Konten dari Pengguna

Guru, Disiplin, dan Luka yang Tak Terlihat

Annisa Intan Maharani

Annisa Intan Maharani

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Intan Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, saat saya sedang mengajar, saya menyadari ada satu siswa yang tidak hadir di kelas. Ketika saya tanya pada teman-temannya, mereka pun tidak tahu ke mana ia pergi.

Setengah jam kemudian, siswa itu masuk. Rambutnya berantakan, bajunya basah. Ia menunduk, tampak canggung. Setelah saya tanya, barulah saya tahu bahwa rambutnya baru saja dipotong oleh salah satu guru karena dianggap terlalu tebal.

Saya tidak mempersoalkan aturan tentang kerapian, sekolah memang punya standar. Tetapi, yang membuat saya heran ialah, mengapa sampai bajunya basah? haruskah mendisiplinkan siswa dilakukan dengan cara yang membuat mereka malu dan tidak nyaman?

Ilustrasi anak laki-laki yang duduk meringkuk di antara rak buku di perpustakaan, dengan ekspresi yang tampak sedih atau cemas. Sumber: Mikhail Nilov/Pexels

Disiplin yang Salah Arah

Kedisiplinan adalah nilai penting dalam pendidikan. Ia mengajarkan tanggung jawab, ketertiban, dan rasa hormat terhadap aturan. Akan tetapi, yang sering luput adalah bagaimana cara menanamkan nilai kedisiplinan?

Masih banyak sekolah yang memahami disiplin sebagai bentuk hukuman, bukan pembelajaran. Rambut panjang, seragam tidak rapi, atau datang terlambat sering dijadikan alasan untuk mempermalukan siswa di depan umum. Padahal, tujuan dari disiplin bukanlah menciptakan rasa takut, tetapi menumbuhkan kesadaran.

Disiplin yang dipaksakan melalui rasa malu hanya menumbuhkan kepatuhan semu, siswa memang diam, tetapi bukan karena mengerti, melainkan karena takut.

Luka yang Tak Terlihat

Setiap tindakan guru meninggalkan jejak di hati siswa. Bukan hanya pelajaran yang diingat, tetapi juga cara guru memperlakukan mereka. Luka batin yang muncul akibat cara mendisiplinkan yang keras sering kali tidak terlihat. Padahal, dampaknya dapat berlangsung lama, siswa dapat kehilangan rasa percaya diri, hingga takut berinteraksi dengan guru.

Ketika sekolah gagal membedakan antara menegakkan aturan dan mempermalukan, yang terluka bukan hanya siswa, melainkan juga makna pendidikan itu sendiri.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Guru tidak seharusnya menjadi penjaga ketertiban yang hanya berfokus pada pelanggaran, tetapi pendamping yang memahami alasan di balik perilaku siswa. Kedisiplinan tetap perlu, tapi harus berlandaskan empati. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya mendisiplinkan siswa, antara lain:

  • Memberikan teguran secara pribadi, bukan di depan kelas.

  • Menjelaskan alasan di balik aturan, agar siswa memahami, bukan hanya patuh.

  • Menggunakan pendekatan dialogis, bukan hukuman fisik atau verbal.

  • Membangun budaya reflektif di sekolah, di mana guru juga harus belajar dari tindakannya sendiri.

Dengan begitu, disiplin akan tumbuh sebagai kesadaran, bukan ketakutan.

Disiplin yang Mendidik

Mendidik tidak sama dengan menundukkan. Anak-anak tidak butuh guru yang ditakuti, melainkan guru yang dipercaya.

Disiplin sejati bukan tentang menegakkan aturan dengan kekuasaan, tetapi membimbing anak agar memahami arti tanggung jawab. Tugas pendidikan bukan mencetak anak yang takut melanggar, melainkan anak yang paham mengapa mereka harus berbuat benar.