Kepopuleran Bahasa Asing pada Produk Lokal

Mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas padjadjaran
Konten dari Pengguna
14 Oktober 2021 17:09
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Annisa Sucinurani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Perkembangan teknologi dan pasangnya arus globalisasi saat ini mempermudah masyarakat untuk mengakses segala macam informasi. Medium komunikasi yang bersifat tak terbatas pun membuat masyarakat bisa dengan mudah mengadopsi budaya-budaya asing. Salah satu contohnya adalah penggunaan bahasa asing yang sangat masif di tanah air.
ADVERTISEMENT
Namun pusaran pergaulan antar bangsa yang sangat kompleks ini membuat bangsa Indonesia harus bisa mempertahankan jati dirinya. Dewasa ini banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih menggunakan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris untuk digunakan sehari-hari.
Fenomena seperti ini dapat ditemukan dengan mudah di sekitar kita. Maraknya penggunaan bahasa asing pada produk dalam negeri adalah salah satu contohnya. Banyak produk lokal yang menggunakan bahasa asing sebagai nama produk, jargon, hingga iklannya. Mulai dari produk makanan, peralatan, hingga kosmetik. Tak jarang masyarakat pun tak sadar bahwa produk tersebut adalah produk asli milik Indonesia.
Ilustrasi produk-produk (Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi produk-produk (Pixabay)
Nyatanya, hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Presiden No. 63 tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia, yakni pada pasal 36 ayat 1 yang berbunyi “Bahasa Indonesia wajib digunakan pada nama lembaga usaha yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia”.
ADVERTISEMENT
Bukan tanpa alasan, tentunya peraturan tersebut dibuat semata-mata agar meningkatkan semangat penggunaan bahasa Indonesia. Sayangnya di kalangan masyarakat Indonesia sendiri, khususnya generasi muda telah beredar stigma bahwa menggunakan bahasa asing, seperti bahasa Inggris lebih keren daripada menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah.
Padahal jika ditelusuri lagi, bahasa Indonesia pun tak kalah keren. Bahasa kita ini sebenarnya sangat kaya, baik dari segi kosa kata maupun tata bahasanya. Namun sayangnya stigma tadi sudah tersebar di mana-mana. Akibatnya bahasa Inggris kini lebih mendominasi dan melahirkan kebanggaan tersendiri bagi siapa pun yang menggunakannya.
Kembali ke masalah utama soal populernya bahasa Asing pada produk-produk dalam negeri, akankah fenomena tersebut bisa menjadi ancaman pada lunturnya bahasa Indonesia di negeri ini? Karena bila dilihat dari segi bisnis, tentu para pemilik bisnis ingin mengembangkan usaha seluas-luasnya, dan penggunaan bahasa asing bisa menjadi salah satu faktor pendorongnya.
ADVERTISEMENT
Penggunaan bahasa asing pada produk-produk ini bisa menjadi strategi pemasaran yang cukup efektif. Selain untuk menarik hati para pembeli, penggunaan bahasa asing pun dianggap lebih universal, khususnya di ranah internasional. Hal tersebut tentu disesuaikan dengan target pasarnya. Bila ingin lebih mudah diterima di pasar global, tentu penggunaan bahasa Inggris akan menjadi langkah yang tepat.
Hal tersebut sudah bisa dibuktikan pada beberapa produk lokal yang telah berhasil melebarkan sayap dan menjadi populer dengan penggunaan nama dari bahasa asing. Meski begitu, hal ini tak dapat dijadikan pembenaran, karena alangkah lebih baik bila produk lokal tersebut dikenal di pasar internasional dengan merek berbahasa Indonesia.
Pengesahan perpres tentang kewajiban penggunaan bahasa Indonesia pada produk dagang lokal ini dirasa cukup logis untuk mengembalikan kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Bila kita lihat kenyataannya, cukup ironis bila produk asli buatan anak negeri malah tidak menggunakan bahasa Indonesia. Namun perlu adanya pengkajian ulang untuk merealisasikan peraturan tersebut, terlebih bila dilihat dari segi strategi bisnis.
ADVERTISEMENT
Para pemilik perusahaan bisnis pun hendaknya bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indonesia dengan terus menggunakan bahasa Indonesia pada produk-produknya. Jangan sampai fenomena populernya bahasa asing pada produk lokal ini malah semakin memperkuat stigma bahwa bahasa asing lebih keren daripada bahasa Indonesia.