik turun tanpa alasan jelas, mendengar suara yang tidak nyata, menarik diri dari lingkungan sosial, atau mengalami perubahan pola tidur dan makan yang drastis. Semua gejala ini adalah tanda bahwa pikiran dan otak membutuhkan bantuan profesional, sama seperti ketika tubuh mengalami sakit yang perlu ditangani dokter umum atau dokter spesialis lainnya.
Kementerian Kesehatan RI dan berbagai institusi kesehatan di Indonesia sedang gencar mengampanyekan bahwa kesehatan mental itu nyata dan sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan adalah orang yang mengalami gangguan fungsi mental, namun banyak di antaranya masih mampu menimbang baik atau buruknya tindakan setelah mendapat pengobatan yang tepat.
Berobat ke psikiater seharusnya dipandang sebagai tanda kepedulian terhadap diri sendiri dan keberanian untuk sembuh, bukan sebagai kelemahan atau aib. Banyak orang yang sudah berobat ke psikiater dan berhasil pulih membuktikan bahwa stigma "hilang akal" itu tidak benar. Mereka bisa kembali bekerja, bersekolah, berinteraksi sosial, dan menjalani hidup normal seperti sebelumnya.
Menghilangkan stigma negatif ini membutuhkan edukasi masif kepada masyarakat luas dan lebih banyak pengalaman positif dari mereka yang sudah berobat dan sembuh. Media massa, institusi pendidikan, pemimpin agama, dan tokoh masyarakat punya peran penting dalam menyebarkan informasi yang benar tentang kesehatan mental. Ketika semakin banyak orang yang terbuka tentang pengalaman mereka berobat ke psikiater, maka stigma akan perlahan-lahan berkurang.
Pada akhirnya, pergi ke psikiater bukan berarti kita hilang akal, tetapi justru menunjukkan bahwa kita sadar diri dan ingin hidup lebih baik. Kesehatan mental adalah bagian integral dari kesehatan keseluruhan yang tidak boleh diabaikan. Dengan memahami fakta sebenarnya tentang psikiater dan gangguan mental, masyarakat Indonesia bisa lebih mudah menerima bantuan profesional dan pada akhirnya hidup lebih sehat secara mental maupun fisik.
