Trik Mengatur Pos Keuangan Tanpa Kehilangan Kewarasan

Seorang mahasiswi akuntansi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang saat ini menduduki semester 2. Memiliki ketertarikan di bidang ekonomi khususnya keuangan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Annisa Rizky Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Berita terkini tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dikatakan sedang memuncak, namun dompet rasanya belum mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut. Tidak sedikit yang merasakan kondisi seperti ini, karena semua terlihat tidak pasti. Biaya kebutuhan yang kian meningkat, persaingan yang ketat dalam mencari pekerjaan, serta budaya flexing yang marak terjadi di media sosial membuat sebagian orang terbawa arus.
Menghadapi kondisi ini, istilah frugal living atau cara hidup hemat kembali populer. Sayangnya, masih banyak yang keliru terkait konsep tersebut. Mereka berpikir bahwa gaya hidup hemat berarti menyiksa diri sendiri dengan penghematan yang berlebihan alias menolak semua keinginan untuk bersenang-senang yang justru dapat merugikan kesehatan mental. Jadi, apa yang harus dilakukan agar keadaan finansial kita tetap terjaga tetapi kita tetap dapat menikmati hidup dengan bijak? Berikut adalah beberapa tips praktis yang dapat diterapkan:
1. Amankan Dana Darurat, Bukan Investasi Muluk
Saat ekonomi sedang tidak menentu, hal pertama yang harus dilakukan bukanlah bagaimana cara melipatgandakan uang dengan cepat melalui penanaman modal di saham atau kripto, melainkan bagaimana cara bertahan jika terjadi hal buruk misalnya kehilangan pendapatan atau pengeluaran mendadak.
Fokuslah membangun dana darurat secara perlahan namun konsisten. Mulailah dengan langkah sederhana, yakni dengan menyisihkan nominal kecil secara rutin di awal bulan. Tempatkan dana ini di rekening terpisah yang tidak memiliki fasilitas m-banking agar tidak mudah terpakai. Memiliki dana darurat yang cukup adalah kunci utama dari ketenangan pikiran.
2. Terapkan Metode Budgeting yang Fleksibel
Banyak orang gagal mengelola keuangan karena membuat aturan yang terlalu ketat untuk diri sendiri. Menggunakan metode klasik seperti 50/30/20 boleh saja, tetapi di tengah situasi saat ini, harus fleksibel dalam mengelola uang.
Jika biaya bahan pangan sedang melonjak, tidak masalah jika porsi tabungan berkurang sedikit demi mengamankan kebutuhan pokok. Yang terpenting adalah jujur dalam mencatat pengeluaran. Ketika pengeluaran tercatat dengan jelas, lebih mudah rasanya untuk mengerem pengeluaran yang tidak terlalu dibutuhkan.
3. Pangkas "Bocor Alus" Tanpa Kehilangan Hiburan
Frugal living yang waras tidak melarang kita untuk mencari hiburan. Kuncinya adalah menyiasati dengan cara yang tepat. Sering kali, keuangan tak terkendali terjadi akibat pengeluaran kecil yang dilakukan terus-menerus atau dikenal dengan sebutan “Bocor Alus” Contohnya:
• Langganan aplikasi streaming musik atau video yang jarang ditonton.
• Terlalu sering membeli kopi susu kekinian via aplikasi ojek online.
• Membeli barang diskonan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan hanya karena lapar mata atau FOMO belaka.
• Biaya administrasi dan ongkir ketika berbelanja online.
Solusinya? Berbagi akun langganan premium dengan teman, atau batasi jajan kopi menjadi seminggu sekali sebagai self-reward supaya rekening tetap aman dan terkendali.
4. Mulai Food Preparation untuk Menekan Biaya Konsumsi
Salah satu pengeluaran terbesar yang paling sering membengkak adalah makanan. Membeli makanan di luar adalah musuh utama dompet sehat. Cobalah meluangkan waktu di akhir pekan untuk melakukan food preparation yaitu dengan cara merencanakan menu dan memotong bahan makanan untuk satu minggu ke depan, lalu menyimpannya di kulkas. Hal ini tidak hanya membuat dompet sehat, tubuh juga akan merasakan dampak yang sama karena makanan menjadi jauh lebih higienis dan tentunya ampuh memotong anggaran makan hingga lebih dari separuh.
5. Jaga Jarak dari Tekanan Sosial dan Gengsi Digital
Di era digital, tantangan terbesar dari menjaga kewarasan finansial adalah lingkaran pertemanan di media sosial. Melihat orang lain liburan atau membeli barang baru sering kali memicu rasa cemas (FOMO).
Ingatlah bahwa apa yang tampil di layar kaca sering kali sudah disaring, dan kita tidak pernah tahu apakah gaya hidup tersebut dibiayai oleh utang atau paylater. Menolak ajakan nongkrong mahal di akhir pekan demi menjaga kesehatan dompet bukanlah hal yang memalukan. Sampaikan dengan jujur atau bisa juga menawarkan solusi alternatif hiburan lain yang lebih murah, seperti piknik di taman kota atau memasak bersama di rumah.
Kesimpulan
Pada akhirnya, frugal living bukanlah tentang seberapa pelit diri sendiri, melainkan tentang seberapa sadar dan bijak kita dalam mengendalikan uang. Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, menjadi fleksibel dan realistis adalah kunci. Saat kita mampu mengamankan pos keuangan tanpa mengorbankan kesehatan mental, di sanalah kita sedang membangun fondasi masa depan yang kokoh—tetap aman, tenang, dan yang terpenting, tetap waras.
