Sastra bagi Kemajuan Bangsa

Richard Anselmus Poeh
Dosen di Universitas Pelita Harapan Tangerang
Konten dari Pengguna
11 April 2024 10:27 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Richard Anselmus Poeh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi buku. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buku. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Dalam lingkup akademik, pembelajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari tradisi sastra yang berkembang di negara-negara barat yang biasanya mencakup negara-negara Eropa, seperti Inggris dan negara Britania Raya lainnya, serta Amerika Utara, terutama Amerika Serikat. Tentu dapat didiskusikan lebih lanjut mengapa dan bagaimana hal ini dapat terjadi, termasuk ketika kita memberikan penilaian yang bernada negatif dengan mengungkit sejarah kolonialisme dari negara-negara besar tersebut yang dipandang berdampak pada apa yang dipelajari di dalam institusi pendidikan terkemuka.
ADVERTISEMENT
Dominasi kekuasaan politik dipandang menghasilkan dominasi materi pendidikan, termasuk bacaan apa yang harus dipelajari. Meskipun demikian, melihat fakta sejarah secara positif juga bukan hal yang tidak mungkin. Potensi penyimpangan dapat terjadi, namun hal yang baik tetap dapat ditemukan dalam perjalanan sejarah sastra di dunia. Kebijaksanaan manusia memainkan peranan penting di sini.
Kebijaksanaan itulah yang sekarang menghasilkan buah yang tidak hanya berdampak positif bagi negara-negara yang dulunya dikenal sebagai negara penjajah, dan negara penentu ilmu pengetahuan, namun juga negara-negara jajahan yang mendapatkan pengaruh dari penyebaran gagasan dan cara hidup para penjajah.
Adalah sebuah anugerah tersendiri manusia mampu melihat apa yang buruk di dalam dan di luar dirinya, lalu menggunakan pengetahuan reflektif kritis itu untuk membangun, melangkah ke arah yang lebih positif demi kemajuan dan kebahagiaan umat manusia. Dengan kata lain, berusaha menemukan kembali asal mula melalui setiap peristiwa yang terjadi di dalam sejarah.
ADVERTISEMENT

Stimulasi Literasi

Pengaruh pertama dari keberadaan sastra di dalam tradisi pendidikan adalah munculnya tradisi literasi yang dikembangkan oleh orang-orang barat yang sekarang, tidak terhindarkan, merambah ke seluruh dunia, ke setiap negara yang terbuka untuk menggunakan pengetahuan para penjajah itu demi perkembangan individu dan masyarakatnya masing-masing. Indonesia tidak terkecuali. Memang sejak dahulu Indonesia telah memiliki tulisan-tulisan kuno yang menginspirasi masyarakat untuk berjuang memahami dan mengembangkan kehidupan.
Akan tetapi tradisi akademik dari barat sedikit banyak membawa budaya tulisan dan lisan ke tingkat yang berbeda, memberikan elemen rasional ke dalamnya, sehingga dapat menjadi bahan kajian. Akibatnya, tidak heran sekarang sastra sudah menjadi bagian di dalam pendidikan di Indonesia, terlepas dari kekurangan yang masih bisa kita temukan dalam hal metode eksplorasi dan pengajaran.
ADVERTISEMENT
Minimal dalam pelajaran Bahasa, para murid diperkenalkan dengan karya-karya sastra yang terkenal dan berdampak, dan diajak untuk menyelami apa yang dapat dipetik dari pesan yang disampaikan oleh sebuah karya.
Ini adalah hal yang baik karena melakukan eksplorasi teks demi mendapatkan pesan merupakan aktivitas yang mengembangkan intelektualitas. Membaca teks dengan tujuan menemukan ide utama menuntut seseorang menyediakan waktu dan pikiran untuk memahami setiap kata, kalimat, dan paragraf dari teks tersebut. Ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan.
Ini adalah keterampilan yang perlu diasah, sebab ini adalah aktivitas yang mengaktifkan pikiran dengan menemukan keterkaitan ide adalah hal yang tidak secara alami dapat dilakukan oleh seorang manusia. Manusia terbiasa dengan keterampilan mendengarkan dan berbicara sejak usia muda, sedangkan keterampilan membaca dan menulis adalah skills yang kemudian perlu dibiasakan.
ADVERTISEMENT
Kemampuan literasi ini menjadi lebih kompleks ketika diperhadapkan dengan karya sastra yang dikenal menggunakan kata-kata, dan menyusunnya di luar kebiasaan, sehingga menuntut daya baca yang lebih dibandingkan ketika kita berhadapan dengan teks non-sastra. Bahasa yang dibuat aneh merupakan ciri karya sastra. Menghadapi teks semacam ini menuntut seseorang untuk menyediakan waktu dalam memproses pesan yang hendak disampaikan.
Ini karena setiap kata yang digunakan oleh penulis sebuah karya sastra, berpotensi memiliki makna yang beragam dan mendalam sehingga meminta pembaca untuk tidak bersegera beralih ke kata berikutnya. Bersedia memperlambat tempo demi pemahaman yang lebih utuh adalah latihan intelektual.

Aktivasi Imajinasi

Pada tahap berikutnya, ketika langkah dan jalur khusus terkait kata dan kalimat yang diambil oleh karya sastra mulai dapat dipahami, diikuti lalu dinikmati, maka imajinasi akan diaktifkan. Kata dan kalimat yang dipilih dan disatukan bertujuan untuk membentuk gambaran mengenai realita, yang hanya dapat ditangkap melalui imajinasi pembaca.
ADVERTISEMENT
Dengan menggunakan karakter binatang, misalnya, kisah yang disampaikan oleh Aesop memberikan deskripsi sekaligus preskripsi kepada para pembacanya yang adalah manusia. Imajinasi menghidupkan kehidupan dan cara hidup yang hendak ditampilkan dan disarankan. Karya sastra, menggunakan kata-kata dari Bret Lott, seorang profesor sastra Inggris dan penulis, mengkonfrontasi kita dengan pertanyaan siapa diri kita sebenarnya, dan membawa kita melihat secara mendalam kondisi kemanusiaan.
Imajinasi membantu hidupnya karya sastra di dalam masyarakat, karena imajinasi mendorong serta membangkitkan aspek eksistensial dari tulisan yang mampu menggerakkan pembaca, dan pada skala yang lebih luas, masyarakat.
Aspek imajinatif dari karya sastra inilah yang dengan indah akan membentuk argumen yang disajikan oleh penulis. Premis yang diajukan tidak hanya bersifat kognitif, namun juga praktis sehingga memiliki kekuatan penjelas yang lebih meyakinkan dalam mendukung kesimpulan yang hendak diajukan oleh penulis.
ADVERTISEMENT
Argumen yang logis dan menyentuh kehidupan adalah yang dibutuhkan oleh mereka yang hendak maju. Gagasan seharusnya tidak hanya solid secara bangunan logika, namun kering dalam hal penerapan; keputusan tidak semestinya hanya mempertimbangkan aspek emosi dan etiket manusia, tetapi ternyata penuh dengan kesesatan berpikir.
Karya sastra ketika dibaca dengan benar, akan membantu kita mengembangkan kebajikan praktis sebagaimana yang diajukan oleh Martha Nussbaum. Ini adalah posisi intelektual yang dapat membantu pertumbuhan individu, dan pada akhirnya masyarakat-negara. Ia membantu pembacanya memiliki ketajaman berpikir yang didampingi oleh kematangan emosi.
Bisa kita saksikan dalam sejarah pemikiran bahwa ada masa di mana sesuatu yang sifatnya mistis akhirnya disikapi dengan kritis, terutama ketika kita berbicara mengenai gambaran kehidupan dewa-dewi yang dianggap tidak masuk akal pada masa Yunani klasik. Cina, India, dan Yunani, paling tidak, sejak dulu terkenal dengan karya sastra dalam bentuk puisi yang mendampingi kepercayaan mereka kepada sesuatu yang sifatnya supranatural.
ADVERTISEMENT
Sikap kritis rasional ini tidak dengan tujuan menghilangkan diskusi mengenai yang supranatural, tetapi ini merupakan sikap intelektual terhadap klaim mengenai dunia supranatural dan natural yang mengandung aspek-aspek yang dapat dipertanyakan, serta keterbukaan untuk mengambil sikap sebagai konsekuensi dari kesimpulan dari sikap kritis tersebut menunjukkan jejak-jejak yang telah dilalui oleh masyarakat yang berkembang.
Sikap hormat dan kagum kepada yang supranatural diimbangi dengan penghargaan terhadap kemampuan berpikir. Keduanya rupanya ditemukan tidak saling berkontradiksi satu sama lain. Ini contoh kemajuan.
Sejarah negara Amerika Serikat, contohnya, penuh dengan hiruk-pikuk karya sastra sebagai pendamping propaganda, baik itu dari sisi pendukung integrasi dengan Britania, maupun penentangnya. Para pesohor pertama negara tersebut menggunakan karya sastra, menghasilkan karya sastra, dan mengkonsumsi karya sastra sebagai bagian dari perjuangan mereka menegakkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Sejarah negara kita juga tidak asing dengan tokoh-tokoh perjuangan masa awal kemerdekaan, yang menghargai karya sastra sebagai penggerak dan pemberi inspirasi lahirnya ide-ide besar kehidupan.
ADVERTISEMENT
Mengikuti sikap kritis dan keterbukaan akan perubahan ini, pada gilirannya memunculkan sebuah kebajikan praktis yang krusial dalam kehidupan yang disebut kerendahan hati. Membaca karya sastra membuat pembaca melihat perspektif yang acap kali belum pernah dilihat atau dipahami olehnya sebelumnya. Dunia yang berbeda, pergumulan yang asing, dapat mendorong kesadaran akan keterbatasan.
Pada akhirnya, membaca karya sastra tidak terhindarkan akan membawa mereka yang sungguh-sungguh, untuk mempelajari filsafat, teologi dan sejarah, bidang-bidang keilmuan pembentuk pemikiran bangsa. Untuk itu, tidak salah jika saya mendorong mereka yang hendak membuat perubahan bagi bangsa ini dalam level yang tidak hanya ekonomis belaka untuk mencemplungkan diri ke dalam karya sastra, menularkan kecintaan kepada karya sastra dan bidang-bidang ilmu yang menyertainya, demi bangsa yang berani berbicara mengenai kebenaran, penuh pengharapan akan keberadaan satu sama lain, dan melihat setiap kesempatan untuk bertumbuh menjadi individu yang dewasa, lalu pada gilirannya memiliki dorongan besar untuk membangun bangsa ini, betapapun besar harga yang harus dibayar.
ADVERTISEMENT
Sastra adalah salah satu institusi budaya yang dapat mempengaruhi cara hidup dari masyarakat. Oleh karena itu, jika kita hendak mengarahkan cara hidup dari bangsa ini ke arah yang dewasa secara emosional, intelektual, moral dan spiritual, maka sastra harus menjadi bagian yang natural dari dinamika bangsa ini, yang dapat dimulai dengan pembacaan individu yang rendah hati terhadap teks-teks sastra, yang kemudian mendorong munculnya publikasi dan diskusi mengenai ide-ide besar dalam sejarah peradaban manusia yang hendak dipertanyakan oleh karya-karya sastra tersebut.
Ini adalah usaha mencapai kebenaran sekaligus kebaikan dan keindahan tiga komponen esensial dalam hidup manusia. Dengan ini, wawasan dunia bangsa dapat terbentuk dan kiranya Tuhan berkenan memberikan atmosfer yang kondusif untuk bangsa ini menyikapi berbagai hal dengan sikap yang tidak tergesa-gesa, rendah hati, dan penuh kasih. Sebab karya sastra memiliki kemampuan itu; ia mampu menggugah pikiran, perasaan, dan akhirnya laku kita.
ADVERTISEMENT