News4 September 2018 11:34

Selingkuh dan Keuangan

Konten kiriman user
Suatu saat Anda ditugaskan untuk sebuah proyek kantor yang dikerjakan bersama dengan beberapa divisi lain. Proyek tersebut mengharuskan Anda bekerja dan terhubung dengan orang-orang di dalamnya secara intens. Namun satu orang menarik perhatian Anda. Dia pun juga bersikap terbuka dengan Anda.
ADVERTISEMENT
Awal mulanya memang hanya demi kepentingan kantor, namun perlahan-lahan urusan Anda dengannya bukan lagi hanya pekerjaan semata. Hati merasa senang jika melihat notifikasi chat darinya. Lalu semua seperti mengalir, dan Anda berdua sama-sama terjebak menginginkan satu sama lain, padahal Anda sudah punya pasangan (atau bahkan sudah menikah).
Hati-hati, perkara hati yang ini, bisa menghancurkan hidup Anda dari segi cinta dan keuangan. Keuangan? Kok bisa?
Selingkuh dan Keuangan (93961)
Ilustrasi pasangan yang tidak harmonis (Foto: Thinkstock)
Selingkuh bisa terjadi kepada siapa saja. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga bisa menjadi pelaku selingkuh. Studi yang dilakukan tahun 2011 dan dipublikasikan di jurnal Archives of Sexual Behavior menyatakan bahwa 23% laki-laki dan 19% perempuan mengaku berselingkuh dari pasangannya. Itu baru yang mengaku, bisa jadi angkanya lebih tinggi lagi karena ada orang yang tidak mengaku.
ADVERTISEMENT
Umumnya perselingkuhan terjadi di lingkungan dekat seperti di kantor, komunitas, di manapun saat Anda bertemu dan berinteraksi secara terus menerus dengan orang lain. Bahkan perselingkuhan juga bisa terjadi di dalam pernikahan yang bahagia.
Saat berselingkuh akan lebih menyenangkan dibandingkan dengan saat bersama dengan pasangan yang sekarang. Seperti orang jatuh cinta, terkadang logika menjadi tidak dipakai. Termasuk aspek keuangan. Anda bersedia mengeluarkan uang lebih untuk bersenang-senang bersama selingkuhan.
Otomatis ini akan mengurangi anggaran hiburan Anda dengan pasangan. Apabila intensitas pertemuan Anda dengan selingkuhan lebih sering daripada waktu bersama Anda dan pasangan, apalagi perselingkuhan terjadi di lingkungan kantor, Anda perlu waspada.
Memang jumlah pengeluaran setiap bersama tidak seberapa, namun lama kelamaan bisa mengarah ke jumlah yang lebih besar apabila Anda tidak mengelola perasaan Anda dengan benar.
ADVERTISEMENT
Jika selingkuhan mengetahui bahwa Anda sudah punya pasangan namun Anda tetap bersenang-senang dengannya, ada potensi Anda dimanfaatkan oleh selingkuhan, apalagi jika Anda enggan menolak atau selalu memberikan apa yang diinginkan selingkuhan.
Hubungan yang bisa jadi dianggap tidak ada ikatan ini bisa dilihat sebagai kesempatan untuk mendapatkan “lebih” secara keuangan. Tidak hanya barang-barang kebutuhan sekunder atau tersier yang sifatnya hiburan, tapi juga merambah ke kebutuhan primer seperti memberikan uang saku bulanan, menyediakan transportasi (antar-jemput atau menyediakan secara tunai), memberikan pulsa, membantu membayar KPR, bahkan membantu membayar utang.

Terkadang perceraian tidak hanya menghancurkan kehidupan cinta dan keuangan, tapi juga karier.

- -

Ekspektasi kesetiaan seumur hidup yang diucapkan saat menikah akan terbentur realita jika pasangan selingkuh. Kenyataannya perselingkuhan sangat mudah terjadi, sehingga pihak yang diselingkuhi akan hancur secara psikologis dan kehilangan kepercayaan, tidak hanya kepada pasangan tapi juga kepada diri sendiri.
ADVERTISEMENT
Dengan kondisi yang sudah sulit diperbaiki, jalan keluar pun diambil yaitu berpisah. Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung menyatakan bahwa berdasarkan data di tahun 2010 meskipun bukan alasan utama, selingkuh adalah alasan kedua yang memicu terjadinya perceraian.
Perceraian tentu saja akan berdampak lebih besar kepada keuangan dibandingkan perselingkuhan. Dampak buruk ini akan terjadi tidak hanya pada pelaku selingkuh tapi juga pasangannya yang menjadi korban selingkuh. Pada perceraian, ada banyak aspek keuangan yang perlu diperhatikan: biaya perceraian, pembagian harta gono-gini, pencairan aset, hilangnya penghasilan (apabila salah satu pihak tidak memiliki penghasilan), hak asuh anak, dan bagaimana bertahan hidup setelah perceraian terjadi.
Selama proses perceraian dan bahkan setelah proses selesai akan memakan banyak waktu, tenaga dan juga uang. Oleh karena itu, perceraian pun harus dipersiapkan dengan matang.
Selingkuh dan Keuangan (93962)
Ilustrasi perceraian (Foto: Flickr/Conner Lindamood)
Undang-undang Perkawinan No.1 tahun 1974 pasal 35 menyatakan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Terjadinya perceraian akan mengakibatkan seluruh harta perkawinan dibagi dua sama rata apabila tidak ada perjanjian pra nikah.
ADVERTISEMENT
Pembagian harga gono-gini ini tidak semudah yang dibayangkan. Apabila harta berbentuk aset bisa jadi harta tersebut harus dijual atau dicairkan terlebih dahulu sebelum dibagi dua. Belum lagi jika surat-surat aset dipegang oleh salah satu pihak dan pihak lain tidak bisa atau sulit mengaksesnya, atau bahkan sudah berpindah tangan ke selingkuhan.
Setelah perceraian terjadi pun, kedua belah pihak harus memulai lagi dari awal. Terkadang perceraian tidak hanya menghancurkan kehidupan cinta dan keuangan, tapi juga karier. Ada orang yang kariernya hancur ketika perselingkuhan terjadi karena pasangannya (korban perselingkuhan) melapor ke kantor pasangannya yang merupakan pelaku perselingkuhan.

Belum lagi bagi perempuan, stigma janda yang sudah terlanjur punya nilai buruk akan terus menghantui apalagi jika tidak ada pernikahan setelah pernikahan pertama kandas.

- -

ADVERTISEMENT
Apabila sudah terlanjur selingkuh, pertimbangkanlah hal-hal di atas agar Anda bisa membatasi diri saat ini, mumpung belum terlambat.
Studi tahun 2017 yang dipublikasikan di Journal of Sex Research mencatat jawaban para responden mengenai apa yang membuat mereka berhasil menahan diri terhadap godaan selingkuh. Alasan-alasan teratas adalah mereka memikirkan soal anak/efek selingkuh terhadap anak-anak mereka, ketakutan akan hidup sendiri nantinya, dan efeknya kepada orang lain (khususnya terhadap selingkuhan).
Orang-orang yang cenderung religius lebih memikirkan efek perselingkuhan terhadap orang lain, baik kepada anak-anak sendiri atau kepada selingkuhan. Sedangkan orang-orang sekuler menjawab bahwa mereka lebih takut akan hidup sendirian.
Nah, semoga hal-hal di atas bisa menjadi pertimbangan Anda sebelum melangkah lebih jauh masuk ke dalam perselingkuhan.
ADVERTISEMENT
Semoga bermanfaat.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white