Konten dari Pengguna

Penggunaan Retorika dalam Adat Mappalili di Sulawesi Selatan

Annisa Asywa Fahrani

Annisa Asywa Fahrani

Mahasiswa Universitas Negeri Makassar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Asywa Fahrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagian masyrakat Sulawesi Selatan itu kehidupannya bertumpu pada pekerjaan bertani, itulah yang menjadikan ritual mappalili harus terus dilestarikan. Mappalili salah satu ritual yang penting dalam masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan.

Mappalili berasal dari kata palili yang artinya berkeliling dan arti kata Mappalili sebenarnya adalah pesta tanda dimulainya bertanam padi di sawah. Menurut etimologi, Mapalili atau Appalili berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan mengganggu ataupun menghancurkannya.

Mappalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyrakat. Upacara Mappalili dipimpin oleh bissu yang berperan sebagai pemangku adat.

Mappalili ini dilaksanakan oleh masyarakat dengan berkeliling kampung serta membawa rajang (benda pusaka bugis) sampai ke sawah yang akan dibajak. Upacara Mappalili selain sebagai ucapan terima kasih, juga sebagai doa yang mengandung harapan agar padi dan seluruh tanaman yang ditanam dapat berhasil dan jauh dari serangan hama ataupun gagal panen.

Masyarakat di Segeri mempercayai bahwa ritual upacara Mappalili sangat sakral untuk dilaksanakan terkhusus pada masyarakat Bontomate percaya bahwa tanpa adalnya upacara tersebut maka segala sesuatu yang diharapkan akan sirna terutama pada pertanian.

Mappalili diawali dengan ritual matteddu arajang (membangunkan benda pusaka), yang berupa alat bajak yang dulunya ditemukan melalui mimpi. Alat bajak ini merupakan turun dari langit dan ditemukan di gunung Lateangoro. Alat bajak ini tersusun dari kayu dan tidak memiliki sambungan. Ritual matteddu arajang diiringi dengan tabuhan gendang adat dan pembacaan mantra “Teddu’ka denra maningo. Gonjengnga’ denra mallettung. Mallettungnge ri Ale Luwu. Maningo ri Watang Mpare”.

Setelah itu dilanjutkan dengan pelaksanaan ritual pembersihan arajang lalu dibungkus kembali menggunakan kain putih dan diteruskan dengan ritual mattunu pelleng dan mallise walasuji. Gendang adat akan dimainkan semalaman sambil mengiringi prosesi mappamula tudang puang matoa marellau pammase dewata dalam ritual mattangga benni yang dipimpin oleh Puang Matoa Bissu (Pimpinan bissu). Setelah ritual ini, selanjutnya dilaksanakan prosesi maggiri oleh para bissu. Mereka akan menusukkan keris ke anggota badan mereka sambil menari dan melantunkan mantra dalam bahasa bugis kuno.

dokumen pribadi milik muh.sain

Pada hari pelaksanaan upacara Mapalili, arajang akan diarak keliling kampung dan menuju ketengah galung (sawah) khusus kerajaan (akarungeng) lalu disentuhkan ke tanah. Pada saat itu juga dilaksanakan ritual macera’ atau menyembelih ayam sebagai sebuah persembahan. Hal inilah yang menjadi aba-aba agar para petani mulai turun kesawah. Dalam perjalan pulang, rombongan arak-arakan akan menyiramkan air kepala setiap orang yang dilalui. Hal ini dinamakan prosesi makecce-kecce. Prosesi ini merupakan pengharapan agar hujan turun dengan lebat untuk memenuhi kebutuhan air para petani selama proses bertani.

Salah satu hal yang disorot dari upacara mappalili ini adalah kehadiran bissu sebagai pemimpin upacara. Bissu yang dianggap bersih atau suci, dipercayai mampu menghubungkan dunia nyata dan dunia para Dewata (Dewa). Selain itu, figur bissu sangatlah penting bagi kehidupan masyarakat terdahulu dikarenakan bissu merupakan penyambung lidah bagi raja untuk didengarkan segala perkataannya oleh rakyat yang dipimpinnya.

Penggunakan retorika pada adat Mappalili sangat di perlukan karena seperti yang kita ketahui bahwa retorika ialah sebuah ilmu dan seni dalam berbicara. Oleh karena itu penggunaannya pada mappalili tersebut terdapat pada orang yang berbicara dalam mappalili tersebut.

Misalnya, sebelum memasuki ritual mappalili terdapat kegiatan pertunjukan seni, seperti angngaru' orang yang angngaru' tersebut artikulasinya harus jelas dan memiliki kepercayaan diri berbicara di depan banyak orang agar orang yang mendengarnya dapat mendengar pesan-pesan yang disampaikan dengan jelas dan baik. Apa lagi pada saat angngaru' dilakukan orang yang berbicara bahasa Makassar.

Annisa Asywa Fahrani, Nur Annisa Maulina Natsir dan Cahaya Putri (Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Negeri Makassar): sumber dokumen pribadi.